Langsung ke konten utama

Edisi 28 Golet Rai

Jum'at, 08 Juni 2018

Pada edisi ke 28 bertepatan pada bulan ramadhan 1439 H, Lingkar maiyah rampak osing kembali melingkar dengan tema “Golet Rai” dalam bahasa Osing yang terjemahaan dalam bahasa indonesia adalah mencari muka(wajah).
Pada malam hari itu Melekenting dalam bahasa Osing yang berarti melingkar di mulai pada kisaran pukul 09.00 yang sebelumnya dullur-dulur sudah ada persiapan mulai sore hari menjelang magrib bertempat di base camp Rampak osing di SMK Telekomunikasi Genteng di jalan Mliwis Genteng Kulon. Acara di pandu Mas Gofar yang kemudian diawali dengan Shalawat Indal Qiyam, Shalawat Badar Wirid dan Shohibu Baiti.
Tema yang di usung kali ini berbahasa Osing yang dapat masukan oleh Lek Ham pada waktu PB Menyorong Rembulan bulan Mei di Sumobito Jombang. Maka pada edisi ini Prolog yang dibawa memakai bahasa Osing untuk memperkuat uri-uri kebudayaan. Prolog di sampaikan lagi oleh Mas Taufik yang membuat prolog dan sekalian sketsa untuk edisi 28 ini. 
Dalam bahasa Indonesia masih ambigu kalau kita sebut Cari Muka, karena muka bisa di artikan di depan. Maka dalam hal ini lebih di spesifikan menjadi Rai/Wajah. Mas Yongki membuka diskusi malam hari itu dengan memaparkan bahwa banyak sekali penipuan atau orang yang tertipu hanya dengan melihat wajah. Karena wajah yang dipakai sekarang kebanyakan di eksploitasi untuk kepentingan individu atau kelompok. Dia hanya ditampakkan dalam sisi baiknya ketika kepentingan akan sesuatu hal, dalam bahasa yang seirng kita dengar dalam maiyah yaitu Talbis.
Dilanjut Pak Aan yang kebetulan pada malam hari ini dapat elingkar kembali di Base Camp. Beliau memaparkan, dahulu dalam kandunganan ibu kita hanya memiliki 1 lubang yang tersambung dengan sang ibu untuk pasokan nutrisi. Setelah lahir kedunia, satu lubang yang tersambung pada ibu kita harus terputus dan berganti dengan 9 lubang pada seluruh tubuh kita. Satu lubang tadi akan tertutup dan kering dalam beberapa hari secara normal. Satu lubang yang bertugas untuk berbicara bagaimana orang bisa menilai diri kita yaitu mulut. Wajah kita terlihat baik atau buruk adalah orang lain yang bisa merasakan. Tanpa alat untuk refleksi, kita tidak akan bisa melihat pada apa yang tampak di diri kita.
Pada malam hari itu, kebetulan ada 2 saudara kita yang mudik dan kebetulan bisa diperjalankan melingkar di Base camp pada malam hari itu. Mas Ivan yang asli Gendoh yang kuliah di Bandung yang biasanya juga melingkar di Jamparing Asih. Satu lagi Mas Fahmi Asli Kali Setail yang kuliah di Semarang sering melingkar di Gambang Syafaat. Ada juga 2 santri penerus dari pondok Barurejo Sukolilo, yang pada bulan kemarin Mas Nurdin sudah kembali ke kampung halaman di Sumatra. 

Dalam kehidupan kita, kita selalu dalam pencarian wajah. Bahkan dari kecil samapi dengan dewasa akan ada perubahan struktur wajah kalau kita cermati, dari sisi orang visual melihat wajah dari pencahayaan atau pencitraan. Dalam menggambarkan wajah sesuatu, setiap individu memiliki kemampuan masing-masing dalam menggambarkan apa yang gaib/dalam angan-angan menjadi cerita atau langsung di tuangkan dalam fisik gambar dalam kertas atau kanvas. Kita belajar untuk mencari wajah kita dan berproses selalu. Hakikat mencari ilmu adalah kita dikasih wewenang oleh Tuhan. Dalam hal bersyukur kepada Allah, kita boleh memuji diri kita sendiri. Tetapi jangan sampai kita memuji diri kita sendiri dengan membandingkan dengan orang lain. Mas Taufik juga mewedar wujud melalui musik dan lewat nada. Accord-accord dipelajari tetapi pada akhirnya untuk yang sudah ahli dan paham wujudnya akan berubah pada keindahan.
Mas gofar melanjutkan menjembatani diskusi malam hari itu sudah beranjak hampir di pukul 23.00. wajah kita bisa dilihat saat kita berkaca, saat kita senang, sedih maupun saat mendapat ekpresi lain, raut muka kita akan berubah kalau kita lihat pada cermin. ”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui” (QS.al-Baqarah: 115).
Mas Rohman menambahkan, sangat sulit melihat dan menilai orang lain. Maka dari itu, perlu memakai ilmu keseimbangan. Jika kita akan bertindak untuk orang lain, kita harus ukur dengan diri kita sendiri. Hal itu bisa dilakukan kalau dalam lingkungan pondok biasa di sebut iktikaf atau bisa dengan topo kalau dalam jawa.
Sebagai peyeimbangan, diskusi break dengan beberapa lagu sambil menikmati kopi dan sandingan yang ada. Mas Taufik mengiringi dengan gitar lagu yang di bawakan Mas Rohman. 
Mas Faisol yang sudah lama tidak bisa melingkar kali ini bisa melingkar bersama temannya Mas Rohendra, teman semenjak kecil. Melanjutkan silaturahmi, Mas Faisol menyampaikan bahawa semoga mendapat hal yang bermanfaat untuk kedepan.
Sinau bareng pada malam hari itu terus berlanjut dengan bahasa kemesraan dan berinteraksi langsung potong sudah terbiasa. Tak terasa hingga tengah malam lebih, yang di puncaki oleh doa yang di hantarkan oleh Pak Aan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...