3 Oktober 2017
Di bulan Oktober ini, kembali Rampak Osing melingkar di Base Camp Genteng. Tema yang di usung dalam lingkaran kali ini adalah Move On. Yang mana tema ini terinspirasikan dari Pak Erwin yang terlatar belakangi oleh Hari Kebangkitan Nasional, disamping juga sejarah yang pasti dilalui oleh masing-masing individu. Acara malam itu dimulai dengan pembacaan ayat Al Qur'an oleh mas Rohman dilanjutkan dengan Sholawat dan Wirid yang di pandu mas Hadi. Berlanjut melantunkan Shohibu Baiti.
Sedikit mengantar jamaah pada malam hari itu, mas Jazuli memberikan sedikit wacana/cerita untuk membeber tema. Disampaikan bahwa ahir-ahir ini masyarakat
merasakan seolah olah sudah diinjak-injak. Sebagai contoh, tetangga
bekerja mengupas bawang merah, dalam sehari penghasilannya 40rb, itu harus mencukupi kebutuhan
sehari-hari termasuk membayar listrik yang ahir-ahir naik tidak terhingga
sampai berlipat-lipat. Keadaan seperti cerminan tadi harus d kembalikan pada
masing-masing individu dalam merespon keadaan tersebut. Tidak usah terburu-buru dalam skala Negara, terlalu luas jangkauannya. Bisa dalam skala kecil di lingkungan kita terlebih dahulu. Move on dalam tema ini dimaksudkan untuk dapat membantu
masyarakat kanan kiri kita yang membutuhkan, jangan hanya memikirkan diri kita
sendiri, menurut pak Erwin.
Dilanjut oleh mas Bahtiar dilihat dari segi
bahasa bergerak/obah untuk mencari yang lebih baik.lebih banyak di pakai anak
muda sekarang. Berubah ini belum diketahui akan bergerak kearah yang ;ebih baik
atau bagaimana. Bergerak meninggalkan Hoax untuk mencari yang lebih baik. Di
sematkan pesan move on untuk Rampak Osing kedepannya agar bisa lebih
baik/lebih besar di masa depan untuk mengajak kebaikan dalam skala yang lebih
besar.
Beralih ke Mas Faisol, mengawali
arti move on di kembalikan pada diri masing-masing. Karena antar bahasa dengan
manusia masing-masing punya bias masing-masing, meminjam istilah Gus Sabrang.
Bahkan orang yang tidak menjalankan jumatan misalnya, itu juga move on/
berpindah dalam gurauanya melarikan diri.setelah dapat diartikan move on,
celetuk seorang jamaah menimpali. Setelah mengartikan move on, selanjutnya aksi
kita akan bagaimana? Itu dikembalikan kemasing-masing personal kita. Harus ada
tindakan/aksi nyata setelah perenungan yang dicapai.
Kangen suara Mas Rangga yang sudah
lama tidak angkat mic di minta menyumbangkan suaranya. Disini memberikan
pandangan antara keras kepala dan teguh hati harus bisa di artikan. Harus bisa
memilah antara keduanya, karena satu kejadian dan akan menjadi beberapa makna
berbagai macam.
Mas Gofar, move on itu urip. Urip
iku obah, menurut mas bahtiar tadi. Semua yang ada punya gerakan masing-masing.
Yang di definisikan oleh remaja kebanyakan move on adalah melupakan masa lalu
yang kurang indah/galau. Dalam caknun.com
dalam tulisan Daur pernah dituliskan tentang “Siapakah aku ini sehingga dunia
ini ujian untukku”, Di coba digali dalam diri sendiri, mas Gofar mencoba
bertanya pada diri sendiri apakah aku sudah bermanfaat untuk orang-orang di
sekitar kita. Karena pada dasarnya kita ini Kawulo, maka harus ngawulo pada
Gusti Allah dan Rasullullah, kedua kepada keluarga dan kemudian ke lingkungan
sekitar. Di tarik dari tema 2 edisi sebelumnya “Selo” yang harusnya kita sudah intropeksi
diri. Di sini pertanyaannya adalah, apakah
nilai-nilai yang di menjadi dasar dari Maiyah sudah benar-benar di aplikasikan
dengan baik pada masing-masing? Sudah waktunya Rampak Osing lebih mengembangkan
diri untuk manfaat yang lebih sesuai dengan tema malam itu yaitu move on.
Pak Erwin, sebelum move on, abah
cenderung mendahulukan move in sebelum membahas move on. Yaitu mengenali diri sendiri. Apa yang benar
menurut kita, belum tentu benar menurut yang lain. Racun dalam diri kita harus
di detokfikasi dulu. Sebagai contoh saat diingatkan oleh teman, di ingatkan
disini maksudnya dalam hal positif, misalnya seusai kenduri ditanya “mas, apa sudah
dapat berkatnya?”. Itulah salah satu fungsi berkumpul, saling mengingatkan dan dalam lingkungan
masing-masing tidak mudah tersinggung dalam bersosialisasi. Mengutip yang
pernah di sampaikan Mbah Nun, bahwa proses dan hasil itu dua hal yang
berlainan, sangat berbeda dengan pendapat bahwa hasil tidak
menghianati proses. Antara hasil dan proses itu ada jarak dan berdiri masing-masing dan atas kehendak Tuhan keduanya bisa saling berkaitan bahkan bertolak belakang.
Menindaklanjuti tentang
kemanfaatan, mungkin kita bisa mencoba mengumpulkan uang setiap bulan dan
anggap saja kita menyisihkan uang yang kita anggap uang itu sudah hilang. Kemudian
dari hasil pengumpulan uang tersebut bisa diperbantukan untuk misalnya bakul
mlijo/bakul gorengan untuk menambah jumlah modal sehingga bisa lebih berkembang usahanya. Di
sisi lain, nantinya uang yang dalam akad dipinjamkan itu di cicil semampunya
tanpa beban yang memberatkan peminjam. apabila nantinya mgkn ada pengembalian
lebih diperbolehkan selama tidak berkeberatan pihak peminjam, karena
dikembalikan utuh sudah cukup membantu penerima bantuan berikutnya. Seusai satu
orang mencicil uang tersebut sampai lunas, mungkin ada uang yang disumbangkan dengan ikhlas/bukan bunga/riba yang bisa digunakan misal untuk selamatan
atau dirupakan yang lain untuk lebih menambah keakraban komunitas kita ini.
Begitu seterusnya bergulir ke setiap yang akan diperkuat usahanya.
Mas Barok, pada masa sekarang ini
adalah masa kolobendu, kolo itu waktu dan bendu itu ruwet. Bukan jaman dahulu
kala. informasi yang berasal dari media, jangan langsung di percayai. Semisal
nilai sekolah, itu tidak usah terlalu dipikirkan serius. Yang harus di fikirkan
secara serius adalah proses belajar kita. Nilai hanya sebuah pelengkap. Menurut
mas Barok mengutip Mbah Nun bahwa di negara kita sudah penuh dengan najis,
tinggal kita memilih untuk berusaha menepi atau justru menikmatinya. Yang
istimewa menurut mas Barok, dalam acara Maiyahan ini adalah kita berusaha untuk
menjauh dari najis. Beralih ke masalah pendidikan, materi untuk di cari apa di
beri? sebuah rangsangan cara berpikir.Berdoa itu termasuk juga hal yang kita
ihtiarkan Ada beberapa hal yang sering d ucapkan, seperti misalnya aku mangan
ben wareg (saya makan biar kenyang), sinau ben pinter (belajar biar pinter).
Mengutip dari yang pernah diungkapkan pak Aan dulu bahwa kata ben itu berarti
pamrih. Bagaimana cara untuk menghilangkan pamrih itu menjadi nyawiji/menjadi
satu dengan proses yang dijalani.
Dalam perwayangan pesan yang menancap di ingatan mas Barok, lati lan pakarti kudu nyawiji. Intinya apa yang sudah di ucapkan, sekuat mungkin kita harus mengusahakan. Kembali ke move on yang sering di pakai untuk anak2 muda sekarang yang dipakai d dunia maya. Menurut mas Barok ada yang tren yaitu kata hoax, Mungkin kata itu ketika orang yang sedang mengemukakan sesuatu, sampai ngrusuk boso jowone maka langsung reaksinya hoax juh, (suara orang mengeluarkn dahak). Dimana peradaban berasal dari kebiasaan yang dilakukan, seperti istilah yang sering digunakan
Dalam perwayangan pesan yang menancap di ingatan mas Barok, lati lan pakarti kudu nyawiji. Intinya apa yang sudah di ucapkan, sekuat mungkin kita harus mengusahakan. Kembali ke move on yang sering di pakai untuk anak2 muda sekarang yang dipakai d dunia maya. Menurut mas Barok ada yang tren yaitu kata hoax, Mungkin kata itu ketika orang yang sedang mengemukakan sesuatu, sampai ngrusuk boso jowone maka langsung reaksinya hoax juh, (suara orang mengeluarkn dahak). Dimana peradaban berasal dari kebiasaan yang dilakukan, seperti istilah yang sering digunakan
Mas Rohman, move on itu pindah,
putus. ada 3 variable, pikiran, hati dan nafsu. Mengingatkan ke Ayat 35 an nur
“Allaahu nuuru ssamaawaati waal-ardhi matsalu nuurihi kamisykaatin fiihaa
mishbaahun almishbaahu fii zujaajatin alzzujaajatu ka-annahaa kawkabun
durriyyun yuuqadu min syajaratin mubaarakatin zaytuunatin laa syarqiyyatin
walaa gharbiyyatin yakaadu zaytuhaa yudhii-u walaw lam tamsas-hu naarun nuurun
‘alaa nuurin yahdii allaahu linuurihi man yasyaau wayadhribu allaahu
al-amtsaala lilnnaasi waallaahu bikulli syay-in ‘aliimun”. Dalam misykah ada
mishbah/hati yang di kurungi oleh zujaajah/akal fikiran. Hati dan nafsu harus
dibarengi dengan akal fikiran, tujuannya adalah berjalan bersama, bercahaya
sekaligus tidak ada yang menyinari, berbuat baik sekaligus tidak ada yang
menyuruh. Hati mengerti akan tujuan, akal mengerti akan batas.
Menurut mas Rohman, move on adalah
berjalan terus. Yang berkesimpulan bahwa cara kita melangkah untuk menyikapi
sesuatu yang ada. Dalam hal ini mas Rohman menyampaikan bahwa Indonesia ini
Hatinya berjalan dahulu, akal fikiran tertinggal di belakang. Banyak kasus yang
mencontohkan seperti halnya freepot.
Mas Faisol sedikit menyimpulkan
bahwa move on itu seperti kita melihat semua sisi kubus secara bersamaan. Ada
sisi yang terlihat dan ada sisi yang tidak bisa kita lihat. Ada kecenderungan
bias lebih banyak saat ada suatu sisi pandang dari kubus itu. Hanya Allah yang
tahu persis semua sisi dari kubus tersebut. Merespon dari mas rangga bedanya
keras kepala dan istiqomah. Sebelum itu harus di tarik ke dalam diri sendiri
sebelum menyimpulkan keras kepala atau istiqomah. Jadi intinya harus d
kembalikan pada diri sendiri arti dari move on. Dalam Maiyah kita
dibiasakan untuk peka, peka terhadap segala sesuatu. Gus Eko Ahmadi pernah menyampaikan
pertanyaan pada saat Kemisan di rumah mas Paijo, apakah yang sudah di tulis di
status sudah pernah dilaksanakan sungguh-sungguh.
Ditambahkan definisi keras kepala lebih tepat di sebut ahmaq, lemah akal dan telat
nalar. Ini bisa di artikan sebagai situasi berpikir yang salah jalan, meskipun
niat baik tapi kalau jalan yang digunakan kurang baik maka keseluruhan sistem
menjadi rusak. Mas Bahtiar merespon dari apa yang di ungkapkan mas Rangga
sebelumnya.
Mas Paijo menambahkan
definisi dilihat dari arti yang disampaikan oleh sang istri. Kita tidak akan
move on kalau tidak bisa bangkit. Berkaitan dengan budaya Negara kita yang
terpuruk ini, kita harus mengerti antara ajaran dan budaya, yang pernah disampaikan Gus Eko
Ahmadi. Salah satunya cara dengan menghidupkan budaya, yaitu tahlilan. Dan
Alhamdulillah sudah dilaksanakan berjalan 2 Minggu untuk jamaah yang berada di
Srono dengan acara Kemisan. Merespon untuk keras kepala, menurut mas paijo
keras kepala itu bisa dikatagorikan kafir. Kafir dalam hal ini, di ibaratkan
kafir itu kacang tanah. Yang artinya tidak bisa menerima pendapat orang lain,
arti secara lughot.
Mas Jazuli merespon arti move on
untuk mas Barok, bisa di wedar asalkan dua kata tersebut jangan di pisah.
Karena merupakan kata majemuk. Sebagai contoh Sapu Tangan, jangan diartikan
satu persatu karena artinya akan berbeda. Selanjutnya merespon lagi untuk mas
Rangga Move on dan keras kepala itu berbeda. Move on itu keadaan saat akan
bangkit dari keadaan yang terpuruk menuju ke lebih baik. Keras hati berbeda
seperti yang sudah di responkan mas Bahtiar. Keras hati itu juga berbeda, Izzah
seperti contoh orang yang memiliki keinginan dan tidak berhenti sebelum
tercapaik.
Mengupas tentang apa yang ada di majalah yang sempat terbaca oleh mas Jazuli, apa yang disampaikan teman-teman ndilallah sudah tertulis dalam edisi bulan itu.
Mengupas tentang apa yang ada di majalah yang sempat terbaca oleh mas Jazuli, apa yang disampaikan teman-teman ndilallah sudah tertulis dalam edisi bulan itu.
Dilanjut kopi break sholawatan di
iringi petikan gitar, kemudian dipuncaki dengan doa dari mas Wawan Sulistya
sekaligus sebagai kenang-kenangan karena bulan ini akan meninggalkan pulau jawa
dan kembali ke tanah kelahiran di Sumatra.



Komentar
Posting Komentar