Langsung ke konten utama

Edisi 33 Persembahan dari surga



Musim telah berganti penghujan, bertepatan malam hari ini kita melingkar rutinan di base camp Rampak Osing. Hujan yang menemani mulai siang yang setia hingga acara mulai hingga hamper menjelang acara rutinan di tutup doa baru sedikit reda.

Beberapa sudah melingkar di base camp selepas magrib, kebetulan saya bisa menyempatkan datang sebelum magrib. Sudah tampak beberapa dulur-dulur gayeng sambil mengobrol dan melantunkan beberapa tembang dengan alat musik yang malam hari ini ada.

Beranjak sekitar pukul 20.30 acara resmi di mulai, diawali dengan shalawat indal qiyam , shohibu baiti wirid sebagai pembuka acara secara resmi dimulai. Dalam rutinan yang ke 33 bulan November ini mengangkat tema “Persembahan dari surga”. Yang diangkat dari syair lagu dari Dewa yang menyadur dari puisi Khahlil Gibran. Dimana bercerita sekilas tentang bulan yang kemudin di sebut dengan bulan gajah, karena pada bulan itu pasukan gajah yang sedianya bermaksud menghncurkan ka’bah dan tidak berhasil karena didatangkan bantuan Burung Ababil yang membawa batu neraka yang meluluhlntakkan pasukan gajah tersebut. Dimana bulan ini juga, Kanjeng Nabi terlahir secara jasadiyah lewat ibu Aminah Binti Wahab dengan ayah Abdullah bin Abdul Muththalib.

Dipandu oleh mas Faisol acara bergulir dengan beberapa pengantar tentang tema yang di bawa pada malam itu. Di sambung dengan mas Bahtiar yang mencoba mengganggu tentang apa itu surge, apakah persembahan itu berawal dari sembah.
Disambung pak Aan sedikit membuka wacana tentang tema, yang mana pada tradisi di Banyuwangi ini setiap bulan Maulid selalu ramai dengan perayaan yang dibarengi dengan perayaan “kembang ndok”. Dimaknai pak Aan disini bahwa persembahan dari surga itu telur adalah sudah tepat, karena telur pada akhirnya di proses oleh sang ibu untuk menjadi keturunan-keturunan baru. Disini sekaligus sudah bisa membuka pertanyaan dari mas Bahtiar.

Disambung mas Indra mewedar lagi bahwa semua yang ada buat kita ini adalah persembahan dari urga, ada gorengan rokok dan apapun itu merupakan persembahan dari surga. Mengenai telur, diwedar tentang 4 lapisan telur dan ditambhkan juga bahwa secara biologi di tengah-tengah telur itu ada inti dari telur itu yang sebut disebut embrio yang di hubungkan oleh benang yang dinamakan Collage berfungsi menyambungkan dari seluruh lapisan 4 tadi pada intinya.
Mas Wawan menambahkan bahwa surga itu sebenarnya merupakan apa yang ada di pikiran kita. Bisa berkumpul sharing dang sinau bareng itu juga bentuk surga. Karena manusia pertama dan kedua diciptakan di surga.

Mas Taufik menambahkan sejarah singkat tentang tradisi Ndok-ndokan yang ada di Banyuwangi ini pada awalnya dari Pondok Pesantren Al Kouf  yang di asuh oleh Kyai Cemoro Mbah Abdullah Fakih  yang wafat pada tahun 1953 menggunakan telur bebek, bebek disini dimaksudkan bahwa  bebek itu mudah untuk diatur dan selalu rapi. Tradisi ini awalnya berjalan di pondok, kemudian para santrinya membawa tradisi ini sehingga meluas sampai ke seluruh Banyuwangi. Mbah Abdullah Fakih ini secara keturunan ketujuh masih nyambung dengan Prabu Tawang Alun. Secara visual, telur saja kurang bagus maka diberikan hiasan-hiasan.
Acara dilanjutkan break dengan beberapa lagu yang terkait tema juga, sambil santai juga kebetulan malam hari itu ada nasi kuning yang bisa dinikmati dengan telur yang kita buat untuk perayaan menyambut peringatan Lahirnya junjungan kita.

Di pungkasi pak Aan dengan sebuah puisi dan doa pada kisaran pukul 12.25

PERSEMBAHAN DARI SURGA
Bulan yg mulia ini setiap tahun aq peringati.
Berharap aq lebih bermaulid dari pada tahun-tahun sebelumnya.
Berharap maulidmu didalamku.

Jasadmu mungkin sudah hancur saat ini,
Tapi ruh mu masih kemana-mana, masih dimana-mana, terpencar bak sinar.

Jikalau Sang Hyang Ismoyo pernah berkata.
Mbegegeg ugeg ugeg, mel mel sadulito.
Maka dengan nur mu, nur yg ada di sang semar ini.
Kalimat itu pun terbalik... Mel melo mung sadulit, ben ora ugeg ugeg anggonmu mbegegeg lungguh manjing marang ngersaning Gusti.

Ah, jikalau ragamu masih hidup, tentu tak sesulit ini membuka tabir rahasianya Gusti.
Tapi Gusti lebih memilih menebar nur mu di seluruh bumi, agar lebih dalam lagi dalamnya.

Jika Aku Rindu Padamu dan yang bisa aku lakukan hanya melihat bayanganmu
kemudian berbatin rindu karena selalu mengingatmu
Yaa Rasulullah.
Maka aq akan selalu jauh darimu.

Kemudian aq belajar lagi...
Jika Separuh Aku adalah kau Yaa Rasulullah,
yang selalu menemaniku dlm rasa suka dan dukaku, lalu...
Bukan, bukan itu mauku.
Itu malah akan melecehkanmu, merendahkanmu.
Tugasmu hanya mendidik, mengajar, dan menunjukkan pintuku.
Agar aku bisa memasukinya, sama seperti yang pernah kau lakukan dulu.

Lalu apa dan siapa Persembahan Dari Surga itu?
Lahirku soko Pangeran Katon Bopo lan Biyungku.
Bathinku soko Kun Fayakun e Gusti Allah.
Rasa rinduku ternyata adalah hidayahku kepada kedua orangtuaku, kpd Rasulullahku, kpd Gusti Ingkang Moho Agung.
Separuhku ternyata kedua orangtuaku yang telah melahirkanku.
Separuhku ternyata Baginda Rasulku.
Dan separuhku ternyata jg Gusti Ingkang Moho Kuoso.

Yaa Allah, Yaa Rabb.
Kami yang berkumpul disini, ijinkan setiap tarikan napas kami ini menjadi lantaran membesarnya nur Muhammad dalam diri kami.
Masukkan sifat-sifat bagus beliau, masukkan kerendahan hati beliau dan masukkan iman beliau dalam tubuh kami.
Sehingga kami akan selalu bermaulid dan bersahadat seperti beliau.
'ana Ahmad bila mim dan 'ana arabun bila 'ain...

Bismillahirahmaanirrahiim...
Mungkin inilah persembahan dari surgaMu.
Kedua orangtuaku, baginda Rasulku, dan aku dan semua saudara"ku.
Ya... Persembahan dari surga...
Tempat yang akan kusebut setelah mengenal nerakaMu...
Saatnya nanti gusti, ijinkan kami berkumpul dengan wajah yangg penuh dengan nurMu. Amiin....

(ARD-Rampak Osing, 26 Nopember 2018)


Komentar