3 April 2018
Sambil
mengalir menuju saat sinau bareng, teman-teman yang sudah hadir sambil mempersiapkan
sedikit beberapa hal di tempat melingkar. Sambil diskusi ringan smbil menunggu
beberapa rekan yang akan merapat. Baik dari Lingkar Rampak Osing maupun dari
Lingkat Maiyah Banyuwangi dan masyarakat yang biasa sinau di pendopo depan
rumah Kyai Muhsin, pengasuh pondok pesantren Hubbur
Ridlo Siliragung Banyuwangi. Sekitar pukul 20.00, Kyai Muhsin melingkar bersama
beberapa rekan yang sudah hadir untuk mencairkan dengan jamaah yang sudah
hadir.
Setengah jam berikutnya, seperti rutinan yang biasa berlangsung di pondok pesantren Hubbur Ridlo Siliragung Banyuwangi, sinau dimulai dengan mengaji kital Ihya Ullumudin yang dituliskan Imam Al Ghazali. Bersama sekitar 20 masyarakat sekitar yang membaur untuk sinau bareng pada malam hari itu dengan tema Kamasudra. Yang mana Kamasudra di sini maksudnya adalah Kama yang diambil dari Bahasa sansekerta keinginan sedangkan sudra adalah kaum rendahan. Maksud dari tema ini adalah dengan banyaknya penindasan kepada rakyat yang berkelanjutan yang akar mulanya berawal dari niat untuk mencari laba. Seperti contoh misalnya saat orang berjualan, yang baik niatnya adalah melayani kaum yang membutuhkan makanan yang kita sediakan. Sedangkan hasil dari niat kita melayani tadi adalah efek dari pelayanan kita, bukan di niatkan dari awal saat kita berjualan. Begitu uraian yang disampaikan mas Yongki untuk menyumbangkan tema diskusi malam itu.
Setengah jam berikutnya, seperti rutinan yang biasa berlangsung di pondok pesantren Hubbur Ridlo Siliragung Banyuwangi, sinau dimulai dengan mengaji kital Ihya Ullumudin yang dituliskan Imam Al Ghazali. Bersama sekitar 20 masyarakat sekitar yang membaur untuk sinau bareng pada malam hari itu dengan tema Kamasudra. Yang mana Kamasudra di sini maksudnya adalah Kama yang diambil dari Bahasa sansekerta keinginan sedangkan sudra adalah kaum rendahan. Maksud dari tema ini adalah dengan banyaknya penindasan kepada rakyat yang berkelanjutan yang akar mulanya berawal dari niat untuk mencari laba. Seperti contoh misalnya saat orang berjualan, yang baik niatnya adalah melayani kaum yang membutuhkan makanan yang kita sediakan. Sedangkan hasil dari niat kita melayani tadi adalah efek dari pelayanan kita, bukan di niatkan dari awal saat kita berjualan. Begitu uraian yang disampaikan mas Yongki untuk menyumbangkan tema diskusi malam itu.
Bab yang di angkat dari kitab Ihya Ullumudin pada malam hari
itu adalah bab akal. Berkaitan langsung dengan tema untuk menyadari akal merupakan
anugrah dari Allah yang bisa digunakan menghindarkan niat yang salah dari setiap
tindakan yang akan dilakukan. Di beberkan bahwa sumber dari ilmu dari akal,
jika ibaratakan seperti pohon, akal ini menduduki pohon dan ilmu menduduki
sebagai buah. Jika diibaratkan manusia, ada tipe orang yang “moha” dalam
istilah jawa, dimana orang yang bertipe seperti itu, meskipun di didik
bagaimanapun dan berapa kali pun akan tetap akalnya tidak bisa berbuah menjadi
ilmu. Manusia yang hidup tanpa ilmu tidak akan mulia di dunia dan akhirat.
Diberikan sedikit papiling orang jawa bahwa hidup ini seperti orang yang sedang
bepergian,selalu rindu dan ingin pulang ke tempat semula/rumah. Ditekankan lagi
bahwa akal dan ilmu akan melatih setiap manusia bersabar dalam setiap proses
dalam hidup ini.banyak manusia berkali-kali lulus dari sekolah formal tetapi
akalnya belum dimaksimalkan untuk berbuat kebaikan.
Dilanjutkan oleh kyai Abror yang kebetulan sedang berada di
blokagung untuk berkunjung ke putranya yang mondok di pesantren blokagung. Bab
yang di beber beliau adalah bab berwudlu dan mensucikan diri. Kaitannya dengan
ibadah mahdoh yaitu sholat yang harus didahului sebelumnya dengan berwudlu. Dari
syarat air sampai dengan doa tiap-tiap membasuhkan ke masing-masing bagan
tubuh. Mengakhiri uraiannya, kyai Abror mengingatkan untuk memberikan kiriman doa
untuk sekolah atau pondok yang telah memberikan ilmu, khususnya untuk pondok pesantren
Hubbur Ridlo Siliragung Banyuwangi.
Acara berikutnya dilanjutkan dengan diskusi, di awali oleh mas
Rohman yang menyakan syarat minimal air 2 kulah. Dan langsung di respon kyai Abror,
bahwa air yang digunakan untuk bersuci baik wudlu maupun mandi jinabat minimal 2
kulah air jika tidak mengalir, menurut imam Syafi’I harus terpenuhi atau air
kurang dari 2 Kulah tetapi di alirkan.
Selanjutnya mas Gofar menanyakan bab sholat, dimana dari
wudlu juga sudah juga di pelajari tetapi sholatnya masih belum bisa khusyuk. Direspon
langsung oleh kyai Muhsin, ada riwayat ada sahabat Nabi Muhammad, Muad Bin
Jabal. Di tunjukkan orang yang sholatnya paling rendah, bahwa sholat itu banyak
malaikat yang menyenangi dan akhirnya di naikan ke langit pertama di tolak oleh
malaikat yang berada di langit pertama itu. Kemudian ada lagi sholat manusia
yang lebih baik, diangkat oleh malaikat sampai langit kedua dari sana di tolak shoaltnya
oleh malaikati langit kedua tersebut. Sampai pada orang yang sholatnya bagus,
samapai di Ars, masih di tolak. Intinya, tidak ada sholat manusia yang di
terima. Tetapi intinya bukan pada itu, jika kita meninggalkan maka akan semakin
berdosa kita karena sholat merupakan kewajiban kita kepada Allah. Jadi seperti
apapun sholat kita harus lebih disempurnakan, karena orang yang merasa
sholatnya sempurna justru akan di tolak, jadi kita harus merasa kurang dalam
beribadah supaya kita terus berusaha menyempurnakan dalam sholat atau ibadah
lain berikutnya.
Tak
terasa waktu sudah masuk pukul 23.30 dan
di puncaki dengan doa oleh kyai Abror, dan acara kembali dalam lingkaran kecil
pada jamaahnya. Sampai sekitar 20 menit lewat tengah malam beberapa jamah sudah
memohon diri untuk kembali ke tempat tugas masing-masing untuk menggali ilmu
yang sudah di diskusikan.




Nyambung paseduluran, Ngrajut Katresnan
BalasHapusAlhamdulillah.. Njih matursuwun
BalasHapus