10 November 2017
Bulan November ini, kembali Lingkar
Maiyah Rampak Osing mengadakan acara bulanan yang pada malam hari ini bertempat
di rumah Mas Dayat. Acara bulanan Lingkar Maiyah Rampak Osing biasa diadakan bergantian
tempat setiap bulan setelah di base camp maka berikutnya akan bertempat di
lingkungan jamaah. Untuk malam itu harus bergeser ke malam sabtu dikarenakan
selasa minggu pertama bersamaan dengan adanya pilihan kepala desa serentak di
beberapa desa. Dan untuk menghormatinya, pertemuan Lingkar bulan November sedikit
bergeser hari yang biasa di selasa bulan pertama menjadi malam sabtu.
Acara dimulai dengan mengirimkan
bacaan Al-Fatihah yang di tujukan kepada beberapa anggota keluarga dari jamaah pada malam
itu. Di lanjutkan pembacaan surat Ar-Rahman oleh mas Yudi diteruskan dengan
pembacaan Sholawat yang di pimpin mas Paijo di lanjut lantunan Shohibu Baiti. Pada
malam itu juga di bawakan wirid yang dibaca secara pembagian yang di
ulang-ulang sampai beberapa menit yang merupakan oleh-oleh dari acara Padang
Bulan/PB pada November ini.
Sebelum di mulai acara sinau
bareng malam, ada suguhan dari tuan rumah yang harus di nikmati dulu oleh jamaah pada malam
hari itu.
Selepas break, mas Faisol membuka
acara sinau bareng dengan menegaskan bahwa siapapun bisa mengutarakan hal akan
di wedar atau pun di tanyakan. Dalam sinau bareng tiap bulan memiliki tema,
tapi apapun yang disampaikan bisa diluar atau pun di dalam tema. Pada malam
hari itu di munculkan tema Tandur yang bisa di kaitkan dengan potongan Surat
Al. Hasyr ayat 18 “wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad”. Di mana manusia harusnya memperhatiakan apa
yang sudah dilakukannya untuk hari esok. Dalam bahasa jawa tandur padi seperti
dalam gambar prolog selalu berjalan mundur dan melihat yang sudah di tanam.
Dilanjut mas Rohman yang menegaskan gambar di gambar prolog, dimana ada
seorangyang sedang menanam sesuatu di lading gersang. Pertanyaanya adalah
apakah tanaman itu tumbuh?
Dilanjut mas Anang dari kalipait
muncar yang memperkenalkan diri dan latar belakang kuliah dan basic perkuliahan
dari basic komputer dilanjut teknik elektro dan sekarang mengajar otomotif. Disampaikan
bahwa tahun yang lalu, kajian seperti
sinau bareng ini hanya dapat di rasakan di lingkungan kota khusunya lingkungan
mahasiswa. Tetapi sekarang, dengan Maiyah di desa ataupun pelosok seperti
contohnya di Lingkar Maiyah Rampak Osing ini bisa berlangsung sinau bareng dan
diskusi. Mewedar tentang kapitalisme global, ada contoh yang mana rakyat kecil
diminta untuk mempertahankan lahan. Dimana lahan tersebut bila di olah oleh
rakyat tadi tidak begitu produktif, akhirnya dipindah tangankan pada investor
yang kemudian lahan tersebut bisa produktif berlipat-lipat dibandingkan dengan
hasil yang diterima rakyat tadi. Pertanyaannya apakah ekonomi kita bisa
mencontoh sistem ekonomi seperti yang dicontohkan Rasullullah kita yang juga
pernah disampaikan Mbah Nun. Ada kondisi dimana kadang gengsi manusia
mengalahkan yang harusnya di dahulukan untuk kepentingan yang lebih bermanfaat.
Ada perkenalan dari mas Agus yang juga berasal dari muncar.
Berlanjut ke mas Barok, yang
salah satu jamaah yang juga berangkat ke PB bulan November ini. Dengan gaya
khas, mas Barok bercerita tentang seorang temannya yang pernah di critani oleh
Mbah Nun bahwa sebenarnya Negara Indonesia ini sudah tidak ada pada hakekatnya,
yang ada tinggal wilayah dan rakyat. Ini di sebabkan karena kunci-kunci kehidupan yang menyangkut hajat hidup rakyat
sudah di pegang bukan oleh Negara. Kalau dilihat dari indikasi kehidupan
sehari-hari, kebudayaan bangsa kita sendiri sudah banyak yang di tunggalkan. Menyinggung
tentang wirid yang di bawa dari PB, itu dimaksudkan untuk lebih mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT. Dan juga dimaksudkan untuk apa yang di ulas dalam Mataair
Maiyah bahwa kita adalah “Gabah den
Interi” yang dimaksud adalah bibit unggulan. Melihat kondisi Negara kita, mas
Barok di rujukkan sebuah ayat oleh Abah Erwin yaitu surat An-Naml ayat 48 yang
menyebutkan ada 9 laki-laki yang mempelopori perusakan di muka bumi. Dalam terusan
surat 49 bahwa mereka berkata: “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita
sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam
hari, kemudian kita katakan kepada warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan
kematian keluarganya itu, dan Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar”.
Melihat dari keadaan kita sekarang, maka hanya Allah yang bisa menolong
kita. Kita mendekatkan diri dengan berbuat baik secara terus menerus seperti
kita Nandur kebaikan. Berbelok pada falsafah jawa yang di populerkan oleh Sosrokartono
(1877-1952) memiliki nama lengkap Raden Mas Panji Sosrokartono kakak kandung
RA. Kartini yang sesungguhnya juga seirama dengan jalan Maiyah menurut mas
Barok.
Kembali ke moderator malam ini,
mas Faisol menambahkan dalam tandur/ tatanan mudnur dalam menanam padi, cara
menanam bukan maju tetapi mundur. Kalau sering kita dengar di Maiyah saat mbah
nun memberi contoh tentang nabi Khidir
tentang waktu. Yaitu Masa sekarang, masa depan dan kemudian masa lalu. Pada mainstream
saat ini urutannya berbeda yaitu masa lalu, masa sekarang kemudian masa depan. Gus
Eko pernah mencontohkan dengan minum kopi. Saat kita minum kopi. Sebelum mimum
kopi adalah masa lalu, saat minum kopi adalah masa kini dan setelah minum kopi
adalah masa depan. Harapannya setelah meminum kopi kita ingat saat sebelum
minum kopi.
Disambung oleh mas Ahmad Nurdin
dari siliragung yang ndilalah bertemu di acara PB November kemarin. Berawal dari
yutube mbah Nun dan penasaran dengan Maiyah yang sangat interaktif dalam
komunikasi. Dalam beberapa kesempatan acara Maiyah di jawa timur mas Ahmad menyempatkan
diri dengan dukungan dari ayahnya. Berbekal rasa cinta dan rindu kepada mbah
Nun yang mungkin banyak juga dari kita yang memiliki rasa yang sama. Beberapa waktu
maiyahan pernah naik panggung untuk Tanya di panggung maiyah kepada mbah Nun
dan akhirnya rasa rindu yang terobati oleh salaman dan bertanya langsung dalam
acara maiyahan. Satu yang masih belum bisa di tanyakan adalah bahwa mbah Nun
memberikan petunjuk untuk mencari Ibu dari Ilmu. Ada kisah dimana rindu dengan
maiyahan, dimana dalam setiap pulang maiyahan selalu terbawa dalam mimpi,
tetapi setelah di coba melihat dari youtube tidak bisa terbawa mimpi. Jadi memang
benar aura dari pertemuan langsung berbeda dengan saat kita hanya melihat dari
video.
Dilanjut mas Yongki dari muncar
melontarkan pertanyaan sekedar mengganggu pola pikir. Berkaitan dengan nandur, apakah
kita harus berkiblat pada masa lalu. Dan masa lalu yang mana yang harus di
pakai kiblat. Ada Mahfudzot yang
menyampaikan bahwa barang siapa menanam pasti
akan memanen. Seperti gambar yang ada dalam prolog, tanah gersang yang sedang di
tanami itu harus di kreasikan dengan kreatifitas tanaman apa yang sekiranya yang
bisa ditanam.
Mas Paijo merespon tandur yang di
bahas mas Yongki, kita harus mengusakan setelah menanam. Di pupuk atau hal
lain, untuk urusan apakah kita panen atau tidak adalah kuasa Pengeran. Merespon
dari yang sempat di lontarkan mas Barok membaca Mataair Maiyah tentang yang
diminta keluar dari Maiyah, belajar dari yang disamapaikan mbah Fuad kita harus
menghilangkan sifat pelit. Karena dalam bermaiyah kita tidak mencari materi. Membahas
hala lain, mas Paijo memberikan masukan untuk kapan-kapan bisa melingkar di
Siliragung di daerah mas Nurdin.
Acara rehat sebentar disuguhi beberapa sholawat dan lagu
Mas dayat menyambung tentang
tandur yang disampaikan mas yongki untuk mengambil keputusan masing- masing
untuk diambil hal baiknya. Merespon tentang mas barok, bahwa Maiyah dalam
posisi mengobati orang sakit, tetapi pasien tidak sedang merasa sakit. Ini diandaikan
dengan mencoba menolong seekor anjing yang terhimpit. Dimana kalau tidak di
tolong kasihan, tetapi kalau kita coba menolong akan di gigit. Menguraikan hadist
: Man Roa Minkum Munkaron FalyughoyyirHu
BiyadiHi, Fa illam Yastathi’ FabilisaaniHi, Fa illam Yastathi’ FabiqolbiHi,
Wadzalika Adh’aful iimaan. Yang dapat diartikan kurang lebihnya adalah : “Barangsiapa
melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka
ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya, dan
hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim). Beralih menyinggung ke
pertanyaan yang disanpaikan mas Yongki tentang dimana seharusnya kita melihat
masa lalu sebagai acuan, mas Dayat merespon bahwa titik awal yang sebenarnya
awalnya adalah kembali sebelum kita kedatangan para penjajah. Tetapi banyak
yang terus menyalah artikan bahwa kita harus kembali ke masa yang jauh sebelum
itu. Akhirnya dampaknya sekarang kolom agama pada KTP dan Kartu Keluarga
menjadi masalah. Ada prinsip yang ada dalam NU, kita mengambil hal-hal yang
baik dan meminimalkan yang jelek. Mengurai potongan ayat Ali Imran 103 yang
artinya : Dan berpeganglah kalian semuanya
kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai. Bahwasanya
umat islam hendaknya bisa saling menghormati tidak hanya dengan golongan lain,
tetapi sesama umat islam sendiri juga harus saling menghormati. Seperti contoh
perbedaan tanggal puasa dan hari raya juga harus di apresiasi tidak dengan
malah saling menyalahkan. Menyinggung tentang kalimat “wallahul muwafiq ila aqwamith thoriq” yang artinya kurang lebih adalah “Allah sepakat
dengan jalan yang paling banyak di dukung orang”. Hal tersebut harus tepat pada
konteks, karena yang banyak belum tentu baik dan indah. Seharusnya “wallahul muwafiq ila ansabi thoriq” yaitu “Allah
sepakat dengan jalan yang terukur”. Ditekankan lagi tentang hal lain oleh mas
Dayat, bahwa sekolah itu tidak penting, tetapi menuntut ilmu itu yang wajib. Karena
ilmu tidak hanya di dapatkan di sekolah. Di pungkasi dengan “Wa-ilaa
Robbika Farghob” dalam Nandur biji Maiyaj untuk Kita dan keluarga kita
kemudian lingkungan dan meluas dengan sendirinya.
Dan akhirnya Lingkar bulan November ditutup doa diantarkan
oleh mas Syukur, kemudian acara masih dilanjut oleh beberapa jamah yang
meneruskan keakraban malam itu.




Komentar
Posting Komentar