12 Mei 2018
Alhamdulillah, sudah waktunya
melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya
memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan
ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan
Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok
asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’
Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di
gelar di halanab depan Ndalem Kyai
Muksin.
Rangkaian acara sebenarnya sudah
berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang
kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari
ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak
tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang
merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, malam hari itu
diperjalankan bersama rombongan Grupnya
Kidung Syafaat.
Selepas magrib, team Kidung
Syafaat yang sudah megeset segala keperluan dan di rasa cukup mulai mencoba
sebuah cek sound dengan membawakan beberapa lagu yang sering juga dibawakan
oleh Kyai Kanjeng. Selepas isya’ mulai merapat jamaah sinau bareng.
Ada beberapa Kyai yang
diperjalankan untuk sinau bareng pada malam hari itu, dimana lain dengan
kebiasaan dan adat pengajian pada umumnya di daerah itu. Panggung yang tidak
terlalu tinggi menandai sinau bareng dengan jamaah yang duduk di depannya beralaskan
terpal yang sudah di sediakan oleh panitia. Al Ngadatul Muhakamah sebagai tema
yang di usung pada malam hari itu oleh panitia bersama penggiat Rampak Osing.
Kisaran pukul 21.00 mlam hari itu
acara dibuka oleh pembawa, Mas Nurdin yang juga penggiat Rampak osing kebetulan
juga mondok di Kyai Muksin. Di buka dengan sambutan dan bacaan Al Fatehah. Langsung beranjak ke acara berikutnya di
pandu dengan Kidung Syafaat dengan Sholawat Nariyah bersama dengan jamaah.
Pak Ilyas yang malam hari itu sudah berada di panggung membeberkan beberapa
landasan berfikir dengan memberikan contoh bahwa orang jawa itu lebih banyak
mendekatkan diri dengan cara bersyukur. Seorang sopir yang mengantarkan seorang
bule, di tengah perjalanan satu persatu ban meletus sampai ke ban terakhir di
tambah dengan as yang patah, si sopir mengucapkan hamdalah dan membuat sang
bule marah. Akhirnya si sopir menimpali masih untung bukan leher anda yang
patah. Bersyukur kita berada di Indonesia yang mana, pada malam hari itu kita
mengadakan pengajian berdampingan dekat tempat ibadah lain, bahkan di bantu
untuk merapikan tempat parkir sepeda motor. Saling menghormati adat dan
kepercayaan ini tidak mungkin ditemukan di negara lain, misalnya bahkan di Arab
Saudi pengajian tidak mungkin dilaksanakan dalam waktu lebih dari 2 jam.
Sambil di iringi lagu Rampak Osing Kyai Ashikin, Kyai Samsuri dan Kyai
Jainulah dari Pondok Pesantren Blokagung dan Kyai Muksin sebagai tuan rumah,
kepala desa dan perwakilan dari kecamatan naik ke panggung menemani Pak Ilyas
untuk bersama-sama sinau pada malam hari itu.
Pada malam hari itu, Kyai Ashikin berkenan menyampaikan beberapa hal yang
ada kaitan dengan puasa ramadhan yang sebentar lagi sampai di tahun 1439 H. Ada
beberapa orang yang celaka meskipun sudah melakukan kebaikan. Yang pertama
celaka orang muslim yang sampai di bulan ramadhan tetapi dosanya tidak diampuni
oleh Allah, Kedua celaka orang yang mendengar sebutan Muhammad tetapi tidak
bersholawat kepadanya, ketiga celaka orang yang masih mempunyai bapak dan ibu
atau salah satunya tetapi tidak bisa masuk surga.
Membeber untuk hal yang ketiga, karena masih banyak berkaitan dengan tema
yang diangkat, Kyai Ashikin yang merupakan seorang yang berasal dari Madura
bercerita suatu saat ada seorang santrinya yang mau ikut untuk ziarah ke wali
songo. Setelah mau berangkat, beliau bertanya kepada santrinya itu, “apakah
sudah berpamitan pada ibu dan bapaknya?”. Santrinya menjawab belum. Maka
seketika itu, diingatkan bahwa wali mu yang masih hidup itu ada di rumahmu.
Mintalah ijin kepadanya sebelum berangkat ziarah ke makam wali songo. Dalam adat
madura, seorang anak yang akan meninggalkan tanahnya yang beliau juga masih
melakukan yaitu meminta ijin sekaligus melewati kedua kaki ibundanya sebanyak
tiga kali. Dimaksudkan untuk memperoleh berkah dan ridho dari sang ibu. Karena
surga kita juga tergantung keridhoan orang tua kita, kira-kira seperti itu.
Untuk yang kedua orang tuanya sudah tilar ndunyo, perbanyaklah membaca istigfar
“astagfirullahaladzim liwali dayya warhamhuma robbayani soghiro”.
“Silahkan hidup ini mengambil keputusan apa saja, tetapi ingatlah suatu
saat kita akan mati dan kita harus mempertanggung jawabkan” dawuhe Kyai Jainulah. Sedikit tetapi cara menghayatinya
juga sangat mendalam.
Kyai Samuri juga urun sodaqoh sedikit tentang “remen”nya beliau mengikuti
pengajian dengan model sinau bareng seperti ini. Beliau juga menuturkan bahwa
senang sekali mengikuti dari televisi Suluk maleman Habib Anies dan Pak Ilyas
sering tampil juga urun rembug. Begitu bahagia bisa berinteraksi dalam
pengajian model sinau bareng ini.
Selepas poro Kyai dawuh, Pak Ilyas merespon beberapa hal untuk
menyeimbangkan cara pandang dari poro Kyai terhadap Pak Ilyas dan grup Kidung
Syafaat.
Waktu sudah beranjak lewat tengah malam, berganti hari. Tapi tak sedikit
pun jamaah yang ada beranjak dari tempatnya. Karena kebahagiaan ini juga
dirasakan dalam cinta kepada yang Maha Rohman Rohim. Bapak Sekcam juga sempat
memaparkan kondisi di Banyuwangi pada umumnya dan juga di Desa Barurejo pada
khususnya.
Di selingi satu lagu “Muhammadun Basyarun” dari Kidung Syafaat yang
mengelaborasikan gamelan Jawa, musik arab, dangdut, melayu dan beberapa lagi
untuk membawakan nomer itu.
Disambung sesi tanya jawab dari beberapa warga yang di respon setelahnya
oleh Kyai Ashikin tentang kandungan
surat Kulhu/ Al Ikhlas yang dibaca tiga kali sebanding dengan pahala membaca
khatam Mushaf. Ada Hadist yang menyampaikan bahwa membaca Al Ikhlas, dalam
Khitab Imam Muslim di Juz pertama. Al Ikhlas bermuatan Tauhid, murni berbicara
tentang Allah. Tetapi juga di beberkan bahwa setiap huruf Mushaf Al Qur’an
mempunyai muatan Khusuiyahnya dan Fadilahnya sendiri.
Lek Ham, yang pada malam itu juga alhamdulillah diperjalankan bersama
beberapa teman dari Lumajang juga ikut menyampaikan beberapa hal dalam ngaji
bareng malam hari itu. Dalam hal ini Lek Ham mengingatkan untuk menyapa Kanjeng
Nabi dan Allah melalui shalawat bersama jamaah yang di iringi oleh Kidung
Syafaat.
Alhamdulillah... Wassyukrulillah...
Alhamdulillah... Wassyukrulillah...
Azka sholati wasalami Lirosulillah..
Azka sholati wasalami Lirosulillah..
Dilanjutkan dengan melantunkan Khotmil Qur’an bersama jamaah di iringi oleh
Kidung Syafaat..
Selanjutnya Lek Ham ngonceki ada tingkatan Kebenaran, kebenaran sendiri ada
kebenaran sendiri kebenaran kelompok dan kebenaran yang Sejati. Kemudian yang
kedua adalah Indah yang merupakan wilayah kebudayaan, terakhir baik yang juga
merupakan wilayah agama di respon oleh Pak Ilyas.
Diselingi dengan lantunan Sholatuminallah bersama jamaah kemudian beliau
menyambung untuk mengingatkan kita semua untuk “niteni awake dewe sek” untuk
bisa memperbaiki hal-hal yang lebih besar.
Kyai Muksin menyampaikan beberapa hal tentang penyampaian sinau bareng ini sangat
sesuai dengan kehidupan yang ada di desa-desa yang masih menjunjung tinggi
kebersamaan. Tidak memilah milah jamaah yang mengikuti dengan kostum apapun,
tidak harus seragam. Yang sudah baik atau pun masih mencari, semua di kancani.
Acara terus mengalir semakin mesra, berdialog dengan penuh kegembiraan
antara jamaah dan yang ada di panggung maupun sesama yang ada di panggung.
Sampai dengan satu nomer lagu dari Roma Irama sebuah nomer Perjuangan dan Doa.
Lagu tersebut juga memuncaki acara hari itu, sebagai penutup Pak Ilyas memohon
pamit dan menyampaikan maaf apabila ada yang kurang berkenan, selanjutnya memandu
untuk Al Fatehah agar selalu dalam Syafaat Kanjeng Nabi Muhammad.
Selepas itu, beberapa penggiat beramah-tamah di Ndalem Kyai Muksin bersama
Lek Ham dan teman-teman dari Lumajang. Menjelang hampir pukul 3, sesi
berpamitan bersamaan dengan P Ilyas mohon diri untuk kembali melanjutkan
perjalanan pulang ke Salatiga.
Beberapa penggiat, menuju di base camp bersama Lek Ham yang berada di kota
Genteng. Selanjutnya masih berlangsung ngopi bareng pada hari minggu untuk
gesah dan saling menukar pengetahuan untuk mencari yang sejati dalam diri.
Semoga barokah ilmu yang telah disampaikan dan dapat lebih diselami
maknannya.







Komentar
Posting Komentar