Selasa, 6 Juni 2017
Selepas tarawih, bersama seorang
teman saya berangkat menuju ke Base Camp Rampak Osing yang berada di Jl. Mliwis
Kota Genteng. Alhamdulillah malam ini cuaca cerah, dimana dalam awal-awal bulan
Ramadhan kemarin, hujan selalu menemani hari. Sekitar 20 menit perjalanan kami memasuki base camp
dan sudah tampak ada sekitar 15
teman-teman yang sudah jagongan dan bercengkrama sambil menikmati ngopi dan
hidangan seadanya.
Masuk sekitar 21.15 sambil menunggu teman-teman yang sebagian akan segera merapat, Mas Jazuli mengantarkan Surat Al Fatehah dumateng Kanjeng Nabi Muhammad, para sesepuh di genteng khususnya daerah Cangaan dimana Ada Mbah Abas dan Mbah Yunus yang dulu mbabat alas di Cangaan untuk mendirikan Pondok Pesantren. Tak lupa ucapan terima kasih kepada tempat yang disediakan sebagai basecamp Rampak Osing yang sudah mulai sekitar 6 pertemuan rutin diselenggarakan di sini.
Sepuluh menit berselang, para jamaah sudah mulai memenuhi tempat yang sudah di sediakan. Bahkan tampak ada yang bersama anak istri. Tak menunggu lama, acara langsung dilanjut dengan pembacaan Ayat Suci Al Qur’an oleh Mas Aris. Disambung dengan pembacaan Sholawat Mahalul Qiyam di pimpin Mas Paijo disambung lantunan Shohibu Baiti di iringi alunan musik. Dilanjutkan Wirid Maiyah secara rutin sudah sekitar 3 pertemuan sudah berjalan di bimbing oleh Mas Hadi.
Waktu sudah menunjukkan pukul
22.15 dimana mulai di beber tentang tema pada edisi ke-16 ini yaitu Pakunjaran
(penjara dalam bahasa jawa) yang sudah shared di grup facebook Lingkar Maiyah
Rampak Osing yang ditulis oleh Mas Jazuli.
Dilanjut Mas Dayat mengupas mengenai gambar yang ada dalam prolog facebook Paku + Njaran. Dimana Paku, di Blambangan ada Sunan Giri (Raden Paku) yang merupakan salah seorang Waliullah yang menyebarkan Islam di Blambangan berbasis di daerah Giri. Paku di sini adalah alat yang dapat menyatukan dua bilah kayu. Kemudian berpindah Njaran, dalam bahasa jawa biasanya diartikan menjadi jaran (kuda) atau dalam konotasinya hilang ingatan. Dari sini, mengingatkan jamaah tentang adanya Stone Hike yang ditulis dalam 5 bahasa berbeda, Mas Dayat menekankan bahwa dalam Stone Hike tersebut ada misi Depopulation program. Disini kita diingatkan tentang segala sesuatu disekitar kita yang tampaknya kelihataanya di promosikan sebagai obat tetapi sesungguhnya merupakan racun yang sudah dipersiapkan untuk melemahkan generasi bangsa kita ini. Juga kita patut waspada pada makanan ringan yang sering di konsumsi anak-anak kita.
Beralih ke P Aan. Di sini P Aan mengulas ada percakapan dengan seorang teman yang saya tangkap mungkin merupakan non muslim, bahwa dalam kurun waktu setahun memang benar harus ada saat untuk puasa sebulan. Entah itu di bulan Ramadhan atau pun di bulan lain. Puasa dalam satu bulan dalam rentang waktu setahun itu juga diyakini sang teman untuk dapat menjaga kondisi kesehatan. Berlanjut percakapaan dengan sang anak, dimana P Aan di tanya apakah benar pada bulan Ramadhan setan itu dipenjara ? Agak susah mencari jawaban untuk seorang anak disini. Tetapi kemudian itu juga bisa di konceki, bahwa mungkin manusia ini akan lebih rawan menggantikan setan kalau misalkan setan benar di penjara. Hal ini dikarenakan hawanafsu manusia sangat mungkin tidak terkontrol, khususnya pada waktu sudah berbuka. Lazimnya orang puasa akan lebih irit karena sebenarnya hawanafsu harusnya bisa lebih terkontrol, tetapi nyatanya kebanyakan manusia akan lebih boros pada bulan Ramadhan ini. Terlebih di akhir bulan Ramadhan, dimana mall-mall di penuhi manusia-manusia yang sibuk melampiaskan hawanafsunya untuk kebutuhan berpakaiannya.
Selanjutnya acara dilanjutkan oleh grup dari Maiyah Mualaf dari Srono yang memberikan beberapa tembang diawali lagu Rampak Osing, tembang wiridan tombo ati dan syiir tanpo waton.




Komentar
Posting Komentar