Langsung ke konten utama

Edisi 31 Siti (Sitai)


Pada acara edisi ke 31 ini, kembali melingkar di base camp Rampak Osing di Jl, Mliwis di SMP Telekomunikasi. Dengan tema Siti (Sitai dalam ucapan Banyuwangi) di awali dengan Shalawat Indal Qiyam, dilanjutkan dengan melantunkan Shohibu Baiti di lanjutkan dengan Wirid. Di moderatori oleh Mas Faisol pada malam hari ini. Sedikit dibuka, bahwa orang jawa melambangkan tanah sebagai rumah. Dan pintunya adalah tanah.



Disambung Mas Taufik untuk membacakan prolog tema pada malam hari itu.  Mas Yongki sedikit bercerita mengapa yang menjadi tema pada edisi 31 adalah Siti/tanah setelah ada beberapa hal yang diajukan sebagai tema. Pada awalnya usulannya adalah daur ulang, dilihat dari fungsinya, tanah juga merupakan salah satu yang merupakan ciptaan Tuhan yang bisa berfungsi menyaring dan mendaur ulang hal yang masuk di dalamnya.  
Mas Dayat, yang pada malam hari itu melingkar bersama menyampaikan beberapa hal tentang tema yang malam hari itu adalah Siti yang arti dalam bahasa jawa adalah tanah. Sedikit menyampaikan sedikit tentang isi buku yang dituliskan oleh Agus Sunyoto tentang Syech Siti Jenar, bahwa dalam buku itu beliau menyampaikan bahwa Syech Siti Jenar melakukan penghormatan kepada tanah dengan meneteskan darahnya ke tanah, dengan filosofi untuk merendahkan beliau dengan tanah, menurut penulis buku. Di jawa ada Amangkurat , Hamengkubuono, dan Pakubuwono masing-masing berhubungan erat dengan tanah, yaitu Bumi/tanah. Mas Dayat menyampaikan juga, dalam bahasa jawa ada cara untuk mematikan huruf yaitu dengan “Pangkon”, ada 2 aksara yang tidak pernah di matikan, karena leluhur kita tidak mengenal 2 aksara ini di akhir kata. Aksara itu adalah “Ja” dan “Wa”. Dalam bahasa ilmiahnya, Mas dayat mengungkapkan tanah itu di sebut sebagai Solum, Bahasa Ibrani menjadi sholum, Bahasa Arab menjadi Salam, Slamet dalam Bahasa Jawa. Maka selama kita bisa menyelamatkan tanah, maka kehidupan kita akan selamat.

Dalam Q.S  al Hasyr 18, di ingatkan lagi “Yaa aiyuhal ladzina aamanut taqullaha wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad, wattaqullaha, innalallaha khabiirun bimaa ta’maluun” , diambil inti dari memperhatikan hal-hal yang di perbuatnya untuk hari depan. Dalam bahasa jawanya Tandur. Dilanjutkan Pak Aan, dimana disini sedikit membuka kesadaran bahwa batu itu juga termasuk tanah, terkecil yang kita sering mengetahui adalah debu. Disambungkan lagi ke Sholat, ada 4 gerakan yang mewakili ada berdiri melambangkan api, rukuk adalah angin, sujud adalah air, tahiyat adalah filosofi tanah. Dalam sholat itu juga bukan untuk mengilangkan nafsu, karena setiap bacaan sholat kita tidak bisa khusyuk 100%, khusuknya dalam posisi setelah salam dalam Dzikir kita. Manusia selanjutnya akan dikembalikan ke tanah setelah meninggal sesuai ajaran Islam. Kapan-kapan kita harus menyoba untuk melakukan Pra bayar, dimana kita mentotal segala amal perbuatan kita bisa melalui Dzikir ataupun hal-hal lain untuk memperbaiki hal-hal yang mungkin salah. Itu mungkin yang bisa dikatakan “Mati sakjroning Urip”
Dilanjutkan Mas Hadi, mengungkapkan bahwa tanah adalah salah satu cara untuk menyaring, memurnikan. Ada suatu contoh, bagai mana membuat babi menjadi halal untuk dimakan, ada caranya yaitu babi yang sudah mati di kubur kemudian disekitarnya ditanami berbagai tanaman. Karena disini babi sudah menjadi penyubur atau humus yang mana sarinya diserap oleh tanaman. Makanan misalnya, singkong atau yang lainnya bisa di masak sesudahnya. Sedikit contoh yang bisa diambil dari fungsi tanah. Tuhan itu maha menggoda, kadang kita mendekat setelah mendekat kita diminta unutk menjauh. Mengambil tadabur dari “minal masjidil haraam ilal masjidil aqsa” Mas Barok menyampaikan. Jadi hidup kita ini terus menerus bergerak.
Mas Taufik memberikan tambahan tentang tema malam hari itu, yaitu tanah/Siti. Tanah itu bersifat kotor sekaligus bisa mensucikan. Dalam tanah juga mempunyai kontek memperbarui selalu dengan mendaur ulang yang ada di tanah. Diteruskan perkenalan dari beberapa jamaah yang baru melingkar, ada juga pertanyaan yang disampaikan Pak Salim bagaimana cara mengatasi sampah, dimana orang sudah tidak memperhatikan lingkungan dan juga tanah asalkan rumahnya tidak kotor, maka sampah di buang ke tempat lain.
Pak Yanto dan Mas Gofar memberikan beberapa masukan untuk mendaur ulang sampah baik organik maupun anorganik. Ada beberapa hal yang sudah dilakukan di lingkungan pak yanto yaitu mengelompokkan antar organik dan an organik. Disini, untuk sampah yang organik, Mas Gofar memberikan cara untuk membuat kompos dengan dimasukkan kedalam suatu tempat kemudian di berikan sedikit air kelapa untuk berapa hari kedepan akan terjadi pembusukan dan bisa di buat pupuk kompos. Yang bisa berupa cairan maupun pupuk yang padat. Pak yanto memberikan sedikit informasi juga tentang sampa anorganik bisa diubah menjadi uang, ada beberapa tempat yang bisa dijadikan rujukan untuk pengolahan sampah anorganik juga, pak Yanto menyampaikan.
Beberapa penyampaian juga disampaikan, bahwa didalam sinau bareng ini semua berposisi sama-sama menjadi murid dan guru sekaligus. Apa yang sudah disampaikan bisa diambil seperlunya, bahkan apa yang disampaikan dalam sinau tidak diambil pun tidak salah. Sampai lewat tengah malam, acara di pungkasi doa yang dihantarkan oleh Pak Aan. Beberapa penggiat masih melingkar sampai menjelang pagi tiba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...