Langsung ke konten utama

Edisi 14 - Elink



Selasa 4 april 2017





Sekitar jam 6.30 masih ada beberapa orang di base camp rampak osing. Ketika saya dan  mas Fatur  baru  datang  untuk  membawa  karpet  sebagai  alas  pengajian.  Tak  lama  setelah  itu, beberapa teman penggiat Rampak Osing mulai datang mulai dari pak Adi Susianto, mas Wawan dan teman-teman yang lain kemudian.

Masuk pukul 17.45 ketika tempat sudah tertata di mulai dengan lantunan ayat Suci Al Quran yang di lantunkan oleh mas Rohman sambil menunggu teman-teman merapat di Base Camp. Acara dilanjutkan ke Sholawat Mahalul Qiyam, disambung Shohibu Baiti, Salawat Badar dan Wirid Maiyah.



Acara dimulai dengan mengirimkan surat Al Fatihah yang di tujukan untuk kesembuhan bapak dari mas Taufik dan kakek dari mas Moh. Husen Rogojampi. Acara dilanjutkan dengan paparan yang dikemukakan mas Jazuli   di kaitkan dengan tema BBW Kemulan Ndonyo, di wedar bahwa orang yang orientasinya materi itu letaknya dalam hati masing-masing. Belum tentu orang kaya yang berlimpah harta adalah termasuk orang yangkedonyan begitu pula orang yang kurang beruntung belum tentu juga dia tidak mempertuhankan materi, di saat ia doanya hanya berkaitan dengan materi semata.

Di sambung dengan pemaparan Pak Aan tentang tiga sandingan yang sering menjadi idola Mbah Nun ketika Maiyahan, yaitu Kopi, Ketan dan Rokok. Kopi yang di wedar sebagai ngopeni ati (mengolah rasa), ketan yang di asumsikan sebagai arah Ngetan. Yang kalau di tafsirkan lagi menjadi kerja, karena kalau menghadap ke barat di tafsirkan sebagai ibadah. Rokok di tafsirkan sebagai hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang dimana, sebelum menikmati rokok itu sendiri harus melalui proses dibakar dan asap di hisap sehingga menimbulkan kenikmatan yang disini di tafsirkan sebagai cinta.

Menginjak pukul 21.27, mas Barok menyambung masalah tentang tema Eling. Manusia diberi ingatan juga sekaligus diberi lupa. Disini juga di sampaikan tentang terciptanya masnusia di alam ini dikarenakan oleh cinta sang pencipta. Sebagai contoh Prabu Puntodewo yang memiliki sifat suci, ambeg brahmana, suka mengalah, tenang, sabar, cinta perdamaian, tidak suka marah meskipun harga dirinya diinjak-injak dan disakiti hatinya. Mengutip apa yang pernah di sampaikan Gus Sabrang, bahwasanya manusia adalah mahluk  yang  bebas,  kebiasan  dan  tempatnya berkomunitas  akan  membentuk  prilaku  kita  masing- masing. Mas Barok juga menceritakan tentang kisah seorang yang berusia lanjut yang mana cerita ini di daptkan dari temannya yang dianggap sangat kecil kemungkinan berbohong. Di kisahkan bahwa ada seorang yang mana ia tidak pernah menjalankan syariat islam, tetapi lebih banyak bersemedi/meditasi yang kebetulan juga beliau adalah orang jawa. Di akhir hayatnya, beliau sangat sulit untuk meninggal sampai suatu ketihka ada orang yang membimbing beliau untuk bersyahadad dan setelah itu beliau di panggil yang maha kuasa. Inti dari cerita kisah tersebut adalah bahwa jalan yang disediakan Allah untuk bertemu dengan Nya adalah sangat banyak kemungkinannya.

Ada respon pertanyaan tadi mas Paijo apakah Kejawen itu Islam? Yang direspon oleh mas Irawan bahwa sebenarnya dalam kejawen itu juga proses mencari Tuhan dimana sang hyang wenang yang kalau orang jawa menyebut Tuhannya. Kejawen itu juga islam tetapi dimisalkan Arupa Dhatu, kejawen itu masih belum mempunyai tutup atas.


Lanjut ke mas Dayat pada kisaran pukul 22.30 mewedar Eling. Eling itu sendiri sebenarnya adalah La Illa Ha Ilallah. Dimana letak masing–masing alfadz tadi La itu tempatnya di empedu dimana semua proses makanan dalam tubuh di olah.kemudian lanjut di Illa beralih ke Limfa dimana proses pembersihan dilakukan. Lafadz selanjutnya Ha berada di Kepala/akal yang kemudian Ilallah berada di Hati.






Mengalir di kisaran pukul 23.09 mas Gofar mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepada P Aan dimana pertanyaannya kurang lebih sebagai berikut, apakah bisa manusia ingat kepada Tuhannya?

Langsung direspon oleh P Aan dimana sesungguhnya hewan dan tumbuhan sebenarnya lebih bisa ingat kepada Tuhannya dibandingkan manusia. Hewan dan tumbuhan yang bermanfaat akan nitis menjadi manusia. Dimana kalau manusia kurang bisa mengolah rasa, maka manusia tadi tidak akan bisa ingat kepada Tuhannya.

Pada penghujung acara, di lantunkan Hasbunallah dan Duh Gusti secara bersama oleh jamaah yang ada dan di pungkasi kang Azis dengan doa pemutupnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...