Langsung ke konten utama

Edisi 35 Bebrayan Agung (Nrimo Ing Pandum)


Alhamdulillah sudah waktunya rutinan bulan Januari ini dilaksanakan. Bertempat di Base camp Rampak Osing di SMP Harapan jl. Mliwis No 29 Genteng. Cuaca cerah malam hari itu mendampingi melingkarnya dulur-dulur sambil ngopi, bercanda dan saling berespon dengan cerita-cerita yang ada. sambil menunggu beberapa dulur yang melingkar sebelum dimulai resmi rutinan bulan Januari tersebut. 
Pada malam hari itu melanjutkan tema pada edisi 34, Bebrayan Agung masih menjadi tema dengan spesifik ditambahkan menjadi Nrimo ing Pandum.


Di awali dengan Shalawat, Shohibu Baiti serta Wirid yang menandai acara secara resmi dimulai. dibimbing oleh mas Wawan pada malam hari itu. Selanjutnya di moderatori mas Yongki untuk mengalirkan bola-bola dan ide-ide yang bisa langsung direspon oleh dulur-dulur pada mlam hari itu. Prolog kemudian dibacakan untuk bisa didengarkan bersama, meskipun beberapa sudah mengakses lewat beberapa media sosial yang sudah di share sebelumnya yang di bacakan oleh mas Taufik.

Mas Wawan memberikan tambahan untuk diskusi malam hari itu. Manusia pada kesadaran wayang akan muncul Nrimo ing pandum, yang bisa dijabarkan dengan kita menerima apa saja yang telah di anugrahkan kepada kita, baik itu yang berupa nikmat maupun ujian dengan ikhlas.
Pak Aan menambahkan bahan untuk sinau pada malam hari itu, jika semua manusia itu adalah wayang dan dalangnya adalah Tuhan. Berarti tidak ada wayang yang bergerak sendiri, karena tidak ada wayang bergerak dengan sendirinya. Nrimo ing pandum itu sebenarnya adalah penekanan, yang bisa menilai adalah orang lain begitu menurut pak Aan.Ikhlas adalah benar ketika tidak diungkapkan ke orang lain, di lakoni dan di terima di hati masing-masing. Artinya senang atau kesal kita urusannya dengan diri kita masing-masing, bukan pada saat kita ungkapkan kepada orang lain. 
Mas Taufik memberikan prespektif berbeda untuk nambahi, bahwa mungkin disini lebih di dekatkan dengan aktor dan sutradara. Dimana skenario sudah dibautkan oleh sutradara, dan manusia menjadi aktrisnya. Beberapa dimungkinkan untuk ada tambahan atau improvisasi pada masing-masing bagiannya.  Manusia diberikan kemungkinan untuk meluaskan daya tampungnya, jika kita mampu untuk nggedekno wadah kita, maka semakin banyak pula yang bisa diterima. Tetapi jangan lupa untuk memilah dan memilih hal-hal yang baik menurut kita berdasarkan keyakinan kita terhadap yang diberikan-Nya.
Mas Barok melanjutkan untuk urun pada malam hari itu. Tidak ada yang terjadi dalam diri kita yang tidak dalam skenario Allah. Bahwa ada beberapa wayang yang mbalelo, itu sebenarnya juga masih dalam skenarioNya. 
Mas Yongki sedikit membeberkan lagi beberapa hal yang sudah disampaikan oleh dulur-dulur. Sambil ada contoh di sebuah pondok, alkisah ada seorang santri nakal. Pada suatu saat santri nakal tersebut mencuri sebuah barang dan ketahuan. maka di panggilah dia oleh lurah pondok. Ketika ditanyakan kenapa kok dia mencuri, santri menjawab bahwa itu adalah "kersane Gusti". Sempat terdiam beberapa saat, sebelum salah satu pengurus pondok memanggil santri tadi kemudian menamparnya. Maka santri tadi bertanya kenapa dia di tampar, maka jawabannya adalah persis yang dia sampaikan sebagai alasan kenapa dia mencuri, yaitu "kersane Gusti" (kehendak Allah).

Sementara dulur-dulur ribut masalah dalang dan wayangnya, saya dan mas Takim diskusi kayaknya enak dadi sing ndelok wayang ae yo kang. Ben dalange mlakokne wayange, awak ndewe menikmati lakone. (iklan hehehe)

Mas Wawan menambahkan saat kita sudah ada didalam kesadaran wayang ataukah dalam kesadaran dalang. Pola laku dan pemahaman akan berjalan ketika ketakutan yang kita hadapi sudah tertembus, maka pemahaman wayang dan pemahaman dalang akan terlihat semoga. dan teori ini tidak bisa dijelaskan, tetapi harus dilakoni dan dirasakan sendiri pada masing-masing diri.
Kita kalau menjadi manusia setelah Nrimo kita harus berbuat apa? Yang utama adalah cara kita setalah menerima itu tadi, mengolah apa yang sudah kita terima. begitu respon dari pak Aan.
dilanjutkan perkenalan untuk beberapa dulur yang barusan bergabung pertama kali di sinau bareng ini. Karena kita masih sangat mungkin menyapa satu-persatu yang hadir, maka tidak ada salahnya paseduluran ini supaya semakin erat kita saling mengenalkan diri. Dimana mereka setelah coba ditanya mengetahui acara sinau bareng ini dari salah satu medsos.
Acara sinau dan diskusi berlanjut samapi sekitar pukul 12 malam. Terselingi oleh break musik oleh beberapa penggiat yang sudah menyiaapkan beberapa lagu untuk dibawakan pada malam itu.
Akhirnya acara dipuncaki dengan doa yang di hantarkan oleh mas Taufik.
Alhamdulillah acara dapat terselenggara dengan lancar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...