13 Juli 2018
Pada edsi 29
Rampak Osing dengan tema Sembyarang mbyarang (Serba ada) kali ini di lokasi
Basecamp Rampak Osing di Area SMK Telekomunikasi Harapan Genteng dilaksanakan
bertepatan dengan malam jum’at wage. Malam yang cerah dan udara dingin menusuk,
khas bulan juli dan agustus tak menyurutkan acara pada malam itu. Tampak
beberapa saudara yang beberapa bulan melingkar, pada malam itu berkesempatan
diperjalankan untuk kembali menyapa dan melingkar bersama untuk bertukar sapa
dan berkesempatan menyampaikan beberapa hal untuk diskusi pada malam hari itu.
Di awali dengan
kirim Fatehah untuk Almarhumah Ibu Eni Untari (istri Pak Nevi KK), sesepuh
maiyah dan lingkungan dilanjutkan dengan sholawat indal qiyam, wirid dan
shohibul baiti dilantunkan di pandu Mas Wawan.
Dilanjut membeberkan
sedikit hal tentang tema sembyarang mbyarang untuk mengawali diskusi oleh Mas
Gofar sebagai moderator pada malam itu. Segera mempersilahkan Kang Taufik yang
membuat sketsa poster dan prolog. Diangkat dari Bik Ruk yang merupakan seorang
Mlijo (pedagang sayur keliling) yang usia berkisar 60 an tahun. Beliau sering
kali menjajakkan dagangannya dengan meneriakkan Sembyarang-mbyarang (aksen Bahasa
osing). Kata yang simpel untuk menawarkan banyak hal bagi konsumen. Bisa juga
dimaknai Sembah Marang Hyang atau bisa juga dimaknai masing-masing tergantung
dari sudut pandang atau jarak pandang individu.
Dilanjut Mas
Barok mengupas dari kalimat terakhir pada Prolog, dimana pesan yang muat
kira-kira bagaimana kita bisa menata mana yang tepat secara ukuran untuk
masing-masing individu. Kalau di Tarik lagi bagaimana banyak hal tadi bernilai
benar untuk diri sendiri, benar menurut banyak orang dan kebenaran sejati.
Pak Aan
menambah bahan diskusi malam hari itu, sebelumnya karena masih dalam bulan
syawal beliau memohon maaf apabila ada salah dalam silaturahmi.
Sembarang-mbarang itu ada karena kita ada, kalau ditarik dalam dunia perwayangan
bisa di tarik ke wujud dasamuka. Bisa ditarik lagi, segala ada itu karena kita
bisa melihat/merasa yang ada atau pernah ada. Kita harus bisa mengambil yang
mana yang porsinya lebih utama untuk masing-masing individu.
Kembali lagi ke
Mas Barok, ada satu prespektif yang coba di utarakan sebagai satu pandangan
untuk belajar tentang segala sesuatu di dunia ini. Dengan cara yang di ambil
dari La Illa Ha, dimana harus disadari bahwa segala sesuatu yang dihasilkan
dari perbuatan kita sesungguhnya bukan murni dari kita. Harus disadari bahwa
segala sesuatu yang terjadi akibat kita, bukan murni dari kita. Dikembalikan pada
ilmu tauhid.
Ada sesuatu
batas yang mungkin harus juga disadari oleh kita, bukan berarti misalkan kita
mempunyai barang terus diambil orang kita biarkan. Itu juga harus ada pagar
yang membatasi hak kita terhadap hak individu yang lain, Mas Gofar merespon Mas
Barok.
Merespon tentang
prolog, Mas Paijo yang mungkin bukan satu-satunya yang kurang mengerti Bahasa osing
yang dituliskan dalam prolog. Ada juga respon untuk Mas Yongki, Mas Barok dan
Kang Taupik menghangatkan diskusi pada malam itu.
Bersama melingkar,
ada banyak sisi yang di ekploitasi bersama untuk melihat sisi pandang individu
yang mungkin bisa diambil sisi mana yang baik untuk individu lain. Tak terasa hampir
tengah malam diskusi berjalan. Berbagai uraian dan pertanyaan atau pernyataan
dalam nuansa keindahan.
Diskusi di jeda
dengan sebuah lagu di iringi gitar akustik yang dibawakan Kang Taufik berjudul
sedikit saja, yang juga merupakan satu karyanya. Disambung lagu Titi kolomongso
yang sering kita dengar dari Sujiwotedjo.
Dalam segala
sesuatu yang harus melahirkan output kebijaksanaan untuk yang berada disekitar,
begitulah mungkin segala sesuatu. Dalam melingkar sinau bareng, masing-masing
individu berhak mengambil point-point yang dirasa baik dan bisa juga membuang
suatu pola piker siapapun, tergantung penyerapan masing-masing individu. Sedikit
di wedar beberapa point yang menjadi tema pada diskusi malam hari itu oleh Pak
Aan.
Dipuncaki dengan
satu tembang diiringi gitar, tembang Hasbunallah dan ditutup doa. Acara selanjutnya
masih terus mengalir, meskipun beberapa saudara ada yang berpamitan. Sebagian besar
masih melingkar dengan obrolan santai. Menjelang akan Subuh, saya memohon diri
untuk menempuh perjalanan ke rumah karena masih ada aktivitas selepas pagi.




Komentar
Posting Komentar