Langsung ke konten utama

Edisi 13 - Sederhana

14 Maret 2017








KESEDERHANAAN
Sajak Sederhana Untuk-MU
Ingin selalu kepersembahnkan kepada-Mu
sajak-sajak sederhana
pikiran-pikiran yang sederhana
perasaan-perasaan dan hasrat yang sederhana..
Sebab hidup ini pun sederhana saja
aku dilahirkan secara sederhana
dari rahim ibuku yang sederhana
dari rahim Iradat-Mu yang sederhana..
Doaku kepada-Mu ialah
agar Kau bantu aku
di dalam memenangkan pertarungan
melawan segala kesia-siaan..
Terima kasih bahwa aku merasa jijik
terhadap cita-cita dunia yang muluk
dan senantiasa berusaha mengurangi
semangat terhadap yang serba gemerlapan..
Kau lepaskan Adam ke bumi
beserta anak turunnya
aku tahu itu untuk menguji
apakah ia dewasa memahami kemerdekaannya..
Jika nanti aku selesai
menjalani tugas ini
kuharap mulutku tidak kelu
ketika mengucap nama-Mu..
Tuhan, ambillah aku
sewaktu-waktu
kematianku hendaknya sederhana saja
orang-orang menguburku hendaknya juga dengan sederhana saja
(Emha Ainun Nadjib)
*****
"Khoirul umur awsathuha", dawuh Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Sebaik-baik perkara adalah yang sedang-sedang saja. Dalam bahasa kita biasa kita kenal 'sederhana'. Sederhana berbeda dengan menyederhanakan, meski pada esensinya keduanya sangat berhubungan. Sederhana itu tidak berbelit-belit, sementara menyederhanakan adalah membuat sesuatu yang berat menjadi ringan.
"Hidup sudah susah, jangan dibikin susah." Jargon ini sangat sering kita dengar di masyarakat. Ya, memang jika kita terbiasa memperumit hidup yang sudah rumit ini maka ila yaumil akhir pun kita akan sulit mendefinisikan kebahagiaan.
Sebagai guru dan orang tua, Mbah Nun sering mengajarkan kepada kita, anak-cucu dan murid beliau agar menjalani hidup ini sederhana saja asal tidak kehilangan jati diri. Jangan melihat sesuatu melebihi fungsinya, maka kau tidak akan diperbudak oleh apa pun.
Ketika kita membeli baju dengan harga Rp. 300.000, lalu kita hanya mengenakannya pada momen-momen tertentu karena harganya mahal, maka sebenarnya kita sudah diperbudak oleh benda. Dan manusia tipe seperti ini adalah sasaran empuk kapitalisme. Kita bekerja keras siang malam untuk mengumpulkan uang 30jt agar bisa membeli motor dengan merk tertentu lalu kita menjaganya siang malam dan hanya mengendarainya saat menuju tempat atau acara tertentu, sementara untuk rutinitas sehari-hari kita menggunakan motor yang harganya 10jutaan, maka saat itu kita telah jatuh kedalam perangkap kapitalisme dan diperbudak oleh buah-buah kapitalisasi.
Bermaiyah salah satunya adalah belajar menjadi manusia yang berdaulat pada diri sendiri. Kita tidak mungkin mampu merubah dunia sementara terhadap keinginan-keinginan sendiri saja kita tidak berdaulat. Mulailah dari hal yang sederhana, jalani dengan kesederhanaan. Maka ketika pola hidup sederhana itu sudah membumi, dengan sendirinya nilai-nilai kapitalisme pelan-pelan akan tergerus dari gaya hidup kita. Dan saat itulah mimpi kita mendobrak hegemoni kapitalisme menjadi niscaya untuk terwujud.
Mbah Nun sudah mengajarkan kita kesederhanaan dan bagaimana menyederhanakan. Jika kita bisa menyerap esensinya lalu pelan-pelan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita, kita akan mengerti makna kalimat unik dari Gus Dur yang begitu terkenal "gitu aja kok repot!"




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Edisi 37 Sendang kahuripan

Menjelang pukul 20.00 sederek sudah mulai banyak yang hadir untuk sinau bareng. Sejenak setelahnya, Mas Yongki mulai memoderatori acara untuk mengalirkan acara sinau bareng pada malam hari itu. Di sambung Mas Wawan membacakan Prolog sinau pada edisi 37 dengan tema Sendang Kahuripan sekaligus sedikit mbeber kloso untuk bahan diskusi. Ada sedikit rasa penasaran melihat gambar poster dan prolog yang sudah di share di media sosial tersebut. Untuk itu ada waktu yang tersedia untuk mengutarakan rasa penasaran tersebut. Merespon pertanyaan yang saya lontarkan, Mas Gofar sedikit menjelaskan sendang itu adalah seperti sumber air yang menampung air yang biasa dipakai untuk mandi dan kegiatan lain cukup untuk beberapa orang. Mengenai teratai, disini adalah tanaman yang bersentuhan langsung dengan air untuk kelangsungan hidupnya. Menarik juga dari perjalanan yang beberapa Minggu lalu sempat diperjalankan ke Jogja dan langsung menuju candi Borobudur. Memperhaikan relief yang terda...

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta

Edisi 38 Merangkai cinta untuk semesta 16 April 2019 Di Basecamp Rampak Osing Menjelang magrib, di base camp Rampak Osing sudah di persiapkan segala sesuatunya berkenaan dengan acara melingkar pada malam hari itu. Tatanan karpet, sound untuk berdiskusi dan ubo rampe yang sudah menyertai beberapa dulur-dulur penggiat sudah memulai obrolan dan diskusi ringan baik terkait dengan tema maupun hal-hal lainnya. Menjelang Isyak, beberapa penggiat yang sudah melingkar mulai memberikan sentuhan pada alat musik yang juga ikut mengiringi acara sinau bareng pada malam hari itu. Dengan lagu baik lagu Indonesia, Barat, maupun nuansa Jawa dan arab terdengar menghangatkan suasana pada malam hari itu. Selepas pukul 20.00, beberapa dulur-dulur penggiat yang sudah hadir mempersiapkan untuk memulai acara terlebih dahulu dengan bertawasul kepada Kanjeng Nabi serta Guru dan segenap sesepuh dan mengirimkan doa dan hadiah fatehah. Selama sekitar setengah jam, kemudian agar sedikit lebih santai,...

Edisi 27 Al Ngadatul Muhakamah

12 Mei 2018 Alhamdulillah, sudah waktunya melingkar untuk bulan ini. Cuaca yang cerah sore hari itu, sedikit saya memastikan kehadiran beberapa sedulur dan kesiapan dalam acara yang pada bulan ini bertempat di Pondok Pesantren Hubburridlo Dusun Sukolilo Desa Barurejo Kecamatan Siliragung Banyuwangi. Bertepatan dengan Tasyakuran yang di adakan Pondok asuhan Romo Kyai Muksin yang mengadakan acara tasyakuran Khataman Kitab Ihya’ Ulumudin ke 4 dan Tafsir Jalalen yang ke 5, acara Maiyah malam hari itu di gelar di halanab depan Ndalem   Kyai Muksin. Rangkaian acara sebenarnya sudah berjalan pada hari ke 3 untuk malm hari itu, diawali denga pagelaran wayang kulit kemudian hari kedua ada pentas hiburan rakyat berupa orkes dan hari ketiga diawali dengan pagelan jaranan pada siang hari kemudian acara puncak tasyakuran digelar sinau bareng. Dimana pada malam hari itu Pak Ilyas yang merupakan salah satu Dosen dari Salatiga Jawa Tengah yang aktif pada Lingkar Kidung Syafaat, ma...