Langsung ke konten utama

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah




12 Mei 2018


Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem  Kyai Muksin.
Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, malam hari itu diperjalankan bersama rombongan Grupnya Kidung Syafaat.
Selepas magrib, team Kidung Syafaat yang sudah megeset segala keperluan dan di rasa cukup mulai mencoba sebuah cek sound dengan membawakan beberapa lagu yang sering juga dibawakan oleh Kyai Kanjeng. Selepas isya’ mulai merapat jamaah sinau bareng.
Ada beberapa Kyai yang diperjalankan untuk sinau bareng pada malam hari itu, dimana lain dengan kebiasaan dan adat pengajian pada umumnya di daerah itu. Panggung yang tidak terlalu tinggi menandai sinau bareng dengan jamaah yang duduk di depannya beralaskan terpal yang sudah di sediakan oleh panitia. Al Ngadatul Muhakamah sebagai tema yang di usung pada malam hari itu oleh panitia bersama penggiat Rampak Osing.
Kisaran pukul 21.00 mlam hari itu acara dibuka oleh pembawa, Mas Nurdin yang juga penggiat Rampak osing kebetulan juga mondok di Kyai Muksin. Di buka dengan sambutan dan bacaan Al Fatehah. Langsung beranjak ke acara berikutnya di pandu dengan Kidung Syafaat dengan Sholawat Nariyah bersama dengan jamaah.

Pak Ilyas yang malam hari itu sudah berada di panggung membeberkan beberapa landasan berfikir dengan memberikan contoh bahwa orang jawa itu lebih banyak mendekatkan diri dengan cara bersyukur. Seorang sopir yang mengantarkan seorang bule, di tengah perjalanan satu persatu ban meletus sampai ke ban terakhir di tambah dengan as yang patah, si sopir mengucapkan hamdalah dan membuat sang bule marah. Akhirnya si sopir menimpali masih untung bukan leher anda yang patah. Bersyukur kita berada di Indonesia yang mana, pada malam hari itu kita mengadakan pengajian berdampingan dekat tempat ibadah lain, bahkan di bantu untuk merapikan tempat parkir sepeda motor. Saling menghormati adat dan kepercayaan ini tidak mungkin ditemukan di negara lain, misalnya bahkan di Arab Saudi pengajian tidak mungkin dilaksanakan dalam waktu lebih dari 2 jam. 

Sambil di iringi lagu Rampak Osing Kyai Ashikin, Kyai Samsuri dan Kyai Jainulah dari Pondok Pesantren Blokagung dan Kyai Muksin sebagai tuan rumah, kepala desa dan perwakilan dari kecamatan naik ke panggung menemani Pak Ilyas untuk bersama-sama sinau pada malam hari itu.
Pada malam hari itu, Kyai Ashikin berkenan menyampaikan beberapa hal yang ada kaitan dengan puasa ramadhan yang sebentar lagi sampai di tahun 1439 H. Ada beberapa orang yang celaka meskipun sudah melakukan kebaikan. Yang pertama celaka orang muslim yang sampai di bulan ramadhan tetapi dosanya tidak diampuni oleh Allah, Kedua celaka orang yang mendengar sebutan Muhammad tetapi tidak bersholawat kepadanya, ketiga celaka orang yang masih mempunyai bapak dan ibu atau salah satunya tetapi tidak bisa masuk surga. 

Membeber untuk hal yang ketiga, karena masih banyak berkaitan dengan tema yang diangkat, Kyai Ashikin yang merupakan seorang yang berasal dari Madura bercerita suatu saat ada seorang santrinya yang mau ikut untuk ziarah ke wali songo. Setelah mau berangkat, beliau bertanya kepada santrinya itu, “apakah sudah berpamitan pada ibu dan bapaknya?”. Santrinya menjawab belum. Maka seketika itu, diingatkan bahwa wali mu yang masih hidup itu ada di rumahmu. Mintalah ijin kepadanya sebelum berangkat ziarah ke makam wali songo. Dalam adat madura, seorang anak yang akan meninggalkan tanahnya yang beliau juga masih melakukan yaitu meminta ijin sekaligus melewati kedua kaki ibundanya sebanyak tiga kali. Dimaksudkan untuk memperoleh berkah dan ridho dari sang ibu. Karena surga kita juga tergantung keridhoan orang tua kita, kira-kira seperti itu. Untuk yang kedua orang tuanya sudah tilar ndunyo, perbanyaklah membaca istigfar “astagfirullahaladzim liwali dayya warhamhuma robbayani soghiro”.
“Silahkan hidup ini mengambil keputusan apa saja, tetapi ingatlah suatu saat kita akan mati dan kita harus mempertanggung jawabkan” dawuhe Kyai  Jainulah. Sedikit tetapi cara menghayatinya juga sangat mendalam.
Kyai Samuri juga urun sodaqoh sedikit tentang “remen”nya beliau mengikuti pengajian dengan model sinau bareng seperti ini. Beliau juga menuturkan bahwa senang sekali mengikuti dari televisi Suluk maleman Habib Anies dan Pak Ilyas sering tampil juga urun rembug. Begitu bahagia bisa berinteraksi dalam pengajian model sinau bareng ini.
Selepas poro Kyai dawuh, Pak Ilyas merespon beberapa hal untuk menyeimbangkan cara pandang dari poro Kyai terhadap Pak Ilyas dan grup Kidung Syafaat.
Waktu sudah beranjak lewat tengah malam, berganti hari. Tapi tak sedikit pun jamaah yang ada beranjak dari tempatnya. Karena kebahagiaan ini juga dirasakan dalam cinta kepada yang Maha Rohman Rohim. Bapak Sekcam juga sempat memaparkan kondisi di Banyuwangi pada umumnya dan juga di Desa Barurejo pada khususnya.
Di selingi satu lagu “Muhammadun Basyarun” dari Kidung Syafaat yang mengelaborasikan gamelan Jawa, musik arab, dangdut, melayu dan beberapa lagi untuk membawakan nomer itu.
Disambung sesi tanya jawab dari beberapa warga yang di respon setelahnya oleh Kyai Ashikin tentang  kandungan surat Kulhu/ Al Ikhlas yang dibaca tiga kali sebanding dengan pahala membaca khatam Mushaf. Ada Hadist yang menyampaikan bahwa membaca Al Ikhlas, dalam Khitab Imam Muslim di Juz pertama. Al Ikhlas bermuatan Tauhid, murni berbicara tentang Allah. Tetapi juga di beberkan bahwa setiap huruf Mushaf Al Qur’an mempunyai muatan Khusuiyahnya dan Fadilahnya sendiri.
Lek Ham, yang pada malam itu juga alhamdulillah diperjalankan bersama beberapa teman dari Lumajang juga ikut menyampaikan beberapa hal dalam ngaji bareng malam hari itu. Dalam hal ini Lek Ham mengingatkan untuk menyapa Kanjeng Nabi dan Allah melalui shalawat bersama jamaah yang di iringi oleh Kidung Syafaat.
Alhamdulillah... Wassyukrulillah...
Alhamdulillah... Wassyukrulillah...
Azka sholati wasalami Lirosulillah..
Azka sholati wasalami Lirosulillah..
Dilanjutkan dengan melantunkan Khotmil Qur’an bersama jamaah di iringi oleh Kidung Syafaat..
Selanjutnya Lek Ham ngonceki ada tingkatan Kebenaran, kebenaran sendiri ada kebenaran sendiri kebenaran kelompok dan kebenaran yang Sejati. Kemudian yang kedua adalah Indah yang merupakan wilayah kebudayaan, terakhir baik yang juga merupakan wilayah agama di respon oleh Pak Ilyas.
Diselingi dengan lantunan Sholatuminallah bersama jamaah kemudian beliau menyambung untuk mengingatkan kita semua untuk “niteni awake dewe sek” untuk bisa memperbaiki hal-hal yang lebih besar.
Kyai Muksin menyampaikan beberapa hal tentang penyampaian sinau bareng ini sangat sesuai dengan kehidupan yang ada di desa-desa yang masih menjunjung tinggi kebersamaan. Tidak memilah milah jamaah yang mengikuti dengan kostum apapun, tidak harus seragam. Yang sudah baik atau pun masih mencari, semua di kancani.
Acara terus mengalir semakin mesra, berdialog dengan penuh kegembiraan antara jamaah dan yang ada di panggung maupun sesama yang ada di panggung. Sampai dengan satu nomer lagu dari Roma Irama sebuah nomer Perjuangan dan Doa. Lagu tersebut juga memuncaki acara hari itu, sebagai penutup Pak Ilyas memohon pamit dan menyampaikan maaf apabila ada yang kurang berkenan, selanjutnya memandu untuk Al Fatehah agar selalu dalam Syafaat Kanjeng Nabi Muhammad.
Selepas itu, beberapa penggiat beramah-tamah di Ndalem Kyai Muksin bersama Lek Ham dan teman-teman dari Lumajang. Menjelang hampir pukul 3, sesi berpamitan bersamaan dengan P Ilyas mohon diri untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Salatiga.

Beberapa penggiat, menuju di base camp bersama Lek Ham yang berada di kota Genteng. Selanjutnya masih berlangsung ngopi bareng pada hari minggu untuk gesah dan saling menukar pengetahuan untuk mencari yang sejati dalam diri.


Semoga barokah ilmu yang telah disampaikan dan dapat lebih diselami maknannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...