Menjelang pukul 20.00 sederek
sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas
Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam
hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema
Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi.
Ada sedikit rasa penasaran
melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk
itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut.
Merespon pertanyaan yang saya
lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air
yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk
beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan
langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan
yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju
candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terdapat pada candid an keterangan
dari seorang yang berada disana. Didapatkan informasi sekilas bahwa dari
percakapan dengan seorang tadi itu, bahwa Borobudur sekarang sedikit miring ke
selatan. Dimana data tersebut berasal dari Kasun Karangrejo yang menurut
informasinya juga merupakan juru kuncinya. Jika benar Borobudur itu teratai
yang langsung kontak dengan air di bawahnya, ada kemungkinan jika Borobudur ambles,
maka bisa jadi air yang berada di bawahnya akan naik keatas semacam sumber air yang
muncrat keatas.
Ada kisah yang disampaikan terkait
dengan Garuda, dimana akibat taruhan yang dilakukan akhirnya sang garuda di
posisikan menjadi kalah sehingga harus menanggung kekalahannya meskipun
sebenarnya dalam pertaruhan tersebut, jika dilakukan dengan adil maka hasilnya
akan terbalik.
Pak Aan menambahkan sendang itu
merupakan sumber alami. Disini sumber ini bisa dhohir bisa bathin. Bahwa air
bisa digunakan sebagai sarana mensucikan diri, mengobati atau bahkan bisa
sebaliknya. Kalau di teliti, manusia yang minum saja tanpa makan, akan bisa
bertahan 20 hari, bisa air susu atau air yang lain. Dan kalau manusia makan
saja tanpa minum, kisaran 2 hari manusia bisa jadi mengalami kematian. Kalau dilihat
dari sisi bathin, sendang itu adalah ilmu. Kita juga dulunya ada jasa dari air.Sejarah yang berlaku adalah
masing-masing individu. Menangkap pesan juga tidak harus menghafalkan sejarah. Pak
Aan mengajak merenungi, bahwa sudah banyak buku yang kita baca, banyak pula tempat
kita datangi. Tetapi kapan kita bisa melihat jiwa kita ? kapan kita harus
mendatangi hati kita ? kalau kita tidak mencoba memproses segala sesuatu /
otak-atik gathuk kalau menurut adat jawa, kita tidak akan menemukan apapun
nantinya.
Mas Rahmad kembali mengingatkan
tentang asal usul. Jika manusia meneliti asal-usulnya, semoga Allah memudahkan
dalam proses kembali. Kita semua asalnya dari Allah dan akan kembali juga
kepadaNya. Semoga dalam proses sinau ini kita mendapat hikmah masing-masing,
karena kita pulan dan berproses pada lingkungan masing-masing.
Suasana sinau bareng tak terasa
sudah masuk ke tengah malam. Sambil sedikit belajar bersama kita, saling
memberikan apa yang kita bisa sampaikan untuk mungkin bisa menambahkan bahan sianu
untuk di bawa pulang ke rumah masing-masing.
Dipuncaki dengan doa yang di
hantarkan oleh Mas Rahmad dan dibarengi sholawat yang dilantunkan seluruh
dulur-dulur yang hadir pada sinau bareng malam hari itu.






Komentar
Posting Komentar