Langsung ke konten utama

Edisi 18 Selometan

1 Agustus 2017



Kembali ke rutinitas bulanan ngopi kami, malam itu memang sempat diguyur oleh rahmat berupa hujan. Bertolak dari rumah selepas Isya’ masih terasa sedikit rintik hujan yang mulai pukul 18.00 sudah membasahi bumi di daerah glenmore, genteng, srono dan sekitarnya.
Acara kali ini bertempat di Basecamp Rampak Osing di Jl. Mliwis no 70 Genteng Kulon, bertempat di komplek sekolah SMK Telekomunikasi Genteng tepatnya dirumah yang di persilahkan oleh Pak Susiyanto untuk digunakan aktivitas Lingkar Maiyah Rampak Osing mulai pertemuan ke 10.
Sekitar pukul 20.00 teman-teman beberapa sudah merapat di Basecamp pada malam itu. Sebagaian memnyiapkan ubo rampe dan tempat, sebagian lagi menyiapkan alat-alat musik yang akan digunakan padasesi break nanti. Sepuluh menit berselang jamaah sudah berkumpul dan berinteraksi sebentar karena ada beberapa yang hanya bertemu pada saat maiyahan saja.
Acara di mulai dibukanya oleh mas Jazuli dengan rangkaian pembacaan kirim doa disambung dengan pembacaan ayat AL-Qur’an oleh mas Yudi Surat Al Hadid. Berlanjut dengan Shalawat Indal Qiyam yang dikomandani oleh mas Paijo di lanjutkan dengan melantunkan Shohibu Baiti oleh seluruh yang hadir pada malam itu.
Mas Jazuli mulai membeber tema pada bulan ini tentang Selometan yang diambil dari bulan jawa dimana setelah Idul Fitri ada hari raya lagi nanti pada Idul Adha. Diantara kedua hari raya ini orang jawa terbiasa menyebutnya dengan Selo (Longgar dalam bahasa Indonesia). Dalam bahasa Madura disebut tekepek(Terhimpit dalam bahasa Indonesia) karena berada di antara dua hari raya Islam.
Sedikit membahas Selo/waktu longgar mas Jazuli juga meluaskan wawasan dalam kondisi saat ini terkait dengan Medsos untuk mengisi waktu longgar. Di wedar di sini bahwa, sebenarnya apa yang terjadi atau digulirkan dalam medsos pada saat ini memang sebenarnya dikondisikan oleh yang berkepentingan. Karena ada teman ahli IT yang bercerita tentang kondisi medsos, sebenarnya sudah di pesan oleh oknum dalam event-event tertentu. Manusia-manusia yang berperan disini tidak saling mengenal satu dengan yang lain dengan akun-akun yang abal-abal. Setelah tujuan tercapai maka aka nada semacam pertemuan dimana para operator yang mengkondisikan suatu opini dalam medsos akan diberikan semacam reward dari yang berkepentingan.

Disambung mas Fiq yang bertepatan malam itu bisa melingkar ngopi lagi bersama  untuk menambah indahnya uraian dan diskusi pada malam itu. Terkait dengan Medsos, mas Fiq memulai dari bapernya manusia Indonesia saat ini. Kemudahan informasi yang mudah didapat, meminimkan kemungkinan kita untuk bermuwajahah satu dan lain. Keinstanan informasi menyebabkan kewaspadaan terhadap informasi yang dibawa. Di kalangan pondok, seorang Kyai dalam memilih murid yang akan di Ijazahi pengetahuan yang akan di konversikan menjadi ilmu akan di pilih dengan berbagai ujian. Baik itu ujian berupa fisik maupun mental. Hal itu untuk mencari jarak antara santri yang bisa dipilih yang tekun dan yang bukan. Gejala instan menggiring manusia yang tanpa kesadaran dan keseimbangan untuk menggeser fungsi Tuhannya. Mirip dengan Raja Firaun, dengan meremehkan segala sesuatu misalkan, Ah gampang nanti saya kerjakan setelah ini, dimana kesadaran dan keseimbangan antara ucapan dengan niat yang kurang seimbang. Maka yang sebenarnya boleh sombong itu hanya Allah yang mimiliki ha katas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Maka sifat sombong ini harusnya dikikis dengan Khouf.
Mas Barok menambahkan tentang tradisi selamatan yang merupakan tradisi yang bisa berbuah baik maupun juga buruk. Dikembalikan ke dawuh Mbah Nun dimana segala sesuatu harus ada skala prioritas, ada yang harus di taruh di tangan kiri, tangan kanan, hanya lewat di dengar atau apa yang harus di masukan dalam hati. Mengenai skala prioritas tadi, dikaitkan dengan slogan yang sering kita jumpai saat ini seperti “I Love Banyuwangi”, “I Love Jember” dan masih banyak lagi slogan-slogan di kabupaten masing-masing ada indikasi menurut tadabur mas Barok untuk pengkotakan-pengkotakan yang selanjutnya dari hal tersebut orang yang kurang mengerti skala prioritas, slogan yang di tanamkan ini secara bawah sadar akan berbuah perpecahan kalau kita tidak benar-benar seimbang. Bersambung dari berbagai sejarah yang ada, yang ditekankan dalam sejarah itu adalah perang, tetapi kurang mengerti alasan terjadinya perang itu sendiri.
Menyambung mas Dayat membeberkan bahwa sesungguhnya manusia dalam keadaan gelap itu sadar bahwa dia dlam kegelapan, begitu juga terlalu dekat dengan cahaya terang maka akan susah untuk melihat segala sesuatunya dengan jelas bahkan bisa tidak melihat apapun seperti dalam kegelapan. Dalam medsos, sebaiknya kita memahami apakah kita sedang menggunakan Medsos atau kita digunakan oleh medsos itu karena kesadaran kita kurang baik. Ada sisi positif tetapi tidak jarang sisi negatifnya.
Ada beberapa Hoax yang sering memecah belah dan menyesatkan. Menjabarkan debat antara beberapa aliran atau beberapa organisasi yang ada di Indonesia pada saat ini, di contohkan seperti beberapa tingkatan pendidikan misalkan anak TK dengan anak SMP. Kalau dilihat dari tingkatan, tidak elok anak TK mendebat anak SMP, atau sebaliknya anak SMP menyalahkan Anak TK, karena kebenaran pada tingkatan masing-masing kebenarannya berbeda. Kalau di lihat di Indonesia, perdebatan antara organisasi, suku, atau mazhab dan lain-lain sering muncul ke permukaan. Disini kalau di ibaratkan Indonesia adalah sekolah, dan organisasi, suku, atau mazhab dan lain-lain adalah kelas-kelas. maka apabila kelas satu dengan kelas lain memperdebatkan opini dengan ilmu masing-masing maka akan tidak akan ketemu. Karena kelas-kelas tersebut pada waktu yang sama mengajarkan suatu hal yang mungkin berlainan saat yang sama.
Mengurai tentang sejarah bangsa kita, mas Dayat mengingatkan bahwa Pahlawan yang di akui dan banyak di pajang di dinding-dinding adalah kebanyakan adalah orang-orang yang pernah di kalahkan oleh penjajah dulu. Ada juga contoh lain, peninggalan budaya asli dari bumi Nusantara ini kurang diperhatikan dibandingkan dengan peninggalan dari para penjajah yang mana kini lebih dianggap sebagai peninggalan sejarah dibandingkan dengan peninggalan asli budaya kita sendiri. Ada pula contoh yang mungkin dibelokkan oleh penulis sejarah, dimana kita tahu bahwa yang menuliskan sejarah adalah yang menang, dimana Patih Ranggalawe dan Patih Nambi ditulis sejarah sebagai pemberontak, Ken Arok di jelek-jelekan dari keturunan yang kurang baik.
Mas Jazuli menambahi bahwa suatu saat pernah diundang berbuka di tempat seorang teman yang kebetulan berada di daerah komplek pondok. Selesai berbuka, saat sudah masuk Isya’ dilanjutkan tarawih dimana mungkin kalau di hitung secara waktu dilaksanakan 10 menit. Selesai salam ke 3, mas Jazuli dan beberapa teman yang di undang berbuka tadi tidak kuat. Itu seringkali juga menjadi masalah orang lain yang sebenarnya untuk mereka yang melaksanakan tidak ada masalah karena kebiasaan dan adatnya adalah seperti itu. Kembali ke ayat Wamaa Kholaqtul Jinna Wal Insa Illaa Liya`Buduun, bahwa tujuan diciptakan jin dan manusia tidak ada lain kecuali untuk beribadah. Tidak ada kemungkinan lain manusia untuk tidak beribadah. Caranya adalah niat untuk beribadah untuk segala yang akan dilakukan selain hal-hal yang memang dilarang oleh Allah.
Ada pemaparan lain mas Jazuli terkait antara Sebab dan Akibat ada jarak dan memungkinkan tidak saling berhubungan. Sebagai contoh antara Bekerja dan Hasil, orang yang bekerja dengan hasil itu ada jarak. Tidak semua orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh akan menuai hasil berupa uang atau kekayaannya misalnya.
Waktu berjalan sudah masuk ke pukul 22.40 dilanjutkan dengan break dimana disini di isi oleh jamaah Maiyah Mualaf dan mas Fiq berduet dengan P Erwin secara tidak sengaja memunculkan semangat yang luar biasa.
Acara dipuncaki dengan doa yang dibimbing oleh mas Fiq ketika waktu sudah menunjukkan pukul 23.21.
Selepas di tutup do’a, jamaah masih ngobrol dan melanjutkan diskusi saling berinteraksi bertukar pikiran, ide dan kelakar-kelakar atas dasar cinta.
Sedikit mengutip ngendiko Mbah Nun bahwa dalam setiap acaranya boleh dibilang pengajian, forum rakyat, forum analis sosial atau sebagainya.yang terpenting disini niat ketulusan dan kebersamaan yang seimbang. Pakaian tidak harus seragam sebagaimana pengajian pada umumnya. Maka disini adalah tempat untuk menampung segala sesuatu untuk mencari nilai dan kebaikan dari segala sesuatunya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...