Langsung ke konten utama

Edisi 15 Ngrumat Hadiah



Selasa 2 mei 2017.




Base camp Rampak Osing ketika saya datang sudah ada beberapa jamaah yang sudah saling bercengkrama dan dialog antara guyon dan di selingi berbagi ilmu. Waktu masih menunjukkan pukul 19.40 ketika itu, sudah ada sedikit pemaparan dari beberapa jamaah yang saling berbagi ilmu berkaitan sejarah Blambangan dan ilmu lainnya.
Acara resmi di buka mulai jam 20.15 yang di buka oleh mas Jazuli dengan mengirim doa dan kemudian di lanjutkan pembacaan Surat Ar Rahman oleh mas Aris. Gerimis terlihat menyapa saat  pembacaan Sholawat Mahalul Qiyam di pimpin mas Paijo disambung lantunan Shohibu Baiti. Gerimis mulai terlihat reda saat Sholawat Badar mulai dilantunkan di sambung Wirid Maiyah.
Masuk pukul 21.15 mulai di beber tema yang diangkat pada Edisi ke 15 yaitu NGRUMAT HADIAH, yang sudah di share sebelumnya pada facebook Lingkar Maiyah Banyuwangi” “Rampak Osing”. Di sini mas Jazuli lebih menekankan tentang jumlah sholat yang pertama dari 50 sampai dengan 5 waktu dimana Nabi Musa as memberikan penjelasan bahwa kaum Muhammad saw akan terlalu berat apabila menjalankannya. Tetapi dibalik itu, Nabi Musa as sangat menikmati pantulan cahaya Allah yang tercermin dari Kanjeng Nabi Muhammad saw yang merupakan satu-satunya utusannya yang di izinkan langsung bertemu Allah SWT, sedangkan Nabi Musa sendiri ketika berkehendak ingin menghadap Allah, belum samapai ketemu secara langsung, bahkan dengan ciptaanNya Nabi Musa as sudah tidak kuat untuk menghadapi.
Mas Jazuli juga sedikit memaparkan tentang Kitab Maulid Al Barzanji yang di tulis oleh Syaikh Ja'far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad AlBarzanji yang dimana garis ketuurunan ayah dan ibu dan seterusnya sampai dengan Nabi Adam as merupakan manusia pilihan yang di jaga oleh Allah dan termasuk ahli surga.
Di susul kemudian pada malam hari ini mas Bahtiar yang menyampaikan bahwa sholat itu merupakan hadiah, dimana hadiah itu tidak akan diperoleh kalau kita tidak benar-benar memiliki kualifikasi yang bagus.
Selepas mas Bahtiar, Mas Tio menyampaikan pertanyaan bagaimana sholat dapat menjaga dari hal yang bathil?
Dari pertanyaan itu, Mas Barok merespon bahwasanya, mungkin umat Nabi Muhammad begitu presisi dan komplit sudah di tata oleh Allah syariatnya, bahkan dalam melakukan ibadah sholat yang tidak di temukan dalam umat-umat sebelumnya. Mengutip dari pemaparan Cak Fuad pada Padang Bulan bagaimana seseorang harus melakukan sesuatu (ibadah) dengan sungguh-sungguh, dari itu semua nantinya perilaku akan mengikuti sesudahnya.
Mas Paijo menambahkan uraian sedikit tentang sholat, dimana sholat itu bisa juga bermakna mengingat anugrah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita.
Di sambung P Aan tentnag Isro’ Mikraj dimana, Isro’ bisa diartikan semua gerakan dan rukun sholat dan Mi’raj adalah setelah sholat itu selesai dilaksanakan. Bisa dengan perilaku setelah kita menunaikan sholat itu sendiri dengan sebentar merenungi dan membacara beberapa dzikir sesudah sholat maupun dalam kehidupan bermasyarakat secara keseluruhan, itu yang mungkin saya tangkap dari uraian beliau.
Kemudian beliau juga memaparkan bahwasannya gerakan sholat itu ada 4 unsur, dimana 4 itu mewakili berdiri unsur api, rukuk angin, sujud air dan duduk untuk unsur tanah.
Malam terus bergilir untuk saling merespon maupun nambah atau menanyakan sesuatu. Giliran mas Johan menyampaikan bahwa sholat yang dilakukan di fokuskan terlebih dahulu untuk  perbuatan. Selang beberapa waktu setelah mas Johan, disusul mas Fatur menyambung antara tema pada edisi 14 Elink dengan tema edisi 15 ini kemudian menyampaikan pertanyaan apakah yang dimaksud khusuk dalam sholat? Mas Bahtiar merespon pendek dengan mengungkapkan bahwa sholat itu yang dicari adalah niat ikhlasnya dulu yang di utamakan.


Tak luput, Pak RT Abah Erwin juga sempat memberikan point tersendiri dimana yang utama dalam sholat itu adalah di bagian akhir, dimana ada janji untuk saling menyelamatkan yang terkandung dalam salam. Merespon mengenai khusuknya sholat, hal itu harusnya berada ditengah-tengah antara khusuk dan tidak, tergantung dari situasi dan kondisional yang ada pada waktu itu.



Waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 saat itu, sebuah inovasi yang muncul dari jamaah yang biasa mereka menyebut sebagai Maiyah Mualaf mempersembahkan 2 buah tembang yaitu Ilir-ilir dan Hasbunallah dengan iringan gitar tunggal. Ternyata, mereka sudah berlatih selama satu kali di H-1 ketika ada yang menyampaikan informasi tersebut. Merupakan suatu inovasi yang bagus, dimana saat keaadan diskusi sudah cukup lama, perlu adanya break dimana alunan tembang ilir-ilir dan Hasbunallah sedikit mengurai untuk menurunkan kembali konsentrasi kita dan menjaganya untuk tidak terlalu tinggi.
Selepas dua tembang lagu, mas Jazuli menambahkan pemaparan bahwasanya pada waktu perintah sholat itu turun, Nabi Muhammad sedang berada di kota Mekah yang pada saat itu sedang dalam menegakkan Tauhid La Illa Ha Ilallah. Yang mana perintah sholat itu adalah kewajiban kita sebagai umat Kanjeng Nabi Muhammad saw dan tugas kita adalah menunaikannya. Terlepas dari khusuk atau tidaknya sholat adalah urusan kedua.
Selanjutnya mas Dayat menyambung dengan menguraikan bahwa dalam sholawat tarhim Syeikh Mahmud Al-Husshari, yang biasa di lantunkan sebelum kumandang adzan sholat fardu diamana disini ditekankan pada kalimat Nilta ma nilta disini dibeberkan tentang hal yang di dapatkan oleh Rasulullah yang juga di dapatkan oleh kaumnya itu adalah sholat. Isro’ sendiri diberlakukan pada malam hari dimana malam di maknai kegelapan yang kemudian akan muncul kepada terang. Dalam perjalan isro’ Kanjeng Nabi sempat di ajak singgah di 5 tempat, Toybah yang kemudian disebut dengan Madinah, kemudian di Maydan dimana tempat itu adalah tempat Nabi Musa as pernah beristirahat dari kejaran tentara Fir’aun, kemudian di lembah Thur Sina dimana Nabi Musa as ingin berbicara/menghadap kepada Allah SWT, kemudian di Bail Lahm tempat kelahiran Nabi Isa as kemudian di lanjutkan setelahnya di  Baitul Maqdis dimana sudah berkumpul para Nabi pendahulu Beliau untuk menunaikan sholat dan Kanjeng Nabi Muhammad sebagai Imam.
Dilanjutkan perjalanan menuju Allah melewati 7 langit dimana Nabi Muhammad mendapatkan perintah sholat untuk kaumnya kemudian. Beralih ke setting ke daerah jawa pada masa itu, setelah 10 tahun kenabian Muhammad saw, ada sahabat Rasulallah yang bernama Muawiyah dimana disini beliau diperkenankan Allah untuk mengislamkan 2 orang jawa yang cukup di segani yaitu Prabu Santanu dan juga Rakrean Sancang. Disini secara filologi coba di jabarkan oleh mas Dayat bahwa antara yahudi (dulunya disebut Jews) hampir mirip dengan Jawa ( Jawa disini yang di ambil wilayah dari kerajaan majapahit pada waktu itu).
Selepas mas Dayat menyampaikan beberapa point, mas Eris merespon menanyakan bagaimana caranya sholat khusuk itu?
Disambung mas Gofar memberikan sedikit pengalaman pribadinya mengenai sholat, dimana awalnya sang pacar menanyakan pada waktu itu apakah mas Gofar sudah sholat? Agak lama berpikir, ahirnya jawaban yang dikemukakan adalah “iya ini masih belajar sholat”. Selepas dari itu mas Gofar merasa apa yang salah dari sholat saya ya, kemudian dari situ mulai mencari beberapa guru untuk mengajarkan bagaimana sholat yang benar. Tetapi dari sekian banyak guru yang mengajarinya belum mampu untuk menjawab kegelisahan seorang Gofar. Dalam keputusasaan itu kemudian ahirnya dipikirkan kembali tentang Syahadatnya, apakah syahadatnya sudah berporsoses dengan benar atau ada yang kurang, sudah tertata dengan benar atau kurang dalam hati. Dari situ di tarik kemungkinan bahwa mungkin sholatnya kurang karena cinta kita/ikhlasnya masih belum benar.
Dari cerita mas Gofar menuju ke P Aan yang menceritakan bahwa, beliau belajar sholat mulai dari SD, kemudian di wejang si mbahnya dimana setiap waktu itu ada yang nunggu. Sampai pada waktu setelah sekian lama dilakoni sholat ternyata belum ketemu yang nunggu masing-masing waktu tersebut, maka di tanyakan lagi kepada mbahnya tadi. Penjelasnya adalah, setiap manusia memiliki kapasitasnya masing-masing. Jadi mungkin ada yang tidak ketemu pada masing-masing penunggu waktu tersebut.
Melihat banyaknya respon mengenai khusuk dalam sholat, P Aan memberikan penjelasan bahwa Khusuk itu adalah sengaja menghilangkan kesadaran kita. Kalau dalam yoga itu bisa di ambil pada waktu sikap teratai/silo. Dalam waktu kita menjalankan sholat, dimana ada hitungan rakaat dan bacaan yang harus di lakukan, tidak mungkin kita menghilangkan kesadaran kita apalagi dalam posisi berdiri. Jadi khusuk menurut P Aan adalah setelah sholat selesai ditunaikan kemudian berwirid dengan khusuk.
Tak terasa perjalanan waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam tepatnya pukul 12.20 dimana P Aan juga membacakan puisi yang katanya titipan dari temannya :
Ini puisi yang dibawakan

Org yg bisa menjamin keselamatan umatnya mmg sudah lama meninggal, tp dia msh hidup.
Dialah yg mampu menunggu saat umatnya di dlm panas, dan dia mmg mau menunggu.
Saat sebagian besar umatnya sdh dingin, dia msh menunggu.
Menunggu sebagian kecil umatnya yg msh panas sampai kemudian menjadi dingin semua.
Dulu, saat dia wafat kmdn merasakan sakit dan susahnya pergi, dia minta semua rasa agar semua umatnya mudah dlm pergi.
Sebagai orang yg paling berpengaruh dimuka bumi ini menjadikan isro'nya sebagai hijrah, yg kemudian oleh umatnya hny dipandang sebagai syareat lahir yg lalu hari ini menjadi perbedaan yg tak perlu.
Sebagai orang yg paling berpengaruh dimuka bumi ini menjadikan mi'roj-nya sebagai jalan bathin utk menemui gusti yg Haq, pun... hny segelintir umat sj yg paham, dan sedikit dr itu sj yg sampai.
Ajaran dan laku lahir beliau sgt baik, bahkan terlalu baik bagi yg tdk cukup.
Ajaran dan laku bathin beliau juga sgt baik, bahkan terlalu baik bagi yg cuma bisa lahir.
Sepeninggalnya kita pun merugi, sgt merugi krn tdk selahir itu bagi bathinnya.
Hny kulit dan daging, hny lahir, hny jasad yg dijadikan besar dan berkuasa. Hingga akhirnya diperjual.
Bathin besar beliau sungguh sungguh tak terbathin dalamnya. 
Dgn bathin itu seluruh dunia hny sebiji pasir.
Dgn bathin itu kita ingin berbathin yg sama.
Agar kita bisa ber-mi'roj kpd sang Haq bersama-sama....

Selepas puisi tersebut dibawakan 2 buah tembang kolaborasi antara mas Gofar dan mas Faizol membawakan sebuah lagu Akhirnya yang di populerkan oleh grup band Gigi, disambung dengan duh gusti yang diiringi dengan gitar akustik.
Edisi 15 ini dipungkasi dengan doa memasuki hampir pukul 1 malam di pandu oleh mas Jazuli

Komentar

  1. maaf mas fibri, kayaknya kalimatnya ini ada yg terbalik.

    Kemudian beliau juga memaparkan bahwasannya gerakan sholat itu ada 4 unsur dimana 4 itu mewakili Api untuk saat kita Takbiratul ihrom/berdiri yang mana unsur ini sudah dari lahir memang ada dalam diri setiap manusia, kemudian dilanjut Rukuk yang bisa diwakili oleh angin, Sujud untuk Tanah dan duduk tahiyat untuk mewakili air.

    berdiri unsur api, rukuk angin, sujud air dan duduk untuk unsur tanah.
    mohon ditanyakan lagi ke p Aan.
    lanjut mas

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...