11 Juli 2017
Pada malam ini sedikit berbeda,
jamaah ngopi yang biasanya rutin maiyahan pada Minggu pertama selasa malam,
bergeser ke Minggu kedua. Kesepakatan ini menimbang dekatnya Idul Fitri bila di
selenggarakan pada Minggu pertama. Bertempat di Rumah mas Barok yang berada di
depan kampus STIB Sarimulyo Srono, acara yang di siapkan jamaah mualaf rampak
osing di komandani Abah Erwin sebagai sesepuh jamaah di sana.
Acara diawali dengan pembacaan
ayat Al Qur’an Oleh mas Paijo sebelum acara solawat, ngopi-ngopi, diskusi dan
lain sebagainya dilaksanakan. Dan kali ini saya tidak dapat tepat disana saat
lantunan ayat tersebut di bacakan.
Saya baru merapat ke tempat
maiyahan rampaka osing sekitar pukul 20.30 dan sudah tampak ada sekitar 15
jamaah yang sudah menikmati kopi sambil asik berinteraksi.
Sepuluh menit berselang, mas
Jazuli mulai mengangkat microphone untuk menginstruksikan acara pada malam itu
di mulai. Sembari menunggu jamaah yang masih belum datang dan juga mas Taufiq
(Fiq) sebagai nara sumber kali ini.
Seperti acara-acara rutin
sebelumnya, mas Jazuli memandu untuk kirim-kirim doa yang sebelumnya karena
masih dalam bulan Syawal beliau memohon maaf mungkin ada hal-hal yang kurang
berkenan di hati jamaah. Sebelum itu mas Jazuli juga bercerita sedikit tentang
toto kromo meminta maaf para sesepuh kita dengan meminta maaf kepada orang
disertai menyebut kesalahan yang dimintakan maaf. Acara lanjutkan pembacaan sholawat indal
qiyam dipandu mas Paijo. Ada sedikit kendala teknis malam hari ini karena teks
wirid maiyah yang biasa di bacakan tidak terbawa maka tidak dilaksanakan wirid
seperti biasanya.
Mulai mewedar tema pada bulan ini
KUPAT, mas Fiq menyampaikan bahwa di tempat kita ini di Jawa ada 3 Hari Raya
yaitu Idul Fitri, Idul Adha dan Idul Kupat. Mas dayat melanjutkan memang agak
berat rasanya kalau misalkan meminta maaf dengan cara menyebut secara
terperinci kesalahan yang di perbuat kepada yang dimintakan maaf seperti yang
disampaiakan mas Jazuli. DIsini ada cara penyamapaian yang bisa di jadikan
alternative dengan mengucapkan “Dosakmu yang aku tanggung dan Pahalaku yang
kuberikan padamu sebagai kopensasi permaafan telah aku ikhlaskan”. Mengutip
juga apa yang sudah di sampaikan mbah Nun Idul Fitri sesungguhnya adalah
Inalillahi Wa Ina Illaihi Rojiun. Melihat dari bahan kupat, disini Janur
merupakan bahan yang dibuat sebagai bungkus yang guyonnya “sebelum janur
melengkung, maka harus berpuasa” disini mengucapkannya sedikit melirik mas Hadi
yang disertai senyuman kemudian. Disampaikan juga oleh mas Dayat, cara membuka
kupat adalah dari sisi pojok atas ke sisi pojok bawah yang di tafsiri sebagai
pojok atas merupakan Hablum Minallah dan pojok bawah sebagai Hablum Minannas.
Mas Husen yang datang bersamaan
dengan mas Fiq menyampaikan bahwa meminta maaf itu sangat berat. Terlebih
gejala yang mungkin mas Husen sampaikan
ada kecenderungan memilah permohonan maaf dengan segala taraf yang menempel
pada status yang ada pada seseorang. Mengutip Gus sabrang, hidup itu adalah
sebab akibat, selangkah di depan itu adalah merenungi sebab akibat, baru tahap
berikutnya kita coba merancang sebab akibat. Disini mas Husen juga menyampaikan
masukan untuk Rampak Osing untuk evaluasi agar kedepannya lebih bagus.
Mas Fiq mewedar puasa sebagian
orang yang mungkin hanya menahan makan, minum, dana hubungan intim. Tetapi
masih banyak yang masih belum bisa menahan hawa nafsu pada saat berbuka. Di
lahaplah melebihi yang biasa di makan pada porsinya. Dilanjutkan kisah Nabi
Adam di surge,bahwa di Al Qur’an bahasanya sama antara jangan kau dekati pohon
kuldi adalah sama tingkatnya dengan
jangan mendekati zina, “wal Takrbu”. Disini mas Fiq mengartikan bahwa
sesungguhnya surge itu adalah Kebutuhan Dasara Manusia yang terenuhi segala
sesuatunya. Namun setelah Iblis membujuk adam, maka pada saat itu
kedudukan/maqom menjadi diturunkan oleh Allah, bukan secara fisik manusianya.
Maka satu-satunya jalan untuk kembali adalah bertaubat., dimana Nabi Adam
berdoa “ Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lanakunanna minal khosirin “.
Bahasa lain dari puasa disini adalah Al Imsya’.
Pak Aan
mencontohkan fitri itu seperti anak kecil. Dimana saat waktu kita cubit, dia
akan menangis setelahnya coba kita kudang (dalam bahasa jawa) maka dia akan
tertawa dan melupakan sakit dicubit dan tidak mendendamnya. Merespon mas Husen
yang meminta Evaluasi, pak aan berbeda pendapat bahwa sesungguhnya di sini
Rampak Osing sudah bagus, tetapi juga perlu adanya perubahan kearah yang lebih
baik.
Ada pertanyaan dari
mas Faisol mengenai permintaan maaf, dimaan dia bercerita missal ada transaksi
hp misal, pernah jatuh kemudian dijual ke temannya tetapi tanpa
menginformasikan bahwa HP tersebut pernah jatuh. Sampai di tangan pembeli dan
di gunakan hp tersebut tidak ada masalah sampai kurun waktu yang lama.
Pertanyaannya adalah apakah dosa kiranya jika mas Faisol tidak menyampaikan
keadaan sesungguhnya tersebut?
Disambung oleh mas
Paijo yang bertanya tentang bermimpi bertemu seseorang yang sudah meninggal
dimana mas paijo sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan beliau yang ada
dalam mimpi dikarenakan sudah di alam yang lain. Apakah benar-benar orang itu
yang datang kira-kira ?
Mas Fiq
menyampaikan respon untuk pertanyaan mas Faiisol bahwa sebaiknya disampaikan
hal yang disembunyikan atas jual beli HP sehingga adal penebusan khilaf karena
maaf itu tidak ada syaratnya sebab bertempat di hati. Untuk pertanyaan mas
Paijo, harus dikembalikan kepada yang bermimpi, harus diyakinkan dulu orang
tersebut adalah orang baik menurut si pemimpi. Kalau ternyata beliau orang
baik, maka kemungkinan adalah benar adanya beliau yang datang kepada si pemimpi
tersebut. Ada sedikit cerita tentang kisah pemilihan Gus Dur dan Abu Hasan.
Kemudian Kyai Ahmad Sidiq menyampaikan bahwa beliau bermimpi bertemu dengan
Kyai Hasim Ashari, pada kesempatan itu Kyai Ahmad Sidiq menanyakan ke Audiens
yang ada pada waktu itu apakah kiranya benar yang datang tersebut adalah Beliau
Kyai Hasim Ashari dan kemudian Audiens nya tadi membenarkan, selanjutnya Kyai Ahmad
Sidiq bercerita bahwa Kyai Hasim Ashari berpesan untuk menitipkan cucunya. Dan
akhirnya Gus Dur memenangkan pemilihan Ketua NU pada periode tersebut.
Mas Jazuli
menambahkan uraian oenjelasan tentang pertanyaan mas Faisol, bahwa Allah tidak
akan mengampuni hambanya sebelumorang
yang di bohongi/dicurangi mengikhlaskan kekilafan.
Acara dilanjutkan
dengan break teman-teman dari maiyah mualaf dengan melantuntan beberapa tembang
ditambah mas Fiq juga menyumbang satu lagu Jalan Sunyi
Menjelang tengah malam,
tak terasa acara harus dipuncaki oleh pesan mas Fiq bahwa kita harus melakukan
segala sesuatunya dengan ikhlas. Acara ditutup dengan doa yang diantarkan oleh
Kang Aziz.



Komentar
Posting Komentar