7 Februari 2017
Dalam
menjalani kehidupan seringkali kita mengalami kegalauan baik dengan
diri sendiri maupun ketika bersinggungan dengan orang lain. Mungkin
penyebabnya adalah karena kita belum sepenuhnya memahami kesejatian diri
kita apalagi saat memandang orang lain yang hanya tampak secara luar.
Maka salah tompo antar personal saat berkomunikasi dalam kehidupan
seringkali terjadi.
Jamaah Maiyah yg berasal dari berbagai latar belakang kehidupan, ingin menjadi manusia yang pantas disebut manusia. Dengan bermaiyah pun Jamaah Maiyah berangkat dengan alasan yang sama, bahwa dengan bermaiyah kita belajar noto laku, membenahi diri agar menjadi baik dan bermanfaat bagi kehidupan.
Apa yang kita tapaki dalam derap langkah satu tahun ini, semata sedang belajar, noto laku, memantaskan diri untuk disebut sebagai manusia. Manusia yang beradab dan berbudaya adiluhung. Manusia yang bermartabat dan memiliki harga diri.
Disinilah Rasulullah saw diutus, "li'utammima makaarimal akhlaq", untuk menyempurnakan akhlak agar seorang AKU bisa memiliki LAKU dan ber-PERILAKU yang selanjutnya menjadi ALELAKU. Meniru Rasulullah saw, karena hanya pada beliaulah "qad kaana lakum, fii rasulillahi uswatun hasanah".
Orang jawa tanpa islam bisa beradab, sedangkan orang islam tanpa adat budaya jawa kurang sempurna. Islam dan jawa berkaitan dan berhubungan erat. Maka NOTO LAKU sosial kemasyarakatan kita elok dengan tidak meninggalkan kejawaan kita.
Ini bukan masalah Jawasentris, atau Islam Jawa, Islam Arab, Kejawen, atau yang lain. Tapi bagaimana Tradisi dan Adat budaya Jawa terserap dalam nilai-nilai keislaman yang kita jalani sehari-hari.
NOTO LAKU dengan budaya jawa pada bingkai keislaman dan keindonesiaan dalam jalan sunyi bermaiyah.
Jamaah Maiyah yg berasal dari berbagai latar belakang kehidupan, ingin menjadi manusia yang pantas disebut manusia. Dengan bermaiyah pun Jamaah Maiyah berangkat dengan alasan yang sama, bahwa dengan bermaiyah kita belajar noto laku, membenahi diri agar menjadi baik dan bermanfaat bagi kehidupan.
Apa yang kita tapaki dalam derap langkah satu tahun ini, semata sedang belajar, noto laku, memantaskan diri untuk disebut sebagai manusia. Manusia yang beradab dan berbudaya adiluhung. Manusia yang bermartabat dan memiliki harga diri.
Disinilah Rasulullah saw diutus, "li'utammima makaarimal akhlaq", untuk menyempurnakan akhlak agar seorang AKU bisa memiliki LAKU dan ber-PERILAKU yang selanjutnya menjadi ALELAKU. Meniru Rasulullah saw, karena hanya pada beliaulah "qad kaana lakum, fii rasulillahi uswatun hasanah".
Orang jawa tanpa islam bisa beradab, sedangkan orang islam tanpa adat budaya jawa kurang sempurna. Islam dan jawa berkaitan dan berhubungan erat. Maka NOTO LAKU sosial kemasyarakatan kita elok dengan tidak meninggalkan kejawaan kita.
Ini bukan masalah Jawasentris, atau Islam Jawa, Islam Arab, Kejawen, atau yang lain. Tapi bagaimana Tradisi dan Adat budaya Jawa terserap dalam nilai-nilai keislaman yang kita jalani sehari-hari.
NOTO LAKU dengan budaya jawa pada bingkai keislaman dan keindonesiaan dalam jalan sunyi bermaiyah.




Komentar
Posting Komentar