Langsung ke konten utama

Edisi 21 Nandur


10 November 2017



Bulan November ini, kembali Lingkar Maiyah Rampak Osing mengadakan acara bulanan yang pada malam hari ini bertempat di rumah Mas Dayat. Acara bulanan Lingkar Maiyah Rampak Osing biasa diadakan bergantian tempat setiap bulan setelah di base camp maka berikutnya akan bertempat di lingkungan jamaah. Untuk malam itu harus bergeser ke malam sabtu dikarenakan selasa minggu pertama bersamaan dengan adanya pilihan kepala desa serentak di beberapa desa. Dan untuk menghormatinya, pertemuan Lingkar bulan November sedikit bergeser hari yang biasa di selasa bulan pertama menjadi malam sabtu.
Acara dimulai dengan mengirimkan bacaan Al-Fatihah yang di tujukan kepada beberapa anggota keluarga dari jamaah pada malam itu. Di lanjutkan pembacaan surat Ar-Rahman oleh mas Yudi diteruskan dengan pembacaan Sholawat yang di pimpin mas Paijo di lanjut lantunan Shohibu Baiti. Pada malam itu juga di bawakan wirid yang dibaca secara pembagian yang di ulang-ulang sampai beberapa menit yang merupakan oleh-oleh dari acara Padang Bulan/PB pada November ini.
Sebelum di mulai acara sinau bareng malam, ada suguhan dari tuan rumah yang harus di nikmati dulu oleh jamaah pada malam hari itu.
Selepas break, mas Faisol membuka acara sinau bareng dengan menegaskan bahwa siapapun bisa mengutarakan hal akan di wedar atau pun di tanyakan. Dalam sinau bareng tiap bulan memiliki tema, tapi apapun yang disampaikan bisa diluar atau pun di dalam tema. Pada malam hari itu di munculkan tema Tandur yang bisa di kaitkan dengan potongan Surat Al. Hasyr ayat 18 “wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad”. Di mana manusia harusnya memperhatiakan apa yang sudah dilakukannya untuk hari esok. Dalam bahasa jawa tandur padi seperti dalam gambar prolog selalu berjalan mundur dan melihat yang sudah di tanam.
Dilanjut mas Rohman yang menegaskan gambar di gambar prolog, dimana ada seorangyang sedang menanam sesuatu di lading gersang. Pertanyaanya adalah apakah tanaman itu tumbuh?
Dilanjut mas Anang dari kalipait muncar yang memperkenalkan diri dan latar belakang kuliah dan basic perkuliahan dari basic komputer dilanjut teknik elektro dan sekarang mengajar otomotif. Disampaikan bahwa  tahun yang lalu, kajian seperti sinau bareng ini hanya dapat di rasakan di lingkungan kota khusunya lingkungan mahasiswa. Tetapi sekarang, dengan Maiyah di desa ataupun pelosok seperti contohnya di Lingkar Maiyah Rampak Osing ini bisa berlangsung sinau bareng dan diskusi. Mewedar tentang kapitalisme global, ada contoh yang mana rakyat kecil diminta untuk mempertahankan lahan. Dimana lahan tersebut bila di olah oleh rakyat tadi tidak begitu produktif, akhirnya dipindah tangankan pada investor yang kemudian lahan tersebut bisa produktif berlipat-lipat dibandingkan dengan hasil yang diterima rakyat tadi. Pertanyaannya apakah ekonomi kita bisa mencontoh sistem ekonomi seperti yang dicontohkan Rasullullah kita yang juga pernah disampaikan Mbah Nun. Ada kondisi dimana kadang gengsi manusia mengalahkan yang harusnya di dahulukan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat. Ada perkenalan dari mas Agus yang juga berasal dari muncar.
Berlanjut ke mas Barok, yang salah satu jamaah yang juga berangkat ke PB bulan November ini. Dengan gaya khas, mas Barok bercerita tentang seorang temannya yang pernah di critani oleh Mbah Nun bahwa sebenarnya Negara Indonesia ini sudah tidak ada pada hakekatnya, yang ada tinggal wilayah dan rakyat. Ini di sebabkan karena kunci-kunci  kehidupan yang menyangkut hajat hidup rakyat sudah di pegang bukan oleh Negara. Kalau dilihat dari indikasi kehidupan sehari-hari, kebudayaan bangsa kita sendiri sudah banyak yang di tunggalkan. Menyinggung tentang wirid yang di bawa dari PB, itu dimaksudkan untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Dan juga dimaksudkan untuk apa yang di ulas dalam Mataair  Maiyah bahwa kita adalah “Gabah den Interi” yang dimaksud adalah bibit unggulan. Melihat kondisi Negara kita, mas Barok di rujukkan sebuah ayat oleh Abah Erwin yaitu surat An-Naml ayat 48 yang menyebutkan ada 9 laki-laki yang mempelopori perusakan di muka bumi. Dalam terusan surat 49 bahwa  mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”. Melihat dari keadaan kita sekarang, maka hanya Allah yang bisa menolong kita. Kita mendekatkan diri dengan berbuat baik secara terus menerus seperti kita Nandur kebaikan. Berbelok pada falsafah jawa yang di populerkan oleh Sosrokartono (1877-1952) memiliki nama lengkap Raden Mas Panji Sosrokartono kakak kandung RA. Kartini yang sesungguhnya juga seirama dengan jalan Maiyah menurut mas Barok.
Kembali ke moderator malam ini, mas Faisol menambahkan dalam tandur/ tatanan mudnur dalam menanam padi, cara menanam bukan maju tetapi mundur. Kalau sering kita dengar di Maiyah saat mbah nun memberi  contoh tentang nabi Khidir tentang waktu. Yaitu Masa sekarang, masa depan dan kemudian masa lalu. Pada mainstream saat ini urutannya berbeda yaitu masa lalu, masa sekarang kemudian masa depan. Gus Eko pernah mencontohkan dengan minum kopi. Saat kita minum kopi. Sebelum mimum kopi adalah masa lalu, saat minum kopi adalah masa kini dan setelah minum kopi adalah masa depan. Harapannya setelah meminum kopi kita ingat saat sebelum minum kopi.
Disambung oleh mas Ahmad Nurdin dari siliragung yang ndilalah bertemu di acara PB November kemarin. Berawal dari yutube mbah Nun dan penasaran dengan Maiyah yang sangat interaktif dalam komunikasi. Dalam beberapa kesempatan acara Maiyah di jawa timur mas Ahmad menyempatkan diri dengan dukungan dari ayahnya. Berbekal rasa cinta dan rindu kepada mbah Nun yang mungkin banyak juga dari kita yang memiliki rasa yang sama. Beberapa waktu maiyahan pernah naik panggung untuk Tanya di panggung maiyah kepada mbah Nun dan akhirnya rasa rindu yang terobati oleh salaman dan bertanya langsung dalam acara maiyahan. Satu yang masih belum bisa di tanyakan adalah bahwa mbah Nun memberikan petunjuk untuk mencari Ibu dari Ilmu. Ada kisah dimana rindu dengan maiyahan, dimana dalam setiap pulang maiyahan selalu terbawa dalam mimpi, tetapi setelah di coba melihat dari youtube tidak bisa terbawa mimpi. Jadi memang benar aura dari pertemuan langsung berbeda dengan saat kita hanya melihat dari video.

Dilanjut mas Yongki dari muncar melontarkan pertanyaan sekedar mengganggu pola pikir. Berkaitan dengan nandur, apakah kita harus berkiblat pada masa lalu. Dan masa lalu yang mana yang harus di pakai kiblat. Ada Mahfudzot yang menyampaikan bahwa barang siapa menanam pasti akan memanen. Seperti gambar yang ada dalam prolog, tanah gersang yang sedang di tanami itu harus di kreasikan dengan kreatifitas tanaman apa yang sekiranya yang bisa ditanam.
Mas Paijo merespon tandur yang di bahas mas Yongki, kita harus mengusakan setelah menanam. Di pupuk atau hal lain, untuk urusan apakah kita panen atau tidak adalah kuasa Pengeran. Merespon dari yang sempat di lontarkan mas Barok membaca Mataair Maiyah tentang yang diminta keluar dari Maiyah, belajar dari yang disamapaikan mbah Fuad kita harus menghilangkan sifat pelit. Karena dalam bermaiyah kita tidak mencari materi. Membahas hala lain, mas Paijo memberikan masukan untuk kapan-kapan bisa melingkar di Siliragung di daerah mas Nurdin.
Acara rehat sebentar disuguhi beberapa sholawat dan lagu
 
Mas dayat menyambung tentang tandur yang disampaikan mas yongki untuk mengambil keputusan masing- masing untuk diambil hal baiknya. Merespon tentang mas barok, bahwa Maiyah dalam posisi mengobati orang sakit, tetapi pasien tidak sedang merasa sakit. Ini diandaikan dengan mencoba menolong seekor anjing yang terhimpit. Dimana kalau tidak di tolong kasihan, tetapi kalau kita coba menolong akan di gigit. Menguraikan hadist : Man Roa Minkum Munkaron FalyughoyyirHu BiyadiHi, Fa illam Yastathi’ FabilisaaniHi, Fa illam Yastathi’ FabiqolbiHi, Wadzalika Adh’aful iimaan. Yang dapat diartikan kurang lebihnya adalah : “Barangsiapa melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya, dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim). Beralih menyinggung ke pertanyaan yang disanpaikan mas Yongki tentang dimana seharusnya kita melihat masa lalu sebagai acuan, mas Dayat merespon bahwa titik awal yang sebenarnya awalnya adalah kembali sebelum kita kedatangan para penjajah. Tetapi banyak yang terus menyalah artikan bahwa kita harus kembali ke masa yang jauh sebelum itu. Akhirnya dampaknya sekarang kolom agama pada KTP dan Kartu Keluarga menjadi masalah. Ada prinsip yang ada dalam NU, kita mengambil hal-hal yang baik dan meminimalkan yang jelek. Mengurai potongan ayat Ali Imran 103 yang artinya : Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai. Bahwasanya umat islam hendaknya bisa saling menghormati tidak hanya dengan golongan lain, tetapi sesama umat islam sendiri juga harus saling menghormati. Seperti contoh perbedaan tanggal puasa dan hari raya juga harus di apresiasi tidak dengan malah saling menyalahkan. Menyinggung tentang kalimat “wallahul muwafiq ila aqwamith thoriq”  yang artinya kurang lebih adalah “Allah sepakat dengan jalan yang paling banyak di dukung orang”. Hal tersebut harus tepat pada konteks, karena yang banyak belum tentu baik dan indah. Seharusnya wallahul muwafiq ila ansabi  thoriq” yaitu “Allah sepakat dengan jalan yang terukur”. Ditekankan lagi tentang hal lain oleh mas Dayat, bahwa sekolah itu tidak penting, tetapi menuntut ilmu itu yang wajib. Karena ilmu tidak hanya di dapatkan di sekolah. Di pungkasi dengan “Wa-ilaa Robbika Farghob” dalam Nandur biji Maiyaj untuk Kita dan keluarga kita kemudian lingkungan dan meluas dengan sendirinya.
Dan akhirnya Lingkar bulan November ditutup doa diantarkan oleh mas Syukur, kemudian acara masih dilanjut oleh beberapa jamah yang meneruskan keakraban malam itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...