Langsung ke konten utama

Edisi 20 Move On

3 Oktober 2017




Di bulan Oktober ini, kembali Rampak Osing melingkar di Base Camp Genteng. Tema yang di usung dalam lingkaran kali ini adalah Move On. Yang mana tema ini terinspirasikan dari Pak Erwin yang terlatar belakangi oleh Hari Kebangkitan Nasional, disamping juga sejarah yang pasti dilalui oleh masing-masing individu. Acara malam itu dimulai dengan pembacaan ayat Al Qur'an oleh mas Rohman dilanjutkan dengan Sholawat dan Wirid yang di pandu mas Hadi. Berlanjut melantunkan Shohibu Baiti.
Sedikit mengantar jamaah pada malam hari itu, mas Jazuli memberikan sedikit wacana/cerita  untuk membeber tema. Disampaikan bahwa ahir-ahir ini masyarakat merasakan seolah olah sudah diinjak-injak. Sebagai contoh, tetangga bekerja mengupas bawang merah, dalam sehari penghasilannya 40rb, itu harus mencukupi kebutuhan  sehari-hari termasuk membayar listrik yang ahir-ahir naik tidak terhingga sampai berlipat-lipat. Keadaan seperti cerminan tadi harus d kembalikan pada masing-masing individu dalam merespon keadaan tersebut. Tidak usah terburu-buru dalam skala Negara, terlalu luas jangkauannya. Bisa dalam skala kecil di lingkungan kita terlebih dahulu. Move on dalam tema ini dimaksudkan untuk dapat membantu masyarakat kanan kiri kita yang membutuhkan, jangan hanya memikirkan diri kita sendiri, menurut pak Erwin.




Dilanjut oleh mas Bahtiar dilihat dari segi bahasa bergerak/obah untuk mencari yang lebih baik.lebih banyak di pakai anak muda sekarang. Berubah ini belum diketahui akan bergerak kearah yang ;ebih baik atau bagaimana. Bergerak meninggalkan Hoax untuk mencari yang lebih baik. Di sematkan pesan move on untuk  Rampak Osing kedepannya agar bisa lebih baik/lebih besar di masa depan untuk mengajak kebaikan dalam skala yang lebih besar.
Beralih ke Mas Faisol, mengawali arti move on di kembalikan pada diri masing-masing. Karena antar bahasa dengan manusia masing-masing punya bias masing-masing, meminjam istilah Gus Sabrang. Bahkan orang yang tidak menjalankan jumatan misalnya, itu juga move on/ berpindah dalam gurauanya melarikan diri.setelah dapat diartikan move on, celetuk seorang jamaah menimpali. Setelah mengartikan move on, selanjutnya aksi kita akan bagaimana? Itu dikembalikan kemasing-masing personal kita. Harus ada tindakan/aksi nyata setelah perenungan yang dicapai.
Kangen suara Mas Rangga yang sudah lama tidak angkat mic di minta menyumbangkan suaranya. Disini memberikan pandangan antara keras kepala dan teguh hati harus bisa di artikan. Harus bisa memilah antara keduanya, karena satu kejadian dan akan menjadi beberapa makna berbagai macam.
Mas Gofar, move on itu urip. Urip iku obah, menurut mas bahtiar tadi. Semua yang ada punya gerakan masing-masing. Yang di definisikan oleh remaja kebanyakan move on adalah melupakan masa lalu yang kurang indah/galau. Dalam caknun.com dalam tulisan Daur pernah dituliskan tentang “Siapakah aku ini sehingga dunia ini ujian untukku”, Di coba digali dalam diri sendiri, mas Gofar mencoba bertanya pada diri sendiri apakah aku sudah bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita. Karena pada dasarnya kita ini Kawulo, maka harus ngawulo pada Gusti Allah dan Rasullullah, kedua kepada keluarga dan kemudian ke lingkungan sekitar.  Di tarik dari tema 2 edisi sebelumnya “Selo” yang harusnya kita sudah intropeksi diri. Di sini pertanyaannya adalah, apakah nilai-nilai yang di menjadi dasar dari Maiyah sudah benar-benar di aplikasikan dengan baik pada masing-masing? Sudah waktunya Rampak Osing lebih mengembangkan diri untuk manfaat yang lebih sesuai dengan tema malam itu yaitu move on.
Pak Erwin, sebelum move on, abah cenderung mendahulukan move in sebelum membahas move on. Yaitu mengenali diri sendiri. Apa yang benar menurut kita, belum tentu benar menurut yang lain. Racun dalam diri kita harus di detokfikasi dulu. Sebagai contoh saat diingatkan oleh teman, di ingatkan disini maksudnya dalam hal positif, misalnya seusai kenduri ditanya “mas, apa sudah dapat berkatnya?”. Itulah salah satu fungsi berkumpul, saling mengingatkan dan dalam lingkungan masing-masing tidak mudah tersinggung dalam bersosialisasi. Mengutip yang pernah di sampaikan Mbah Nun, bahwa proses dan hasil itu dua hal yang berlainan, sangat berbeda dengan pendapat bahwa hasil tidak menghianati proses. Antara hasil dan proses itu ada jarak dan berdiri masing-masing dan atas kehendak Tuhan keduanya bisa saling berkaitan bahkan bertolak belakang.
Menindaklanjuti tentang kemanfaatan, mungkin kita bisa mencoba mengumpulkan uang setiap bulan dan anggap saja kita menyisihkan uang yang kita anggap uang itu sudah hilang. Kemudian dari hasil pengumpulan uang tersebut bisa diperbantukan untuk misalnya bakul mlijo/bakul gorengan untuk menambah jumlah modal sehingga bisa lebih berkembang usahanya. Di sisi lain, nantinya uang yang dalam akad dipinjamkan itu di cicil semampunya tanpa beban yang memberatkan peminjam. apabila nantinya mgkn ada pengembalian lebih diperbolehkan selama tidak berkeberatan pihak peminjam, karena dikembalikan utuh sudah cukup membantu penerima bantuan berikutnya. Seusai satu orang mencicil uang tersebut sampai lunas, mungkin ada uang yang disumbangkan dengan ikhlas/bukan bunga/riba yang bisa digunakan misal untuk selamatan atau dirupakan yang lain untuk lebih menambah keakraban komunitas kita ini. Begitu seterusnya bergulir ke setiap yang akan diperkuat usahanya.

Mas Barok, pada masa sekarang ini adalah masa kolobendu, kolo itu waktu dan bendu itu ruwet. Bukan jaman dahulu kala. informasi yang berasal dari media, jangan langsung di percayai. Semisal nilai sekolah, itu tidak usah terlalu dipikirkan serius. Yang harus di fikirkan secara serius adalah proses belajar kita. Nilai hanya sebuah pelengkap. Menurut mas Barok mengutip Mbah Nun bahwa di negara kita sudah penuh dengan najis, tinggal kita memilih untuk berusaha menepi atau justru menikmatinya. Yang istimewa menurut mas Barok, dalam acara Maiyahan ini adalah kita berusaha untuk menjauh dari najis. Beralih ke masalah pendidikan, materi untuk di cari apa di beri? sebuah rangsangan cara berpikir.Berdoa itu termasuk juga hal yang kita ihtiarkan Ada beberapa hal yang sering d ucapkan, seperti misalnya aku mangan ben wareg (saya makan biar kenyang), sinau ben pinter (belajar biar pinter). Mengutip dari yang pernah diungkapkan pak Aan dulu bahwa kata ben itu berarti pamrih. Bagaimana cara untuk menghilangkan pamrih itu menjadi nyawiji/menjadi satu dengan proses yang dijalani.
Dalam perwayangan pesan yang menancap di ingatan mas Barok, lati lan pakarti kudu nyawiji. Intinya apa yang sudah di ucapkan, sekuat mungkin kita harus mengusahakan. Kembali ke move on yang sering di pakai untuk anak2 muda sekarang yang dipakai d dunia maya. Menurut mas Barok ada yang tren yaitu kata hoax, Mungkin kata itu ketika orang yang sedang mengemukakan sesuatu, sampai ngrusuk boso jowone maka langsung reaksinya hoax juh, (suara orang mengeluarkn dahak). Dimana peradaban berasal dari kebiasaan yang dilakukan, seperti istilah yang sering digunakan
Mas Rohman, move on itu pindah, putus. ada 3 variable, pikiran, hati dan nafsu. Mengingatkan ke Ayat 35 an nur “Allaahu nuuru ssamaawaati waal-ardhi matsalu nuurihi kamisykaatin fiihaa mishbaahun almishbaahu fii zujaajatin alzzujaajatu ka-annahaa kawkabun durriyyun yuuqadu min syajaratin mubaarakatin zaytuunatin laa syarqiyyatin walaa gharbiyyatin yakaadu zaytuhaa yudhii-u walaw lam tamsas-hu naarun nuurun ‘alaa nuurin yahdii allaahu linuurihi man yasyaau wayadhribu allaahu al-amtsaala lilnnaasi waallaahu bikulli syay-in ‘aliimun”. Dalam misykah ada mishbah/hati yang di kurungi oleh zujaajah/akal fikiran. Hati dan nafsu harus dibarengi dengan akal fikiran, tujuannya adalah berjalan bersama, bercahaya sekaligus tidak ada yang menyinari, berbuat baik sekaligus tidak ada yang menyuruh. Hati mengerti akan tujuan, akal mengerti akan batas.
Menurut mas Rohman, move on adalah berjalan terus. Yang berkesimpulan bahwa cara kita melangkah untuk menyikapi sesuatu yang ada. Dalam hal ini mas Rohman menyampaikan bahwa Indonesia ini Hatinya berjalan dahulu, akal fikiran tertinggal di belakang. Banyak kasus yang mencontohkan seperti halnya freepot.
Mas Faisol sedikit menyimpulkan bahwa move on itu seperti kita melihat semua sisi kubus secara bersamaan. Ada sisi yang terlihat dan ada sisi yang tidak bisa kita lihat. Ada kecenderungan bias lebih banyak saat ada suatu sisi pandang dari kubus itu. Hanya Allah yang tahu persis semua sisi dari kubus tersebut. Merespon dari mas rangga bedanya keras kepala dan istiqomah. Sebelum itu harus di tarik ke dalam diri sendiri sebelum menyimpulkan keras kepala atau istiqomah. Jadi intinya harus d kembalikan pada diri sendiri arti dari move on.  Dalam Maiyah kita dibiasakan untuk peka, peka terhadap segala sesuatu. Gus Eko Ahmadi pernah menyampaikan pertanyaan pada saat Kemisan di rumah mas Paijo, apakah yang sudah di tulis di status sudah pernah dilaksanakan sungguh-sungguh.
Ditambahkan definisi keras kepala lebih tepat di sebut ahmaq, lemah akal dan telat nalar. Ini bisa di artikan sebagai situasi berpikir yang salah jalan, meskipun niat baik tapi kalau jalan yang digunakan kurang baik maka keseluruhan sistem menjadi rusak. Mas Bahtiar merespon dari apa yang di ungkapkan mas Rangga sebelumnya.
Mas Paijo  menambahkan definisi dilihat dari arti yang disampaikan oleh sang istri. Kita tidak akan move on kalau tidak bisa bangkit. Berkaitan dengan budaya Negara kita yang terpuruk ini, kita harus mengerti antara ajaran dan budaya, yang pernah disampaikan Gus Eko Ahmadi. Salah satunya cara dengan menghidupkan budaya, yaitu tahlilan. Dan Alhamdulillah sudah dilaksanakan berjalan 2 Minggu untuk jamaah yang berada di Srono dengan acara Kemisan. Merespon untuk keras kepala, menurut mas paijo keras kepala itu bisa dikatagorikan kafir. Kafir dalam hal ini, di ibaratkan kafir itu kacang tanah. Yang artinya tidak bisa menerima pendapat orang lain, arti secara lughot.
Mas Jazuli merespon arti move on untuk mas Barok, bisa di wedar asalkan dua kata tersebut jangan di pisah. Karena merupakan kata majemuk. Sebagai contoh Sapu Tangan, jangan diartikan satu persatu karena artinya akan berbeda. Selanjutnya merespon lagi untuk mas Rangga Move on dan keras kepala itu berbeda. Move on itu keadaan saat akan bangkit dari keadaan yang terpuruk menuju ke lebih baik. Keras hati berbeda seperti yang sudah di responkan mas Bahtiar. Keras hati itu juga berbeda, Izzah seperti contoh orang yang memiliki keinginan dan tidak berhenti sebelum tercapaik.
Mengupas tentang apa yang ada di majalah yang sempat terbaca oleh mas Jazuli, apa yang disampaikan teman-teman ndilallah sudah tertulis dalam edisi bulan itu.
Dilanjut kopi break sholawatan di iringi petikan gitar, kemudian dipuncaki dengan doa dari mas Wawan Sulistya sekaligus sebagai kenang-kenangan karena bulan ini akan meninggalkan pulau jawa dan kembali ke tanah kelahiran di Sumatra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...