Langsung ke konten utama

Edisi 34 Bebrayan Agung


Edisi 34
Bebrayan Agung

Sudah saatnya melingkar lagi pada edisi kali ini. Dengan tema Bebrayan Agung, acara di laksanakan bertepatan dengan malam pergantian tahun baru. Sedari sore, dulur-dulur sudah mulai mempersiapkan segala kebutuhan yang nantinya akan diperlukan. Sedikit berbeda dengan acara sebelumnya, malam hari ini ada beberapa dulur yang mengikut sertakan anggota keluarganya. Termasuk saya sendiri, kebetulan menyerakan istri dan dua anak saya.
Acara seperti biasa diawali dengan Shalawat, Shohibul baiti, Shalawat Badar dan wirid. Selanjutnya disambung dengan mas Yongki yang edisi kemaren kebetulan tidak bisa hadir untuk memandu acara rutinan bulanan. Mempersilahkan mas Wawan untuk membacakan Prolog yang menjadi tema untuk malam hari itu.
Lebih istimewa lagi, malam itu mas Jazuli diperjalankan untuk bersama melingkar bersama istri dan kedua anaknya juga. Kebetulan juga prolog yang menjadi tema malam itu juga lahir melalui tulisan mas Jazuli, yang mengakomodir beberapa unek-unek dan usulan dari teman-teman penggiat. Di pimpin untuk mengirim Fatehah untuk pendahulu-pendahulu kita, lebih khusus kagem Kanjeng Nabi Muhammad saw. Di wedar masalah tema, bahwa Bebrayan secara gampang bisa dimaknakan dengan perkawinan, menurut mas Jazuli. Perkawinan yang dimaksudkan disini secara spesifik adalah perkawinan antara masa lalu dan masa depan. Secara kasar, manusia Jawa sebenarnya sudah bertauhid karena kemungkinan besar Nabi Ibrahim dulu pernah siggah di Nusantara ini. Ada Sang Hyang Wenang yang menunjukkan pada hampir samanya tujuan dengan Ajaran yang disampaikan Kanjeng Nabi Muhammad. Ada sesuatu hal lain yang menunjukkan bahwa, orang jawa juga berpuasa. Seperti itulah orang jawa menerima Islam sebagai Tumbu yang ketemu tutup. Ada pengulangan-pengulangan sejarah, Cuma cara yang dilakukan juga berbeda sesuai jamannya. Ada kemungkinan hal itu berhubungan dengan hilangnya Atlantis dengan leluhur kita. Sedikitnya akses untuk mempelajari leluhur kita adalah satu halangan untuk kita.
Dianjutkan oleh mas Wawan yang menyampaikan proses pengankatan tema beberapa tema yang berkaitan dimulai dari tema Sitai(siti), Katon Bagaskara dan Persembahan dari surga, sampai dengan tema malam hari itu yaitu Bebrayan Agung. Bebrayan Agung ini juga bisa diartikan menjadi pintu Tauhid, yaitu manunggaling kawulo lan Gusti. Diharapkan apa yang sudah kita sinauni membuat bebrayan agung bisa juga diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pak Aan melanjutkan dengan memancing apa artinya Bebrayan Agung. Yang diambil dari beberapa teman menyepakati Bebrayan agung itu perkawinan itu. Disini pak Aan menyampaikan, bahwa misalnya kita melakukan kehidupan di masyarakat seorang itu tidak bisa mengakukan dirinya sukses, yang bisa menunjukkan kita sukses itu adalah orang lain yang menilainya.
Kembali ke mas Yongki untuk memoderatori dan memberikan ulasan dari beberapa hal yang disampaikan dulur-dulur yang menympaikan beberapa hal dalam sinau bareng pada malam itu. Kebanyakan dari manusia sekarang tersesat di dalam cahaya.
Dilanjutkan oleh Mas Taufik, membahas masalah sombong dicontohkan dengan seseorang yang menjawab pertanyaan 1 + 1 = 2 . untuk yang belum tahu, itu adalah hal yang hebat. Tetapi kalau orang yang sudah tahu, hal itu adalah hal yang biasa. Orang yang merasa bodoh ciri-cirinya adalah selalu belajar, dan pada hakekatnya kita adalah orang yang bodoh. Jadi kita tidak harus marah jika ada orang yang menuduh kita bodoh. Karena kewajiban kita adalah selalu belajar. Belajar disini tidak dalam arti sempit seperti masyarakat umum yaitu sekolah. Kita harus belajar pada apapun yang dihadapkan kepada kita. Supaya nantinya kita tersesat di jalan yang benar, begitu menurut mas Taufik dalam Bahasa guyonnya.
Mas Faisol melanjutkan sinau bareng dengan menyuplik sedikit yang sudah disampaikan mas Jazuli bahwa leluhur kita adalah orang-orang yang hebat. Tetapi kita tidak boleh terlena dengan kebesaran para leluhur kita dahulu. Bebrayan disini bisa di aplikasikan di kehidupan berkeluarga, sesama teman, di lingkungan rumah dan dimanapun. Bahkan kepada ala mini, terhadap binatang atau tumbuhan. Orang-orang terdahulu ada ritual yang dilakukan misalnya untuk menebang pohon. Di pilih dulu kemudian ada ruwatan yang dilakukan, itu merupakan wujud bebrayan orang-orang pendahulu kita terhadap tumbuhan.
Disempurnakan dengan doa penutup diantarkan mas Taufik sebelum ada acara yang selanjutnya akan dilaksanakan setelah di isi beberapa lagu yang dibawakan dulur-dulur. ALhamdulilah edisi 34 sinau bareng malam itu berjalan dengan lancar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...