Edisi 32
Katon Bagaskara
Dalam Edisi 32 ini kembali melingkar bersama
saudara-saudara di base camp Rampak Osing di SMP Harapan Jl. Mliwis No 29
Genteng. Di awali dengan Sholawat Indal Qiyam dan rangkaian pebacaan wirid
serta Shalawat Badar.
Acara di awali dengan pembacaan prolog dan mbeber
kloso oleh mas Yongki yang juga memoderatori dalam sinau malam hari itu, memberikan
gambaran tentang hal yang diangkat pada pembahasan diskusi malam hari itu.
Gagasan untuk tema pada malam hari itu sebenarnya
adalah mendiskusikan tentang beberapa tulisan Syech Nursamad Kamba tentang Kids
Jaman Now menemukan kembali Islam. Meskipun tidak menutup kemungkinan bisa
berdikusi untuk hal-hal lain di luar tema yang disediakan. Beberapa point
tulisan yang sudah di rilis tentang buku tersebut sudah banyak tersebar di IG
Sedulur Maiyah baik melalui IG resmi lingkar maupun perseorangan. Sedikit
banyak point tulisan buku ini sudah banyak sekali di pelajari di sinau bareng.
Saya sendiri belum tuntas dalam membaca tulisan buku tersebut, dan belum bisa
membaca banyak point-point yang disampaikan dalam buku tersebut.
Mass Taufik memberikan tambahan dengan membuka
bahwa Katon adalah kelihatan berarti berkaitan dengan mata, dan Bagaskara
adalah cahaya. Mata adalah kesempurnaan manusia, segala keindahan akan di
tampakan oleh mata. Kesadaran pada hari ini sudah sampai alam kesadaran Nano
yang mana tidak bisa dilihat kasat mata. Contoh yang sudah di teliti adalah
molekul air untuk menyembuhkan (di suwuk dalam bahasa jawa) yang mana dalam
metode ilmiah sekarang juga bisa dibuktikan bisa juga sebagai sarana untuk
menyembuhkan seseorang. Ditambahkan juga, bahwa kepekaan dari dalam diri pada hal sekitar juga akan membawa kita
berproses menuju kebaikan.
Pak Aan, membeikan gambaran jika manusia di lepas
di hutan dan kemudian bertemu dengan orang-orang yang punya informasi tetapi
dimaterialistiskan dengan uang untuk memperolehnya. Apakah mampu seorang
tersebut mencapai tujuan tanpa melewati informasi pada orang-orang yang
memiliki informasi tadi tersebut ? ada
pengalaman Pak Aan tentang seorang temannya pernah menyampaikan, bahwa orang
nanti kalau sudah belajar, papaun agmanya, dan kemudian menyamai dengan
guru/musrsyid/kyai atau apapun dan bertahap akan melangkah ke frekwensi
Ilahi/Tuhan itu nanti akan ada 3 hal.
Yang pertama perjalanan dari Tuhan, perjalanan kepada Tuhan dan perjalanan di
dalam Tuhan. Karena Pak Aan sendiri belum pernah juga membaca buku Kids Jaman
Now tersebut, maka beliau juga tidak bisa ikut ngonceki isi dari buku tersebut.
Mengambil kata Ulama, menyitir hadist ‘al-ulama waratsatul anbiya' yang berarti ulama adalah pewaris para Nabi. Dimana
Al Ulama disini bersifat makrifah. Sebagi fotokopi, meskipun yang sudah
kesekian, harus ada hal yang sama seperti yang di contoh/copy. Rasulullah
merupakan orang yang terkaya dan sekaligus termiskin. Mempunyai sifat Sidiq,
Amanah, Tabligh dan Fathonah. Sifat-sifat tersebut itulah yang harusnya menjadi
teladan kita dan khusunya Ulama. Begitu apa yang dipaprkan oleh Mas Rahmat.
Ada beberapa paparan dari Mas Paijo, kalau
kita mencari Tuhanniscaya kita tak akan pernah dapat menemukannya. Tetapi jika
ada yang menyampaikan ada orang yang bertemu tuhan, sudah jelas bahwa orang itu
berbohong. Yang ditekankan Mas Paijo adalah kita harusnya menjadi manusia yang
sedang-sedang, waktunya bekerja ya bekerja dan waktunya ngopi ya ngopi.
Munculnya pemahaman yang tidak mendasar pada
para ulama, karena ulama yang dimaksut jamn sekarang sudah ada penurunan makna
pada umumnya. Ulama pada jaman dulu adalah yang ahli melakukan sesuatu, bisa
seorang ilmuan, pekerja atau apapun yang terampil dalam bidangnya. Di sini Kids
jaman now harus kembali menemukan sambungan apa arti ulama kemudian bisa
mencoba mengembalikan maknanya. Cara termudah, adalah ngastiti dalam segala
hal, jangan terlalu taklid terhadap segala yang di ucapkan orang lain. Begitu apa yang di sampaikan Mas Rohim.masih
banyak diskusi lain yang disampaikan disini baik menyangkut tema maupun di luar
tema. Edisi 32 ini berlangsung sampai dengan kisaran jam 12 malam.
Pada malam itu ditutup diskui
rutinan secara formal dengan doa. Berlanjut pada diskusi kecil beberapa orang,
dimana beberapa yang lain harus meninggalkan tempat melingkar untuk kembali
kerumah masing-masing.






Komentar
Posting Komentar