Langsung ke konten utama

Edisi 26 Kamasudra


3 April 2018


Menjelang senja malam hari itu, Lingkar Maiyah rampak Osing melingkar bersama dengan masryarakat yang berada di pondok pesantren Hubbur Ridlo Siliragung Banyuwangi. Berangkat bersama beberapa rekan yang sudah menunggu di Genteng untuk meluncur sebelum Magrib menuju lokasi melingkar bulanan yang pada kali ini. Karena rekan-rekan melingkar bersama diluar base camp Rampak Osing di Genteng pada edisi 26 ini.
Sambil mengalir menuju saat sinau bareng, teman-teman yang sudah hadir sambil mempersiapkan sedikit beberapa hal di tempat melingkar. Sambil diskusi ringan smbil menunggu beberapa rekan yang akan merapat. Baik dari Lingkar Rampak Osing maupun dari Lingkat Maiyah Banyuwangi dan masyarakat yang biasa sinau di pendopo depan rumah Kyai Muhsin, pengasuh pondok pesantren Hubbur Ridlo Siliragung Banyuwangi. Sekitar pukul 20.00, Kyai Muhsin melingkar bersama beberapa rekan yang sudah hadir untuk mencairkan dengan jamaah yang sudah hadir.
Setengah jam berikutnya, seperti rutinan yang biasa berlangsung di pondok pesantren Hubbur Ridlo Siliragung Banyuwangi, sinau dimulai dengan mengaji kital Ihya Ullumudin yang dituliskan Imam Al Ghazali. Bersama sekitar 20 masyarakat sekitar yang membaur untuk sinau bareng pada malam hari itu dengan tema Kamasudra. Yang mana Kamasudra di sini maksudnya adalah Kama yang diambil dari Bahasa sansekerta keinginan sedangkan sudra adalah kaum rendahan. Maksud dari tema ini adalah dengan banyaknya penindasan kepada rakyat yang berkelanjutan yang akar mulanya berawal dari niat untuk mencari laba. Seperti contoh misalnya saat orang berjualan, yang baik niatnya adalah melayani kaum yang membutuhkan makanan yang kita sediakan. Sedangkan hasil dari niat kita melayani tadi adalah efek dari pelayanan kita, bukan di niatkan dari awal saat kita berjualan. Begitu uraian yang disampaikan mas Yongki untuk menyumbangkan tema diskusi malam itu.
Bab yang di angkat dari kitab Ihya Ullumudin pada malam hari itu adalah bab akal. Berkaitan langsung dengan tema untuk menyadari akal merupakan anugrah dari Allah yang bisa digunakan menghindarkan niat yang salah dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Di beberkan bahwa sumber dari ilmu dari akal, jika ibaratakan seperti pohon, akal ini menduduki pohon dan ilmu menduduki sebagai buah. Jika diibaratkan manusia, ada tipe orang yang “moha” dalam istilah jawa, dimana orang yang bertipe seperti itu, meskipun di didik bagaimanapun dan berapa kali pun akan tetap akalnya tidak bisa berbuah menjadi ilmu. Manusia yang hidup tanpa ilmu tidak akan mulia di dunia dan akhirat. Diberikan sedikit papiling orang jawa bahwa hidup ini seperti orang yang sedang bepergian,selalu rindu dan ingin pulang ke tempat semula/rumah. Ditekankan lagi bahwa akal dan ilmu akan melatih setiap manusia bersabar dalam setiap proses dalam hidup ini.banyak manusia berkali-kali lulus dari sekolah formal tetapi akalnya belum dimaksimalkan untuk berbuat kebaikan.
Dilanjutkan oleh kyai Abror yang kebetulan sedang berada di blokagung untuk berkunjung ke putranya yang mondok di pesantren blokagung. Bab yang di beber beliau adalah bab berwudlu dan mensucikan diri. Kaitannya dengan ibadah mahdoh yaitu sholat yang harus didahului sebelumnya dengan berwudlu. Dari syarat air sampai dengan doa tiap-tiap membasuhkan ke masing-masing bagan tubuh. Mengakhiri uraiannya, kyai Abror mengingatkan untuk memberikan kiriman doa untuk sekolah atau pondok yang telah memberikan ilmu, khususnya untuk pondok pesantren Hubbur Ridlo Siliragung Banyuwangi.

Acara berikutnya dilanjutkan dengan diskusi, di awali oleh mas Rohman yang menyakan syarat minimal air 2 kulah. Dan langsung di respon kyai Abror, bahwa air yang digunakan untuk bersuci baik wudlu maupun mandi jinabat minimal 2 kulah air jika tidak mengalir, menurut imam Syafi’I harus terpenuhi atau air kurang dari 2 Kulah tetapi di alirkan.
Selanjutnya mas Gofar menanyakan bab sholat, dimana dari wudlu juga sudah juga di pelajari tetapi sholatnya masih belum bisa khusyuk. Direspon langsung oleh kyai Muhsin, ada riwayat ada sahabat Nabi Muhammad, Muad Bin Jabal. Di tunjukkan orang yang sholatnya paling rendah, bahwa sholat itu banyak malaikat yang menyenangi dan akhirnya di naikan ke langit pertama di tolak oleh malaikat yang berada di langit pertama itu. Kemudian ada lagi sholat manusia yang lebih baik, diangkat oleh malaikat sampai langit kedua dari sana di tolak shoaltnya oleh malaikati langit kedua tersebut. Sampai pada orang yang sholatnya bagus, samapai di Ars, masih di tolak. Intinya, tidak ada sholat manusia yang di terima. Tetapi intinya bukan pada itu, jika kita meninggalkan maka akan semakin berdosa kita karena sholat merupakan kewajiban kita kepada Allah. Jadi seperti apapun sholat kita harus lebih disempurnakan, karena orang yang merasa sholatnya sempurna justru akan di tolak, jadi kita harus merasa kurang dalam beribadah supaya kita terus berusaha menyempurnakan dalam sholat atau ibadah lain berikutnya.

Tak terasa waktu sudah masuk pukul 23.30  dan di puncaki dengan doa oleh kyai Abror, dan acara kembali dalam lingkaran kecil pada jamaahnya. Sampai sekitar 20 menit lewat tengah malam beberapa jamah sudah memohon diri untuk kembali ke tempat tugas masing-masing untuk menggali ilmu yang sudah di diskusikan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...