Alhamdulillah sudah waktunya rutinan bulan Januari ini dilaksanakan. Bertempat di Base camp Rampak Osing di SMP Harapan jl. Mliwis No 29 Genteng. Cuaca cerah malam hari itu mendampingi melingkarnya dulur-dulur sambil ngopi, bercanda dan saling berespon dengan cerita-cerita yang ada. sambil menunggu beberapa dulur yang melingkar sebelum dimulai resmi rutinan bulan Januari tersebut.
Pada malam hari itu melanjutkan tema pada edisi 34, Bebrayan Agung masih menjadi tema dengan spesifik ditambahkan menjadi Nrimo ing Pandum.
Di awali dengan Shalawat, Shohibu Baiti serta Wirid yang menandai acara secara resmi dimulai. dibimbing oleh mas Wawan pada malam hari itu. Selanjutnya di moderatori mas Yongki untuk mengalirkan bola-bola dan ide-ide yang bisa langsung direspon oleh dulur-dulur pada mlam hari itu. Prolog kemudian dibacakan untuk bisa didengarkan bersama, meskipun beberapa sudah mengakses lewat beberapa media sosial yang sudah di share sebelumnya yang di bacakan oleh mas Taufik.
Mas Wawan memberikan tambahan untuk diskusi malam hari itu. Manusia pada kesadaran wayang akan muncul Nrimo ing pandum, yang bisa dijabarkan dengan kita menerima apa saja yang telah di anugrahkan kepada kita, baik itu yang berupa nikmat maupun ujian dengan ikhlas.
Pak Aan menambahkan bahan untuk sinau pada malam hari itu, jika semua manusia itu adalah wayang dan dalangnya adalah Tuhan. Berarti tidak ada wayang yang bergerak sendiri, karena tidak ada wayang bergerak dengan sendirinya. Nrimo ing pandum itu sebenarnya adalah penekanan, yang bisa menilai adalah orang lain begitu menurut pak Aan.Ikhlas adalah benar ketika tidak diungkapkan ke orang lain, di lakoni dan di terima di hati masing-masing. Artinya senang atau kesal kita urusannya dengan diri kita masing-masing, bukan pada saat kita ungkapkan kepada orang lain.
Mas Taufik memberikan prespektif berbeda untuk nambahi, bahwa mungkin disini lebih di dekatkan dengan aktor dan sutradara. Dimana skenario sudah dibautkan oleh sutradara, dan manusia menjadi aktrisnya. Beberapa dimungkinkan untuk ada tambahan atau improvisasi pada masing-masing bagiannya. Manusia diberikan kemungkinan untuk meluaskan daya tampungnya, jika kita mampu untuk nggedekno wadah kita, maka semakin banyak pula yang bisa diterima. Tetapi jangan lupa untuk memilah dan memilih hal-hal yang baik menurut kita berdasarkan keyakinan kita terhadap yang diberikan-Nya.
Mas Barok melanjutkan untuk urun pada malam hari itu. Tidak ada yang terjadi dalam diri kita yang tidak dalam skenario Allah. Bahwa ada beberapa wayang yang mbalelo, itu sebenarnya juga masih dalam skenarioNya.
Mas Yongki sedikit membeberkan lagi beberapa hal yang sudah disampaikan oleh dulur-dulur. Sambil ada contoh di sebuah pondok, alkisah ada seorang santri nakal. Pada suatu saat santri nakal tersebut mencuri sebuah barang dan ketahuan. maka di panggilah dia oleh lurah pondok. Ketika ditanyakan kenapa kok dia mencuri, santri menjawab bahwa itu adalah "kersane Gusti". Sempat terdiam beberapa saat, sebelum salah satu pengurus pondok memanggil santri tadi kemudian menamparnya. Maka santri tadi bertanya kenapa dia di tampar, maka jawabannya adalah persis yang dia sampaikan sebagai alasan kenapa dia mencuri, yaitu "kersane Gusti" (kehendak Allah).
Sementara dulur-dulur ribut masalah dalang dan wayangnya, saya dan mas Takim diskusi kayaknya enak dadi sing ndelok wayang ae yo kang. Ben dalange mlakokne wayange, awak ndewe menikmati lakone. (iklan hehehe)
Mas Wawan menambahkan saat kita sudah ada didalam kesadaran wayang ataukah dalam kesadaran dalang. Pola laku dan pemahaman akan berjalan ketika ketakutan yang kita hadapi sudah tertembus, maka pemahaman wayang dan pemahaman dalang akan terlihat semoga. dan teori ini tidak bisa dijelaskan, tetapi harus dilakoni dan dirasakan sendiri pada masing-masing diri.
Kita kalau menjadi manusia setelah Nrimo kita harus berbuat apa? Yang utama adalah cara kita setalah menerima itu tadi, mengolah apa yang sudah kita terima. begitu respon dari pak Aan.
dilanjutkan perkenalan untuk beberapa dulur yang barusan bergabung pertama kali di sinau bareng ini. Karena kita masih sangat mungkin menyapa satu-persatu yang hadir, maka tidak ada salahnya paseduluran ini supaya semakin erat kita saling mengenalkan diri. Dimana mereka setelah coba ditanya mengetahui acara sinau bareng ini dari salah satu medsos.
Acara sinau dan diskusi berlanjut samapi sekitar pukul 12 malam. Terselingi oleh break musik oleh beberapa penggiat yang sudah menyiaapkan beberapa lagu untuk dibawakan pada malam itu.
Akhirnya acara dipuncaki dengan doa yang di hantarkan oleh mas Taufik.
Alhamdulillah acara dapat terselenggara dengan lancar.





Komentar
Posting Komentar