9 Januari 2018
Mengawali tahun 2018 ini, kembali
lingkar maiyah Rampak Osing mengadakan sinau bareng yang bertempat di base camp
SMK Telekomunikasi Harapan Genteng di Jl. Mliwis No. 29. Tema yang di usung kali ini
adalah Katresnan.
Acara di buka dengan sholawat dan wirid serta melantunkan Shohibul Baiti.
Mas Wawan membuka tema pada malam hari itu dengan menyatakan
bahwa yang pertama kali diingat dalam acara sinau bareng ini adalah bentuk kecintaan kita terhadap
Allah dan RosulNya melalui apa yang sering kita pelajari bersama lewat dawuh-dawuh
Mbah Nun dengan berbagai media yang ada pada saat ini. Ide tema pada malam hari
ini awalnya melalui Mas Hadi yang di sampaikan beberapa hari sebelum acara dimulai. Suatu kalimat dalam bahasa jawa
untuk akhiran –an untuk kata benda/sifat adalah hal yang sudah di pakai atau
dilaksanakan. Seperti contoh sarung-an berarti sarung sudah di pakai.
Uraian yang disampaikan di prolog
adalah teks salah satu judul Koes bersaudara pada album vol-1 yang juga
dimaksudkan untuk menghargai berpulangnya salah satu personil yaitu Yon
Koeswoyo.
Berganti ke Mas Rangga pada malam
hari itu yang menyampaikan beberapa hal yang terkait dengan apa yang mungkin
juga dibahas oleh lingkar lain tentang gagasan piagam Maiyah yang dimaksudkan dirancang
sedemikian rupa oleh banyak lingkar di seluruh Indonesia untuk mengatur
pola-pola pergaulan sesama Jamaah Maiyah dan lingkungan luarnya. Ide awalnya
adalah mencontoh dokumen perjanjian yang lahir dari kepiawaian Rasulullah
Muhammad Saw dari Piagam Madinah untuk coba di elaborasi dalam berkehidupan
pada masa sekarang. Beberapa contoh coba di kemukakan Mas Dayat untuk
memberikan contoh kasus dari beberapa yang ada di Piagam Madinah kemudian di
contohkan di waktu sekarang dengan menyesuaikan keadaan pada waktu sekarang.
Mas Irawan turut menyumbangkan
pendapatnya berkaitan dengan banyaknya persoalan yang muncul dalam kehidupan
kita sehari-hari, terutama dengan prediksi memboomingnya Sinau Bareng pada
youtube. Dahulu video yang teruplod sebelum banyaknya bisnis yang berkaitan
dengan youtube adalah video penuh/utuh. Serigkali pada saat ini kita lihat
banyak yang sudah editan dan disandingkan dengan beberapa pembicara lain untuk
beberapa kasus yang diangkat. Disini kita lebih di uji, karena video yang di
upload sekarang hanya terkait dengan kepentingan-kepentingan yang sidatnya
pribadi atau kelompok tertentu. Jamaah yang lebih dituntut lebih selektif dalam
mengambil sudut pandang video-video yang beredar.
Ada beberapa hal lagi yang
diungkapkan bahwa katresnan juga harus di sikapi secara seimbang. Bahkan terlalu
cinta juga berakibat tidak baik karena ketidak seimbangannya. Apalagi yang
bertolak belakang dengan sikap katresnan.
Mas Moizul Ghofur melontarkan pendapat
yang diawali dengan satu tembang jawa dari sebuah status :
Katresnan
werdining katresnan peparing gusti
Lan
mekar ing telenging manah
Lumampahe
mongso ngukir lembare dalu rino cinerak malih
Nanging yen katresnan kuwi ditumpangi kekarepan sing ora
sae,
Katresnan
kuwi dudu peparingane sing Kuoso
Katresnan sing luhur ora ono pamrih
Mung maringi, ora ngarep untung lan rugi
Wani ngorbanake apa sing di duweni jiwa lan raga
Intinya kalau kita mencintai
dalam kadar yang sesuai, kita tidak memberi/melakukan sesuatu tanpa melihat
dzat dengan ke ikhlasan. Tanpa adanya keinginan untuk mendapatkan balasan.
Mas Hadi memberikan beberapa
uraian tingkatan hubungan manusia. Paling bawah tingkatannya adalah mengerti, dalam
potongan QS Al- Hujarot 13 syu'uban
wa qobaila lita-'arofu, disini lita-'arofu bukan hanya sekedar mengenal tetapi
mengerti. Tingkatan yang kedua adalah Ahlaq dan tingkatan terakhir adalah
cinta/katresnan.
Acara dipungkasi do’a oleh Mas
Rohman, sebagai batas formal acara di tutup sebelum dilanjutkan keacara ngobrol
santai dan melanjutkan kopi malam itu.

Komentar
Posting Komentar