Musim telah berganti penghujan,
bertepatan malam hari ini kita melingkar rutinan di base camp Rampak Osing.
Hujan yang menemani mulai siang yang setia hingga acara mulai hingga hamper
menjelang acara rutinan di tutup doa baru sedikit reda.
Beberapa sudah melingkar di base camp
selepas magrib, kebetulan saya bisa menyempatkan datang sebelum magrib. Sudah
tampak beberapa dulur-dulur gayeng sambil mengobrol dan melantunkan beberapa
tembang dengan alat musik yang malam hari ini ada.
Beranjak sekitar pukul 20.30 acara
resmi di mulai, diawali dengan shalawat indal qiyam , shohibu baiti wirid
sebagai pembuka acara secara resmi dimulai. Dalam rutinan yang ke 33 bulan
November ini mengangkat tema “Persembahan dari surga”. Yang diangkat dari syair
lagu dari Dewa yang menyadur dari puisi Khahlil Gibran. Dimana bercerita
sekilas tentang bulan yang kemudin di sebut dengan bulan gajah, karena pada
bulan itu pasukan gajah yang sedianya bermaksud menghncurkan ka’bah dan tidak berhasil
karena didatangkan bantuan Burung Ababil yang membawa batu neraka yang
meluluhlntakkan pasukan gajah tersebut. Dimana bulan ini juga, Kanjeng Nabi
terlahir secara jasadiyah lewat ibu Aminah Binti Wahab dengan ayah Abdullah bin Abdul Muththalib.
Dipandu oleh mas Faisol acara bergulir
dengan beberapa pengantar tentang tema yang di bawa pada malam itu. Di sambung
dengan mas Bahtiar yang mencoba mengganggu tentang apa itu surge, apakah
persembahan itu berawal dari sembah.
Disambung pak Aan sedikit membuka
wacana tentang tema, yang mana pada tradisi di Banyuwangi ini setiap bulan
Maulid selalu ramai dengan perayaan yang dibarengi dengan perayaan “kembang
ndok”. Dimaknai pak Aan disini bahwa persembahan dari surga itu telur adalah
sudah tepat, karena telur pada akhirnya di proses oleh sang ibu untuk menjadi
keturunan-keturunan baru. Disini sekaligus sudah bisa membuka pertanyaan dari
mas Bahtiar.
Disambung mas Indra mewedar lagi bahwa
semua yang ada buat kita ini adalah persembahan dari urga, ada gorengan rokok
dan apapun itu merupakan persembahan dari surga. Mengenai telur, diwedar
tentang 4 lapisan telur dan ditambhkan juga bahwa secara biologi di
tengah-tengah telur itu ada inti dari telur itu yang sebut disebut embrio yang
di hubungkan oleh benang yang dinamakan Collage berfungsi menyambungkan dari
seluruh lapisan 4 tadi pada intinya.
Mas Wawan menambahkan bahwa surga itu
sebenarnya merupakan apa yang ada di pikiran kita. Bisa berkumpul sharing dang
sinau bareng itu juga bentuk surga. Karena manusia pertama dan kedua diciptakan
di surga.
Mas Taufik menambahkan sejarah singkat
tentang tradisi Ndok-ndokan yang ada di Banyuwangi ini pada awalnya dari Pondok
Pesantren Al Kouf yang di asuh oleh Kyai
Cemoro Mbah Abdullah Fakih yang wafat
pada tahun 1953 menggunakan telur bebek, bebek disini dimaksudkan bahwa bebek itu mudah untuk diatur dan selalu rapi.
Tradisi ini awalnya berjalan di pondok, kemudian para santrinya membawa tradisi
ini sehingga meluas sampai ke seluruh Banyuwangi. Mbah Abdullah Fakih ini secara
keturunan ketujuh masih nyambung dengan Prabu Tawang Alun. Secara visual, telur
saja kurang bagus maka diberikan hiasan-hiasan.
Acara dilanjutkan break dengan
beberapa lagu yang terkait tema juga, sambil santai juga kebetulan malam hari
itu ada nasi kuning yang bisa dinikmati dengan telur yang kita buat untuk
perayaan menyambut peringatan Lahirnya junjungan kita.
Di pungkasi pak Aan dengan sebuah
puisi dan doa pada kisaran pukul 12.25
PERSEMBAHAN DARI SURGA
Bulan yg
mulia ini setiap tahun aq peringati.
Berharap
aq lebih bermaulid dari pada tahun-tahun sebelumnya.
Berharap
maulidmu didalamku.
Jasadmu
mungkin sudah hancur saat ini,
Tapi ruh
mu masih kemana-mana, masih dimana-mana, terpencar bak sinar.
Jikalau
Sang Hyang Ismoyo pernah berkata.
Mbegegeg
ugeg ugeg, mel mel sadulito.
Maka
dengan nur mu, nur yg ada di sang semar ini.
Kalimat
itu pun terbalik... Mel melo mung sadulit, ben ora ugeg ugeg anggonmu mbegegeg
lungguh manjing marang ngersaning Gusti.
Ah,
jikalau ragamu masih hidup, tentu tak sesulit ini membuka tabir rahasianya
Gusti.
Tapi Gusti
lebih memilih menebar nur mu di seluruh bumi, agar lebih dalam lagi dalamnya.
Jika Aku
Rindu Padamu dan yang bisa aku lakukan hanya melihat bayanganmu
kemudian
berbatin rindu karena selalu mengingatmu
Yaa
Rasulullah.
Maka aq
akan selalu jauh darimu.
Kemudian
aq belajar lagi...
Jika
Separuh Aku adalah kau Yaa Rasulullah,
yang
selalu menemaniku dlm rasa suka dan dukaku, lalu...
Bukan,
bukan itu mauku.
Itu malah
akan melecehkanmu, merendahkanmu.
Tugasmu
hanya mendidik, mengajar, dan menunjukkan pintuku.
Agar aku
bisa memasukinya, sama seperti yang pernah kau lakukan dulu.
Lalu apa
dan siapa Persembahan Dari Surga itu?
Lahirku
soko Pangeran Katon Bopo lan Biyungku.
Bathinku soko
Kun Fayakun e Gusti Allah.
Rasa
rinduku ternyata adalah hidayahku kepada kedua orangtuaku, kpd Rasulullahku,
kpd Gusti Ingkang Moho Agung.
Separuhku
ternyata kedua orangtuaku yang telah melahirkanku.
Separuhku
ternyata Baginda Rasulku.
Dan separuhku
ternyata jg Gusti Ingkang Moho Kuoso.
Yaa Allah,
Yaa Rabb.
Kami yang
berkumpul disini, ijinkan setiap tarikan napas kami ini menjadi lantaran
membesarnya nur Muhammad dalam diri kami.
Masukkan
sifat-sifat bagus beliau, masukkan kerendahan hati beliau dan masukkan iman
beliau dalam tubuh kami.
Sehingga
kami akan selalu bermaulid dan bersahadat seperti beliau.
'ana Ahmad
bila mim dan 'ana arabun bila 'ain...
Bismillahirahmaanirrahiim...
Mungkin
inilah persembahan dari surgaMu.
Kedua
orangtuaku, baginda Rasulku, dan aku dan semua saudara"ku.
Ya...
Persembahan dari surga...
Tempat yang akan kusebut setelah mengenal nerakaMu...
Saatnya
nanti gusti, ijinkan kami berkumpul dengan wajah yangg penuh dengan nurMu. Amiin....
(ARD-Rampak
Osing, 26 Nopember 2018)




Komentar
Posting Komentar