Langsung ke konten utama

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta
16 April 2019
Di Basecamp Rampak Osing


Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu.
Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai, sambil menunggu dulu-dulur lain yang belum merapat karena pada malam hari itu juga ada beberapa yang menjadi panitia di TPS masing-masing lingkungan mereka.
Selepas jam 21.00 sudah mulai berdatangan dan sinau bareng segera di buka di moderator oleh mas Yongki dan selanjutnya pembacaan prolog oleh mas Wawan, acara sinau bareng pada malam hari itu dinulai dalam tema “Merangkai cinta untuk semesta”.

Mas Goafar menjelaskan tentang beberapa point tentang pemilihan tema pada sinau bareng ini. Pada  dasarnya apa yang di ambil sebagai tema dan tagline pada Logo Rampak Osing ini sebenarnya adalah masih dalam kesatuan. Bisa juga diartikan memang merupakan bagian dari “Membaca semesta menuju sempurna” dan juga sebaliknya. Jadi disini sama sekali bukan bermaksud menggantikan tagline, tetapi memposisikan dalam satu alur yang sama dari hal yang berbeda. Dalam cinta, diri kita harus lebih teliti apakah yang dirasakan itu cinta, nafsu, atau hanya kagum.
Mas Taufik memberikan gambaran lagi, dimana Cinta itu bisa dikatakan sebagai suasana sedangkan mencintai  adalah bagaimana kita merangkaikan  suasana itu tadi. Semisal, kita seing bertemu dengan teman kita. Kemudian beberapa waktu kedepan kita jarang bertemu, maka disana akan muncul rasa rindu karena sudah terbangun aliran cinta ketika bersama. Mencintai itu masalahnya dengan menghargai diri sendiri. Mengapresiasikan kepada orang lain itu adalah kelanjutan dari cinta diri sendiri.

Menambahkan bahan diskusi, Pak Aan yang tergelitik mengenai masalah cinta coba membuka definisi di Wikipedia yang di dapatkan arti sebagai berikut “Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi”. Lebih dicontohkan oleh pak Aan, seorang kekasih yang mengungkapkan rasa cinta itu keharusan meskipun hanya bualan. Itu untuk menjaga hubungan ketika masih dalam proses pendekatan (sebelum nikah). Tetapi saat sudah menikah, dan itu merupakan pembuktian tertinggi dari seorang lelaki ke pada seorang wanita, saat dia mengungkapkan cinta lagi, maka harusnya ungkapan cinta tersebut bukan hanya berupa kata-kata. Ungkapan cinta harusnya sudah berubah menjadi perbuatan langsung saat berada disekitar istrinya maupun jauh dari istrinya. Bukan lagi sekedar kata-kata “aku cinta padamu”.
Tak terasa acara melingkar sinau bareng malam hari itu sudah hampir menyentuh tengah malam. Karena beberapa dulur juga harus kembali ke tempat tugas TPS, maka segera acara sinau bareng secara resmi di puncaki dengan doa yang dihantarkan oleh mas Taufik.
Selanjutnya acara sinau dilanjut ke lingkaran yang lebih kecil sambil menikmati kopi dan ubo rampe yang tersedia pada malam hari itu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...