1 Agustus 2017
Kembali ke rutinitas bulanan
ngopi kami, malam itu memang sempat diguyur oleh rahmat berupa hujan. Bertolak
dari rumah selepas Isya’ masih terasa sedikit rintik hujan yang mulai pukul
18.00 sudah membasahi bumi di daerah glenmore, genteng, srono dan sekitarnya.
Acara kali ini bertempat di
Basecamp Rampak Osing di Jl. Mliwis no 70 Genteng Kulon, bertempat di komplek
sekolah SMK Telekomunikasi Genteng tepatnya dirumah yang di persilahkan oleh
Pak Susiyanto untuk digunakan aktivitas Lingkar Maiyah Rampak Osing mulai
pertemuan ke 10.
Sekitar pukul 20.00 teman-teman
beberapa sudah merapat di Basecamp pada malam itu. Sebagaian memnyiapkan ubo
rampe dan tempat, sebagian lagi menyiapkan alat-alat musik yang akan digunakan
padasesi break nanti. Sepuluh menit berselang jamaah sudah berkumpul dan
berinteraksi sebentar karena ada beberapa yang hanya bertemu pada saat maiyahan
saja.
Acara di mulai dibukanya oleh mas
Jazuli dengan rangkaian pembacaan kirim doa disambung dengan pembacaan ayat
AL-Qur’an oleh mas Yudi Surat Al Hadid. Berlanjut dengan Shalawat Indal Qiyam
yang dikomandani oleh mas Paijo di lanjutkan dengan melantunkan Shohibu Baiti
oleh seluruh yang hadir pada malam itu.
Mas Jazuli mulai membeber tema
pada bulan ini tentang Selometan yang diambil dari bulan jawa dimana setelah
Idul Fitri ada hari raya lagi nanti pada Idul Adha. Diantara kedua hari raya
ini orang jawa terbiasa menyebutnya dengan Selo (Longgar dalam bahasa
Indonesia). Dalam bahasa Madura disebut tekepek(Terhimpit dalam bahasa
Indonesia) karena berada di antara dua hari raya Islam.
Sedikit membahas Selo/waktu
longgar mas Jazuli juga meluaskan wawasan dalam kondisi saat ini terkait dengan
Medsos untuk mengisi waktu longgar. Di wedar di sini bahwa, sebenarnya apa yang
terjadi atau digulirkan dalam medsos pada saat ini memang sebenarnya
dikondisikan oleh yang berkepentingan. Karena ada teman ahli IT yang bercerita
tentang kondisi medsos, sebenarnya sudah di pesan oleh oknum dalam event-event
tertentu. Manusia-manusia yang berperan disini tidak saling mengenal satu
dengan yang lain dengan akun-akun yang abal-abal. Setelah tujuan tercapai maka
aka nada semacam pertemuan dimana para operator yang mengkondisikan suatu opini
dalam medsos akan diberikan semacam reward dari yang berkepentingan.
Disambung mas Fiq yang bertepatan
malam itu bisa melingkar ngopi lagi bersama untuk menambah indahnya uraian dan diskusi
pada malam itu. Terkait dengan Medsos, mas Fiq memulai dari bapernya manusia
Indonesia saat ini. Kemudahan informasi yang mudah didapat, meminimkan
kemungkinan kita untuk bermuwajahah satu dan lain. Keinstanan informasi
menyebabkan kewaspadaan terhadap informasi yang dibawa. Di kalangan pondok,
seorang Kyai dalam memilih murid yang akan di Ijazahi pengetahuan yang akan di
konversikan menjadi ilmu akan di pilih dengan berbagai ujian. Baik itu ujian
berupa fisik maupun mental. Hal itu untuk mencari jarak antara santri yang bisa
dipilih yang tekun dan yang bukan. Gejala instan menggiring manusia yang tanpa
kesadaran dan keseimbangan untuk menggeser fungsi Tuhannya. Mirip dengan Raja
Firaun, dengan meremehkan segala sesuatu misalkan, Ah gampang nanti saya
kerjakan setelah ini, dimana kesadaran dan keseimbangan antara ucapan dengan
niat yang kurang seimbang. Maka yang sebenarnya boleh sombong itu hanya Allah
yang mimiliki ha katas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Maka sifat
sombong ini harusnya dikikis dengan Khouf.
Mas Barok menambahkan tentang
tradisi selamatan yang merupakan tradisi yang bisa berbuah baik maupun juga
buruk. Dikembalikan ke dawuh Mbah Nun dimana segala sesuatu harus ada skala
prioritas, ada yang harus di taruh di tangan kiri, tangan kanan, hanya lewat di
dengar atau apa yang harus di masukan dalam hati. Mengenai skala prioritas
tadi, dikaitkan dengan slogan yang sering kita jumpai saat ini seperti “I Love
Banyuwangi”, “I Love Jember” dan masih banyak lagi slogan-slogan di kabupaten
masing-masing ada indikasi menurut tadabur mas Barok untuk
pengkotakan-pengkotakan yang selanjutnya dari hal tersebut orang yang kurang
mengerti skala prioritas, slogan yang di tanamkan ini secara bawah sadar akan
berbuah perpecahan kalau kita tidak benar-benar seimbang. Bersambung dari
berbagai sejarah yang ada, yang ditekankan dalam sejarah itu adalah perang,
tetapi kurang mengerti alasan terjadinya perang itu sendiri.
Menyambung mas Dayat membeberkan
bahwa sesungguhnya manusia dalam keadaan gelap itu sadar bahwa dia dlam
kegelapan, begitu juga terlalu dekat dengan cahaya terang maka akan susah untuk
melihat segala sesuatunya dengan jelas bahkan bisa tidak melihat apapun seperti
dalam kegelapan. Dalam medsos, sebaiknya kita memahami apakah kita sedang
menggunakan Medsos atau kita digunakan oleh medsos itu karena kesadaran kita
kurang baik. Ada sisi positif tetapi tidak jarang sisi negatifnya.
Ada beberapa Hoax yang sering
memecah belah dan menyesatkan. Menjabarkan debat antara beberapa aliran atau
beberapa organisasi yang ada di Indonesia pada saat ini, di contohkan seperti
beberapa tingkatan pendidikan misalkan anak TK dengan anak SMP. Kalau dilihat
dari tingkatan, tidak elok anak TK mendebat anak SMP, atau sebaliknya anak SMP
menyalahkan Anak TK, karena kebenaran pada tingkatan masing-masing kebenarannya
berbeda. Kalau di lihat di Indonesia, perdebatan antara organisasi, suku, atau
mazhab dan lain-lain sering muncul ke permukaan. Disini kalau di ibaratkan
Indonesia adalah sekolah, dan organisasi, suku, atau mazhab dan lain-lain
adalah kelas-kelas. maka apabila kelas satu dengan kelas lain memperdebatkan
opini dengan ilmu masing-masing maka akan tidak akan ketemu. Karena kelas-kelas
tersebut pada waktu yang sama mengajarkan suatu hal yang mungkin berlainan saat
yang sama.
Mengurai tentang sejarah bangsa
kita, mas Dayat mengingatkan bahwa Pahlawan yang di akui dan banyak di pajang di
dinding-dinding adalah kebanyakan adalah orang-orang yang pernah di kalahkan
oleh penjajah dulu. Ada juga contoh lain, peninggalan budaya asli dari bumi Nusantara ini kurang diperhatikan dibandingkan dengan peninggalan dari para
penjajah yang mana kini lebih dianggap sebagai peninggalan sejarah dibandingkan
dengan peninggalan asli budaya kita sendiri. Ada pula contoh yang mungkin
dibelokkan oleh penulis sejarah, dimana kita tahu bahwa yang menuliskan sejarah
adalah yang menang, dimana Patih Ranggalawe dan Patih Nambi ditulis sejarah
sebagai pemberontak, Ken Arok di jelek-jelekan dari keturunan yang kurang baik.
Mas Jazuli menambahi bahwa suatu
saat pernah diundang berbuka di tempat seorang teman yang kebetulan berada di
daerah komplek pondok. Selesai berbuka, saat sudah masuk Isya’ dilanjutkan tarawih
dimana mungkin kalau di hitung secara waktu dilaksanakan 10 menit. Selesai
salam ke 3, mas Jazuli dan beberapa teman yang di undang berbuka tadi tidak
kuat. Itu seringkali juga menjadi masalah orang lain yang sebenarnya untuk
mereka yang melaksanakan tidak ada masalah karena kebiasaan dan adatnya adalah
seperti itu. Kembali ke ayat Wamaa Kholaqtul Jinna Wal
Insa Illaa Liya`Buduun, bahwa tujuan diciptakan jin dan manusia tidak ada lain kecuali
untuk beribadah. Tidak ada kemungkinan lain manusia untuk tidak beribadah.
Caranya adalah niat untuk beribadah untuk segala yang akan dilakukan selain hal-hal
yang memang dilarang oleh Allah.
Ada pemaparan lain mas Jazuli terkait
antara Sebab dan Akibat ada jarak dan memungkinkan tidak saling berhubungan.
Sebagai contoh antara Bekerja dan Hasil, orang yang bekerja dengan hasil itu
ada jarak. Tidak semua orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh akan menuai
hasil berupa uang atau kekayaannya misalnya.
Waktu berjalan sudah masuk ke
pukul 22.40 dilanjutkan dengan break dimana disini di isi oleh jamaah Maiyah
Mualaf dan mas Fiq berduet dengan P Erwin secara tidak sengaja memunculkan semangat yang luar biasa.
Acara dipuncaki dengan doa yang
dibimbing oleh mas Fiq ketika waktu sudah menunjukkan pukul 23.21.
Selepas di tutup do’a, jamaah
masih ngobrol dan melanjutkan diskusi saling berinteraksi bertukar pikiran, ide
dan kelakar-kelakar atas dasar cinta.
Sedikit mengutip ngendiko Mbah
Nun bahwa dalam setiap acaranya boleh dibilang pengajian, forum rakyat, forum
analis sosial atau sebagainya.yang terpenting disini niat ketulusan dan
kebersamaan yang seimbang. Pakaian tidak harus seragam sebagaimana pengajian
pada umumnya. Maka disini adalah tempat untuk menampung segala sesuatu untuk
mencari nilai dan kebaikan dari segala sesuatunya.



Komentar
Posting Komentar