Selasa 4 april
2017
Sekitar jam 6.30 masih ada beberapa orang di base camp rampak osing. Ketika saya dan mas Fatur baru datang untuk membawa karpet sebagai alas pengajian. Tak lama setelah itu, beberapa teman penggiat Rampak Osing mulai datang mulai dari pak Adi Susianto, mas Wawan dan teman-teman yang lain kemudian.
Masuk pukul 17.45 ketika tempat sudah tertata di
mulai dengan lantunan ayat Suci Al Quran yang di
lantunkan oleh mas Rohman sambil menunggu teman-teman merapat di Base Camp. Acara dilanjutkan
ke Sholawat Mahalul Qiyam,
disambung Shohibu Baiti, Salawat Badar dan
Wirid Maiyah.
Acara dimulai dengan
mengirimkan surat Al Fatihah yang di tujukan untuk kesembuhan bapak dari mas Taufik dan kakek dari mas Moh. Husen Rogojampi. Acara dilanjutkan dengan paparan yang dikemukakan mas Jazuli di kaitkan dengan tema BBW Kemulan Ndonyo, di wedar bahwa orang yang orientasinya
materi itu letaknya dalam hati masing-masing. Belum tentu orang
kaya yang berlimpah harta adalah
termasuk orang
yang “kedonyan” begitu
pula orang yang
kurang beruntung belum tentu
juga dia tidak
mempertuhankan materi, di
saat ia doanya hanya berkaitan
dengan materi semata.
Di sambung dengan pemaparan Pak Aan tentang tiga sandingan yang sering menjadi idola Mbah Nun ketika Maiyahan, yaitu Kopi, Ketan dan Rokok. Kopi yang di wedar sebagai ngopeni ati (mengolah rasa), ketan
yang di
asumsikan sebagai arah Ngetan. Yang
kalau di tafsirkan lagi menjadi kerja,
karena kalau menghadap
ke barat di
tafsirkan sebagai ibadah.
Rokok di tafsirkan sebagai hubungan
antara manusia dengan Tuhannya yang dimana, sebelum menikmati
rokok itu sendiri harus melalui proses dibakar dan
asap di hisap sehingga menimbulkan kenikmatan yang disini di tafsirkan
sebagai
cinta.
Menginjak pukul 21.27, mas Barok menyambung masalah tentang tema Eling. Manusia diberi ingatan juga sekaligus diberi lupa. Disini juga di sampaikan tentang terciptanya masnusia di alam ini dikarenakan
oleh cinta sang pencipta. Sebagai contoh Prabu Puntodewo yang memiliki sifat suci, ambeg brahmana, suka
mengalah, tenang, sabar, cinta perdamaian, tidak suka marah
meskipun harga dirinya diinjak-injak dan
disakiti hatinya. Mengutip apa yang pernah di sampaikan Gus Sabrang, bahwasanya
manusia adalah mahluk
yang bebas,
kebiasan
dan tempatnya berkomunitas akan
membentuk
prilaku
kita
masing- masing. Mas Barok juga menceritakan tentang
kisah seorang yang berusia lanjut yang mana cerita ini di
daptkan dari temannya yang dianggap sangat kecil kemungkinan berbohong.
Di kisahkan bahwa ada
seorang
yang
mana ia tidak pernah menjalankan
syariat islam, tetapi lebih banyak bersemedi/meditasi
yang kebetulan juga beliau adalah orang jawa. Di akhir hayatnya, beliau sangat sulit untuk meninggal sampai suatu ketihka ada orang yang
membimbing beliau untuk bersyahadad dan setelah itu beliau di
panggil yang maha kuasa. Inti dari cerita kisah tersebut adalah bahwa jalan yang disediakan Allah
untuk bertemu dengan Nya adalah sangat banyak kemungkinannya.
Ada respon pertanyaan tadi mas Paijo apakah Kejawen itu Islam? Yang direspon oleh mas Irawan
bahwa sebenarnya
dalam kejawen itu juga
proses mencari
Tuhan dimana sang hyang wenang yang kalau orang jawa menyebut Tuhannya. Kejawen itu juga islam tetapi dimisalkan Arupa Dhatu, kejawen itu
masih belum mempunyai tutup atas.
Lanjut ke mas Dayat pada kisaran pukul 22.30 mewedar Eling. Eling itu sendiri sebenarnya adalah La
Illa Ha Ilallah. Dimana letak masing–masing alfadz tadi La itu tempatnya di empedu dimana semua proses makanan dalam tubuh di olah.kemudian lanjut di Illa beralih
ke Limfa dimana proses pembersihan
dilakukan. Lafadz selanjutnya Ha
berada di Kepala/akal yang kemudian Ilallah berada di Hati.
Mengalir di kisaran pukul
23.09 mas Gofar mengajukan pertanyaan yang ditujukan kepada P Aan dimana
pertanyaannya kurang lebih sebagai
berikut, “apakah bisa
manusia
ingat kepada Tuhannya?”
Langsung direspon oleh P Aan dimana sesungguhnya hewan dan tumbuhan sebenarnya lebih bisa ingat
kepada Tuhannya dibandingkan manusia. Hewan dan tumbuhan yang bermanfaat akan
nitis menjadi manusia. Dimana kalau
manusia kurang bisa mengolah rasa, maka manusia
tadi tidak akan bisa ingat kepada
Tuhannya.
Pada penghujung acara,
di lantunkan Hasbunallah dan Duh Gusti secara bersama oleh jamaah yang ada
dan
di pungkasi kang Azis
dengan doa
pemutupnya



Komentar
Posting Komentar